Papa dan mama rara pun menjumpai doker di ruangannya
“dokter….bagaimana keadaan anak saya saat ini?”
“alhamdulillah dengan keputusan ,..tunangannya anak bapak dan ibu, untuk segera melakukan operasi,..akhirnya nyawa anak bapak dan ibu dapat segera tertolong, dan alhamdulillah berkat doa tunangannya itu pula operasi berjalan sangat lancar”
“apa tunangan dok?”
“ia pak,..buk…apa ada yang salah?”
“eh…tidak tidak dokter… terus bagaimana kondisinya saat ini?”
“ kita hanya harus menunggu anak bapak dan ibu siuman dalam beberapa hari karena obat bius yang di gunakan saat operasi sangat tinggi, dan juga proses pemulihan operasi nya,…harus benar-benar berjalan baik.”
“oh begitu ya dok?”
“ia pak”
“kalau begitu kami kembali ke ruangan anak kami ya pak, terima kasih”
“ sama-sama”
Di dalam perjalanan menuju ruangan rara , papa dan mama tampak terkejut dengan ucapan dokter tersebut…..
“pa,….apa dokter itu salah ya ?”
“tidak mungkin ma,…tapi apa jangan-jangan hal itu memang benar,…kalau itu memang benar,..kenapa rara menyembunyikan hal ini kepada kita?”
“papa,..mama juga bingung, apa kita harus tanya langsung dengan anak itu”
“ia,…pa benar, bahkan kita juga belum tau namanya”
“ia ma,…ayo kita cepat ke sana”
“ia ayo pa”
Sesampainya di dalam ruangan,…papa dan mama rara menatap kevin dengan sangat intens….kevin mulai agak curiga ,…dengan gerak- gerik mereka…tiba-tiba papa rara melontarkan pertanyaan yang benar-benar menusuk bagi kevin
“kapan kamu tunangan sama anak saya?, kok gak pernah nongol ke rumah eh kok tiba-tiba aja udah jadi tunangan?”
“maaf om, tante saya………..aaa….aaa”
“nama kamu siapa?, alamat kamu dimana, kelurga kamu bagaimana?” pertanyaan itu bertubi-tubi di lontarkan ayah rara pada kevin, sehingga kevin jadi semakin gugup, tapi gemetar bukan lah sifat kevin, ea selalu berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa bantuan orang lain, tidak seperti devin adik kembarnya, yang selalu kalau ada masalah selalu meminta bantuannya,…tak jarang kevin selalu berhasil menyelesaikan masalah devin, apalagi soal masalah wanita-wanita yang suka mendekati devin, selalu kevin selesaikan dengan sangat mudah.
“maaf om tante jangan salah paham…dulu….”
Kevin menekukkan kakinya di menunduk,..seakan ia mau memberitahu bahwa ia telah menabrak rara.
“maaf kan saya om tante,…sebenarnya sayalah yang tidak sengaja menabrak rara,…. Lalu saya berusaha untuk bertanggung jawab,….maka dokter di waktu bersamaan memaksa saya harus berbohong dan mengaku sebagai tunangan rara , agar saya bisa menandatangani surat persetujuan operasi untuk rara, saya melakukan ini semata-mata ingin bertanggung jawab agar nyawa rara cepat tertolong om, tante…sekali lagi saya mohon maaf” kevin yang tampak dingin selama ini tiba-tiba meneteskan air mata…..air matanya mengalir sehingga membuatnya susah untuk berbicara,….kevin hampir saja bersujud di hadapan orangtua rara, tiba-tiba ayah rara menarik bahu kevin dan membangunkan nya untuk berdiri.
“bangun lah nak,…om tidak marah kepadamu…. Malahan om… sangat berterima kasih kepada mu,..karena kamu sudah sangat bertanggung jawab, atas perbuatanmu”
“jadi om…tidak membenci aku”
“tidak nak,…terima kasih sudah berbohong demi kesalamatan putri semata wayang kami”
“apa jadinya kalau kamu tidak cepat membawanya ke sini, mungkin kami tidak akan bisa hidup lagi”
Kevin yang merasa terharu langsung memeluk ayah rara dengan begitu erat
“terima kasih om,…saya berjanji,…saya akan bertanggung jawab pada keselamatan rara,…kalau sesuatu terjadi padanya,..saya siap om dan tante masukkan kedalam penjara”
Pelukan itu tiba-tiba terlepas
“nak jangan terus salah kan diri mu,…kami tidak sekejam itu”
“ia,…kalau boleh tante tau,..nama mu siapa nak?”
“nama saya kevin tante, om”
“oh kevin…”
“nak,…sini duduk ada yang mau om bicarakan”
“ia om”
“nak,…..om…bukannya tidak sedih atas apa yang terjadi pada anak om,…tapi…..berkat kebohongan mu yang membuat om dan tante salah paham ini,…membuat om,…ingin sekali meminta sesuatu kepadamu….bolehkah nak?”
“boleh om,,…apa itu om?”
“bolehkan kebohongan kamu itu menjadi kenyataan?”
“apa, maksud om,…..kebohongan kalau aku tunangan nya rara?”
“ia,…apa kamu mau jadi tunangan rara yang sesungguhnya?”
“om,…bukanya saya mau menolak, tapi akankah lebih baik, kita tunggu rara sadar dulu?”
“ia,….tapi apakah kamu setuju,…hanya itu yang mau om dengar dari mu?”
“om...tante…saya…… bersedia kalau rara juga bersedia….”
“nah gitu donk,…makasi ya nak,…om sudah yakin semenjak om jumpa kamu,…pertama kali , aura kebaikan itu terpancar dari wajah mu”
“ah om bisa saja”
“ia kan ma,….kali ni om tante tidak salah pilih”
“ia om,..makasi , oya om…bolehkah saya pulang sebentar untuk ganti baju,..nanti saya datang lagi”
“oh ia boleh….”
“om, tante,…ini kartu nama saya…”
“ia nak”
“kalau gitu saya pamit ya om tante”
“ia nak kevin”
Kevin pun pamit meninggalkan ruangan rara
“KEVIN ADMATJA, CEO PERUSAHAAN TRAVEL , ma, papa memang gak salah pilih calon mantu kali ini…..”
“tapi pa, apa rara beneran mau nantinya?”
“ rara pasti mau sayang…..kevin itu menurut pandangan papa adalah anak yang baik, bertanggung jawab, pemberani, penuh wibawa dan yang pasti menurut papa dia anak dari keluarga yang baik pula”.