88. Pagi berkabut

1523 Kata

Harpa beringsut. Dia sandarkan kepala di bahu Adras. "Aku gak tahu harus bilang apa. Aku bingung," ucapnya. "Karena?" Adras menempelkan kepala ke puncak kepala Harpa. Wanita di samping Adras itu mengangkat kedua bahu. "Terus kalau tahu aku masih sayang sama kamu, kenapa diam saja?" tanya Harpa. Dia memeluk lengan Adras. "Saya bisa apa? Saya pikir Tuan Chaldan benar. Anda harus mendapatkan pria yang lebih pantas dan saya juga harus membuat Papa saya senang dengan menikahi Okna. Walau saya hanya bisa mencintai seseorang dengan cara melihatnya dari kejauhan," ungkap Adras. Harpa menggelengkan kepala. Dia mengangkat kepala dan melepas pelukan di sikut Adras. Mata Harpa dan Adras kini bertemu. Tangannya memegang rahang sang suami. "Andai kalau aku tahu, aku gak akan biarin kamu menderita se

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN