Surat pertama yang diterima Gleen sangat berharga. Tidak bisa diuangkan atau digadaikan. Surat itu harus dimuseum kan malahan. Gleen tersenyum bahagia menatap bingkai di depannya. Cantik. Kayak yang ngirim. Gumamnya dalam hati. Ia kembali ingat dengan moment kemarin. Momen dimana Raina memberikan suratnya dengan mata yang sengaja ia tutup agar tidak malu kemungkinan. Tapi, Gleen mengetahui jika, saat itu Raina sedang malu kepayang. Membuatnya kembali tertawa. Din! Suara klakson membuyarkan semua. Ternyata tebengan dia sudah datang, ia langsung menggendong tas serta menjinjing totebag cukup besar. "Tumben lo udah rapih. Biasanya gue kudu bangunin dulu." Katanya pada Gleen. Hanya dibalas tawa olehnya, ia langsung masuk ke kursi samping kemudi dan kembali tersenyum. Astaga, sudah berapa

