*
Melody menuruni tangga ini dengan langkah santai, ia pun kemudian menuju ke ruang makan.
Senyum Melody mengembang saat tiba di sana.
Ya, tentunya karna ada seorang gadis kecil yang sangat menggemaskan.
"Hai sayang," sapa Melody sambil mencubit pipi gadis kecil itu.
"Nte...!" sahut gadis kecil itu.
"Udah selesai makannya?" tanya Melody.
"Nih, udah," jawab Embryl menunjukkan piring yang sudah bersih.
Melody terkekeh, "Yaudah, sekarang Ember temuin aja Uncle Iqbaal di kamar atas, soalnya tante mau cuci piring dulu," ucap Melody gemas.
Gadis kecil itu hanya mengangguk. Melody mengangkat tubuh gadis kecil itu lalu menurunkannya dilantai, "Yaudah, hati-hati ya sayang," ujar Melody sambil mengecup pipi gadis kecil itu.
Embryl mengangguk lalu langsung berlari kecil menuju tangga. Melody hanya tersenyum tipis, ia kemudian berjalan ke pencucian piring sambil membawa beberapa piring kotor sebelumnya, lalu mulai mencuci piring-piring itu.
"Oke udah selesai," ujar Melody diiringi napas lega.
Melody merasakan ponsel di saku bajunya bergetar. Ia segera mengeluarkan ponselnya dan melihat layar ponselnya.
Kak Salsha's Calling
"Ha? Kak Salsha nelepon?" gumam Melody.
Buru-buru gadis itu menjawab telpon tersebut. "Hallo kak, kenapa?" ucap Melody.
"Melody? Embryl masih sama lo sama Iqbaal, 'kan?" Terdengar suara seorang wanita diseberang sana.
"Iya, dia masih sama kita. Kenapa emang?" tanya Melody.
"Gue minta maaf sebelumnya. Hm, Embryl bisa nginap disitu dulu gak? Gue gabisa jemput dia," ucap Salsha terdengar panik.
"Lho? Kenapa emang?" tanya Melody heran.
"Mama mertua gue, mamanya Aldi, mendadak sakit. Gue harus rawat mama, soalnya pembantunya lagi pulang kampung, tadinya gue mau jemput Embryl, tapi ya gitu, Mama mertua gue sakit," jelas Salsha.
"—Bisa 'kan Embryl nginap disitu dulu?" tanya Salsha lagi. Melody menghela napas beratnya,
"Iya, bisa kok kak," jawab Melody.
"Yaudah, makasih ya. Gue tutup nih ya," ucap Salsha.
"Iya, sama-sama, bye kak."
Panggilan itu pun terputus, Melody lalu memasukkan ponselnya kedalam sakunya kembali. Ia kembali menghela napas, ia pun segera melangkahkan kakinya ke arah tangga, dan kemudian menaiki tangga tersebut.
*
Melody mendorong pintu kamar ini, lalu masuk kedalamnnya, ia pun berjalan dengan gontai menuju sofa. Melody duduk dengan lemas di sofa ini.
Iqbaal yang semula asyik bersenda gurau dengan Embryl pun menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah gadis ini." Kenapa lo? Kelelahan?" Iqbaal menatap heran.
"Kak Salsha gak bisa jemput Ember," sahut Melody to the point.
"Lho? Kenapa?" tanya Iqbaal.
"Mamanya Kak Aldi mendadak sakit, jadi, Kak Salsha disitu dulu buat ngerawat neneknya Ember," jawab Melody.
"O, gitu," ucap Iqbaal mengerti.
"—eh, berarti Embryl malam ini nginep disini?" ucap Iqbaal lagi.
"Ya, mau gak mau gitu," sahut Melody.
"Yaudah, lo sama Embryl tidur di kasur, biar gue disofa," ucap Iqbaal.
Melody tiba-tiba tertawa kecil, "Tumben ngalah," ucap Melody geli.
"Demi.keponakan.lo," sahut Iqbaal penuh penekanan di setiap katanya.
