"Harpa!" panggil Adras. Dia tarik lengan istrinya sebelum Harpa menutup pintu kamar. Harpa menunduk menyembunyikan wajah. "Aku minta maaf. Bisa kamu gak perlu dengarkan ucapan Okna? Ayolah, kamu mana pernah galau sama hinaan orang? Mana Harpa yang dulu?" tegur Adras. Harpa memeluk suaminya. "Habis kamu gak bicara sama aku beberapa hari. Kamu juga gak tidur di kamar. Aku pikir kamu benar benci sama aku," ungkap Harpa. Adras balas memeluk istrinya. "Kamu ingat waktu Papa kamu meninggal? Sedih?" tanya Adras. Harpa mengangguk. "Berapa lama kamu gak bicara sama orang lain?" Harpa berpikir lama. Dia mengunci diri, menjauhi dunia luar dan menyesali kehidupan. "Lama," jawab Harpa dengan nada lirih. "Kamu mau tidak kehilangan Bi Melia?" Adras mengubah pertanyaan. Harpa dengan jelas menggelengka

