Pagi itu papa dan mama memberikan pesan singkat kepada rara sebelum berangkat ke café.
“rara, jangan lupa kenalin pacar kamu sama papa dan mama mu” ucap papa pada rara
“ia ra, mama mau liat orangnya” tambah mama rara
Rara yang sedang meneguk segelas air di meja makan langsung tersendak
“hok..hokk.hokk… pacar …..? siapa punya pacar pa, ma, rara gak punya, baneran”
“rara jangan bohong , papa dan mama tau kok kamu punya pacar, papa sering melihat mu menelpon malam -malam di teras belakang rumah”
“ia ra, mama juga pernah dengar kamu bilang sayang-sayang” tambah mama
“aduh , pa, ma , kalau rara punya pacar pasti rara bawa kok, rara janji”
“bener ni? Tanya mama
“ ea bu, pa, ma”
“ok, papa tunggu, kami pergi dulu, jangan lupa kunci pintu dan pagar nanti”
“siap bos”
Aku mulai bingung menghadapi sikap papa dan mama yang terus mendesak aku untuk menunjukkan siapa pacarku, apa yang harus aku lakukan “ gumam rara dalam hati”
Sesampainya rara di kantor tiba-tiba seoarang perempuan datang menghampiri rara, dengan membawa sebuah buket bunga mawar yang begitu indah.
“mbak rara, ini ada paket buket untuk mbak rara”
“dari siapa?”
“katanya dari mas devin mbak”
“devin?”
“ia mbak, “
“makasi y mbak”
Sama-sama”
(bunga mawar ini sangat harum, ini dari devin, apa dia bener-bener sudah pulang dari Bali?) “tanya rara dalam hatinya yang tampak begitu bahagia
rara mengambil telpon genggamnya dan terus memencet sebuah nama
“ sayangku”
Kring…kring..kring
seorang laki-laki tampan tampak mengangkat telpon di seberang sana
“hai sayang , kamu udah terima bunga dari aku kan?
“udh sayang, makasi ya udh ngasi aku kejutan”
“sayang , kamu gak rindu sama aku? Tanya pria itu pada rara
“rindu berat lah sayang, emank kamu gak rindu sama aku?”
“rindu donk sayang, satu bulan di bali kayak satu tahun, rasanya”
“ia , sayang”
“nanti siang kita jumpa ya sayang, di restoran biasa y, !”
“ok sayang,….i love u”
“I love u to….rara, ummah”
“ummmmah”
Rara menutup telpon tersebut sambal senyum-senyum sendiri, sehingga teman seruangannya pada menoleh kearah dirinya, sehingga rara tersipu malu.
Di sebuah restoran, tampak seorang laki-laki tampan sedang duduk sendiri sambil melihat hp nya terus menerus…..tiba-tiba rara datang dari arah belakang sambil menutup mata pria tersebut.
“sayang……aku tau ini pasti kamu kan?”
“hai sayang,….(sambil melepas tangannya dari mata pria itu)
Pria itu devin, DEVIN ADMATJA …
Devin langsung memeluk rara dengan begitu erat, tampak pelukan rindu yang begitu berat,
“sayang aku rindu sekali sama kamu, satu bulan itu seperti satu tahun lamanya”
“ia sayang, aku juga, rindu ….kamu tau gak, aku kesepian sekali…..disini”
“sekarang aku kan udh ada d sini, di samping kamu, “
“ia sayang,….oya kita makan yuk….kamu udh pesan makanannya?”
“ia , aku udh pesanin makanan kesukaan kamu,…… “
“makasi y sayang ku…kamu masih ingat aja makanan kesukaan aku…..nasi soto “
“hahaha….ea la sayang masa’ makanan favorit pacar aku, aku bisa lupa….”
Rara tersenyum bahagia,….makan siang itu tampak begitu hangat dan mesra, terpancar raut wajah rara yang begitu bahagia bisa berada di samping devin, laki-laki yang kurang lebih 1 tahun baru di kenalnya.
Devin dan rara di pertemukan dalam sebuah acara seminar di salah satu hotel berbintang lima waktu hari itu. Devin tanpa sengaja berkenalan dengan rara, di acara tersebut, perkenalan mereka pun berlanjut hingga mereka dekat dan merasa cocok, sehingga mereka memutuskan untuk menjalin hubungan lebih serius. Sebulan belakangan ini devin harus pergi ke Bali untuk mengurus perusahaannya di bidang travel, itulah sebabnya dalam satu bulan ini devin dan rara sedang LDR.
Walaupun sudah menjalin hubungan kurang lebih 1 tahun, devin belum pernah sama sekali membawa, atau mengenalkan rara pada keluarganya, hal ini lah yang membuat rara menjadi ragu untuk membawa devin bertemu dengan kedua orangtuanya. Dia tidak mau lelaki yang dia kenalkan kepada orangtuanya memberikan harapan palsu nantinya kepada orangtuanya.
Sudah beberapa kali rara meminta devin untuk mengenalkannya kepada keluarganya, tapi devin selalu beralasan bahwa keluarganya lagi di luar negeri, bahkan setiap rara bertanya tentang masalah keluarga devin, devin selalu mengalihkan pembicaraan, agar rara tidak bertanya lagi tentang masalah keluarganya.
Hal ini lah yang selalu membuat rara menjadi gelisah, bimbang dan ragu pada hubungannya , ea takut devin membohongi dirinya, dia takut devin menyimpan sesuatu yang tidak rara ketahui selama ini.
Dan mungkin rahasia itu akan menyakiti hati rara dan keluarganya nantinya, apabila dia mengetahuinya nanti.
Saat ini perasaan rara sangat kacau, hatinya begitu mencintai devin dengan tulus, ea takut ketulusan hatinya, akan terluka, akibat devin membohonginya, dan selalu menutupi keluarganya dari rara.