"Yaa, serah lu dah," ucap Melody tak mau memperpanjang pembicaraan yang menurutnya menyebalkan itu.
Ia pun mendekati Embryl dan Iqbaal. "Aduh, asik banget ya kamu?" ucap Melody sambil mencubit hidung mungil Embryl.
Gadis kecil itu hanya tertawa geli, membuat siapapun yang melihatnya akan merasa gemas.
"Yaudah, tante mau mandi dulu," ucap Melody sambil beranjak.
"Ntee...!" ucap gadis kecil ini sambil menahan lengan Melody.
"Iya?" sahut Melody.
"Embey mau mandi juga," ucapnya menatap Melody.
"Tapi, kan baju kamu gak—"
"Biar gue ke rumah mamah ngambil bajunya Embryl," sela Iqbaal.
"Gak repot?" tanya Melody.
Iqbaal hanya menggeleng. "Ehm, tapi kalau sekalian kerumah mamah, kenapa gak kita anter aja Embrylnya kesitu?" ucap Melody lagi.
"Hm, iya juga sih," jawab Iqbaal.
"Eh, tapi jangan deh, gue seneng kalau Ember disini," ucap Melody. Iqbaal berdecak kesal.
"Ck! Gimana sih lo? Plin plan amat," gerutu Iqbaal. Melody hanya terkekeh.
"Yaudah deh, buruan lo ambil bajunya kesana."
"Yaudah, gue pergi sekarang," sahut Iqbaal sambil keluar kamar.
"Ayo sayang kita mandi," ujar Melody sambil menggendong Embryl. Merekapun kemudian masuk kedalam kamar mandi.
Sekitar setengah jam membersihkan diri, kini Melody dan Embryl keluar dari kamar mandi.
Melody mendudukan gadis kecil dalam gendonganya diatas sofa. "Ember, sementara uncle nya belum
datang kamu pake handuk ini dulu ya," ucap Melody sambil memandang gemas gadis kecil itu."
Iya, Nte," ucap Embryl. Melody pun masuk ke kamar mandi lagi untuk mengenakan bajunya.
Selang waktu lima menit kemudian, Melody keluar dari kamar mandi ini. Ia memandang Embryl yang masih setia duduk di sofa dengan handuk di tubuhnya.
"Uncle Iqbaal belum dateng juga?" tanya Melody memandang sekeliling kamar.
"Belum Nte," sahut Embryl. Melody hanya menghela napasnya.
"Lama amat sih! Perasaan dari sini ke rumah mamah gak jauh-jauh amat," dumel Melody.
"—Apa terjadi sesuatu sama Iqbaal?" sambung Melody lagi.
"Gimana kalau dia kecelakaan? Atau dia dibegal orang? Atau di—"
"Gue gak apa-apa!" tegas seseorang di belakang Melody.
Melody berbalik, "Iqbaal..!" serunya.
"Apaan sih lo?! Mikirin yang enggak-enggak aja," sungut Iqbaal.
"Ya, kali aja lo kecelakaan," sahut Melody.
"Khawatir ya?" tanya Iqbaal menggodanya.
"Enggak! Lo pikir kalau lo kecelakaan gue khawatir? Dih ngimpi! Gue tuh takut lo kecelakaan karna lo tuh pasti nyusahin gue entar. Amit-amit deh khawatir sama lo," elak Melody berusaha se-santai dan se-tegas mungkin, padahal jujur saja, ia memang sedikit khawatir.
"Terserahlah. Nih, bajunya Embryl," ucap Iqbaal sambil melemparkan tas yang tidak terlalu besar tersebut ke atas kasur, dan ia pun segera melangkah keluar kamar.
"Ish! Sopan dikit dong!" ucap Melody kesal.
"Dasar pria arrogant!" dumel gadis ini.
Melody pun segera memakaikan baju untuk Embryl.
*
Iqbaal menghela napasnya sambil duduk di sofa ini.
"Padahal sih gue harap dia khawatir," gumam Iqbaal.
Iqbaal pun mengambil ponsel dari celananya. Ia membuka galeri foto di ponselnya. Senyumnya mengembang saat ia melihat sebuah foto yang cukup menggelikan.
Foto dimana Melody mengecup pipinya sedangkan ia berekspresi terkejut di foto itu. Sangat konyol. Iqbaal pun terus melihat-lihat foto yang ada diponselnya. Sampai ia berhenti disebuah foto, ekspresi wajah Iqbaal berubah datar.
Foto yang terlihat indah, foto dua orang pria dengan seorang gadis di tengahnya. Ekspresi ketiganya terlihat sangat bahagia.
Iqbaal, pria ini pun memejamkan matanya dan menghirup udara berat sejenak. Ia pun dengan ragu menekan ikon tempat sampah.Entah apa yang ia pikirkan. Ya, ia benar-benar menghapus foto itu. Ia kembali menghembuskan napasnya. Rasa sakit di hatinya kembali lagi.
Iqbaal memijat keningnya sambil mencoba meredam rasa sesak didadanya.
Seorang gadis bersama seorang gadis kecil duduk disisi kanan pria ini. "Lo kenapa?" tanya Melody heran.
Iqbaal tersentak, "Eh, gak apa-apa kok," dustanya. Melody hanya meng'oh'kan kata-kata Iqbaal. Ia pun mengambil remote televisi dan tentu saja ia menyalakan televisi tersebut.
"Nte, dlama kolea nte," rengek Embryl.
"Oh. Kamu suka ya? Tante juga suka," ucap Melody.
"Embey sama mamah celing nonton Nte," sahut Embryl.
"Sama dong," ucap Melody terkekeh.
"Film nya celu banget Nte, oppanya uga kelen," kata Embryl. Melody hanya terkekeh kembali.
Iqbaal menatap bingung Melody dan Embryl. Ya, ia sama sekali tak mengerti kata-kata mereka. Apalah itu drama korea? Tak penting menurut pria ini.
"Dasar tante sama keponakan sifatnya sama," gumam Iqbaal.
Melody menatap Iqbaal sinis, "Lo bilang apa?" tanya Melody sarkas.
Iqbaal menyengir, "Gak apa-apa," ucapnya.
"Aneh," cibir Melody. Ia pun kembali menatap layar televisinya.
"Ah! Andai gue punya suami seganteng Oppa, atau paling enggak karismatik kayak Ajusshi goblin," ucap Melody sambil berpangku tangan menatap televisi.
"Eh! Mereka tuh gak ganteng! Masih cakepan gua! Lo harusnya bersyukur dapet suami seganteng gue," timpal Iqbaal.
Melody menatap Iqbaal kesal, "Apaan sih lo! Ngikut-ngikut aja! Eh, lo tuh gak ganteng ya! Muka lo tuh lebih jelek dari siapapun! Lo manusia terjelek sedunia!"
"Sejidat lo bicara! Temen-temen lo aja bilang gue ganteng, di foto gue sama lo yang diupload Bella itukan banyak yang bilang gue ganteng," ujar Iqbaal.
"Itu menurut mereka! Biarpun seluruh dunia mengira lo malaikat yang jatuh dari surga. Tapi gue berpendapat bahwa lo adalah makhluk terjelek yang diusir dari habitat lo karena saking jeleknya," ucap Melody lancar hanya dengan satu tarikan napas.
"Mamah ngidam cabe ya waktu hamil lo? Pedes amat itu mulut," sahut Iqbaal.
"Bodo!" sahut Melody.
Mereka berdua pun saling memandang sinis satu sama lain. "Huh!" Mereka lalu saling membelakangi.
"Dasar cewek galak!" cibir Iqbaal sambil terus membelakangi Melody.
"Dasar cowok sombong!" balas Melody sambil menekankan kata-katanya.
"Uncle, Ante...!" Embryl yang semula duduk di sisi kanan Melody, berpindah posisi menjadi ditengah-tengah Melody dan Iqbaal.
Ya, mau tak mau mereka harus berbalik.
"Kenapa sayang?" tanya mereka bersamaan. Keduanya saling pandang dengan tatapan kesal. Lalu kembali memandang gadis kecil didepan mereka.
"Embey mau minum s**u," ujar Embryl memelas.
"Tapi 'kan, s**u kamu gak a—"
"Ada di kamar, di tas yang tadi," sela Iqbaal.
"Ha?" Melody menyeritkan dahinya.
"Tadi mamah nyuruh bawa, katanya kali aja Embryl minta s**u," jelas Iqbaal.
"Yaudah, tante bikinin dulu," ucap Melody sambil beranjak dari sofa ini.
"Sini Embryl biar sandaran sama Uncle," ucap Iqbaal menepuk lengan kanannya. Dengan cepat Embryl segera menyandarkan tubuhnya di lengan pria ini.
"Uncle," ucap Embryl.
"Iya, sayang?" sahut Iqbaal.
Embrylpun berbalik dan menatap Iqbaal sayu, "Embey boleh gak manggil uncle itu papah? Sekali ini ajah," pintanya.
Iqbaal terdiam. Ia pun kemudian tersenyum, "Iya, kapan pun boleh," ujar Iqbaal.
"Makasih, papah," ucap Embryl sambil memeluk Iqbaal.
Kapan ya gue jadi ayah beneran? pikir Iqbaal. Ia pun menghela napas.
"Ini susunya sayang, Ayo sini," ucap Melody sambil kembali duduk di sofa ini.
"Asik!" Embryl segera melepaskan pelukannya dan segera berpaling ke arah Melody.
"Makasih, mamah," ucapnya sambil mengecup pipi Melody.
"Mamah? Ini tante sayang. Kamu sakit ya?" tanya Melody heran sambil meletakkan tangannya di dahi Embryl.
"—kamu enggak panas kok," ucap Melody lagi.
Embryl menepis tangan Melody didahinya, "Ante apaan cih? Embey hali ini mau manggil Uncle sama Ante itu Papah sama Mamah, kalna hali ini Embey tinggal disini," ucap gadis kecil itu.
Melody terbelalak, "Ha? Uncle sama Tante jadi Papah sama Mamah kamu sehari? Aduh, Ember sayang, tante tuh mau aja kamu panggil Mamah," ucap Melody.
"—Asal jangan dipasangin sama dia!" sambung Melody sambil meunjuk Iqbaal.
Iqbaal menepis jari Melody dari wajahnya, "Lo pikir gue mau?" ucap pria ini.
"Uncle sama Ante jahat! Belantem mulu! Gak ngelti'in Embey," ucap gadis kecil ini mulai terisak.
"Cup cup, sayang maafin tante—eh..., Mamah ya," bujuk Melody memeluk Embryl.
"Ini mending Embryl minum susunya," ucap Iqbaal menyodorkan dot s**u Embryl yang sempat terlepas dari genggaman Melody. Melody pun menggendong Embryl dan memangku gadis kecil itu.
"Sayang, jangan nangis," ucap Melody sambil mengusap-usap punggung gadis kecil yang terisak itu.
"Sini susunya!" pinta Melody pada Iqbaal, Iqbaal menyodorkan dot s**u itu.
Melody pun memberikan s**u botol tersebut pada Embryl. Gadis kecil inipun mulai berhenti menangis. Iqbaal memandang Melody yang sedang memangku Embryl tersebut.
IQBAAL
Aku merasa gimana gitu lihat Melody sama Embryl. Ini tuh keliatan manis banget menurutku. Melody serasa kayak bisa banget ngerawat anak kecil dan itu terlihat seperti dia sedang memangku anaknya sendiri. Dan dengan lancangnya, otakku berekspetasi kalau Embryl itu anakku sama Melody.
Mungkin gak sih? Ah, gak! Aku ngaco banget! Amit-amit deh, ah, punya anak sama dia.
**