11 : Honeymoon?

2146 Kata
* Melody kembali berjalan ke arah dapur. Ia pun mulai membuka kulkas dan mengambil bahan makanan yang hendak ia masak, yaitu cumi-cumi asam manis, kebetulan juga persediaan bahan makanan Iqbaal lengkap, ia sendiri sekarang sibuk berburu resep di internet, untuk mempelajari dan mengingat cara memasaknya. Ya, sekarang Melody mulai tahu banyak masakan dan entah kenapa ia menjadi pandai memasak, bayangkan saja seorang gadis yang semula tidak pernah tahu urusan rumah tangga menjadi sangat pandai setelah menikah dengan pria yang menyebalkan. Ya, Melody tak mau terlihat buruk di mata pria itu, walaupun Melody tak mencintai Iqbaal, tapi setidaknya ia menjadi istri yang baik. Tak terasa waktu berlalu, Melody telah selesai memasak masakan tersebut. Melody tersenyum sambil meletakkan piring berisi masakan yang ia buat. "Baunya harum. Sekarang umpannya telah siap dan tinggal tunggu ikan nya datang," ucap Melody terkekeh. Melody mengalihkan pandangannya pada Iqbaal yang menuruni tangga dan berjalan kearah meja makan. Melody kembali mengalihkan tatapannya pada sajian yang ia susun di meja ini, ia pura-pura acuh pada pria itu. Melody pun duduk dan menuangkan nasi dipiringnya. Iqbaal duduk di depan Melody dan menyodorkan piringnya. "Apaan?" ucap Melody pura-pura tak mengerti "Em, tuangin nasi sama cumi-cuminya," ucap Iqbaal. "Ambil sendiri, bisa 'kan?" ucap Melody. Iqbaal menghela napas dan hendak menuangkan nasi ke piringnya. "Sini!" ucap Melody tiba-tiba merebut piring Iqbaal. "Nih, cukupkan?" ucap Melody menyodorkan kembali piring Iqbaal yang semula kosong kini sudah berisi nasi putih dan cumi-cumi tumis buatan Melody. Iqbaal mengangguk dan mengambil piringnya dari tangan Melody. Melody pun tersenyum dan melanjutkan makannya. Iqbaal masih bingung dengan sikap Melody barusan, tapi tanpa ia sadari ia tersenyum karna hal ini. Melody memandang pada Iqbaal yang tengah melamun itu. Kayaknya kejiwaan Iqbaal terganggu, batin Melody "Baal, kok gak dimakan? Gak suka ya? Terus kenapa juga lo senyum-senyum gitu?" ucap Melody membuat Iqbaal tersentak  "Kapan sih lo berhenti cerewet? Nih gua makan," ucap Iqbaal sambil menyuap makanan itu. "Hm, enak. Udah bisa masak lo?" Komentar Iqbaal. "Ya gitu deh," sahut Melody. "Kalau lo sering masak enak gini, gue gak nyesel dah dijodohin," ucap Iqbaal, entah dia sadar atau tidak. "Dih, apaan sih lo," ucap Melody, ia hanya terkekeh geli. Iqbaal merasakan ponsel miliknya bergetar disaku celananya. Ia mengambil ponsel dan kemudian beranjak dari meja makan. Melody hanya memandang punggung Iqbaal yang semakin menjauh. 10 menit kemudian.. Iqbaal kembali ke meja makan ini dan duduk kembali. "Habis makan lo siap-siap," ucap Iqbaal. "Buat apa?" tanya Melody bingung. "Entah, Bunda tadi nelpon nyuruh gue kesana dan ngajak lo juga," ucap Iqbaal. "Bunda? Bunda Rike?" tanya Melody. "Eh, b**o, emangnya gue punya berapa bunda?" sewot Iqbaal. "Dih galak, kan gue cuman nanya," "—Ngapain kesana?" tanya Melody lagi. "Gue juga gak tau nyet!" ucap Iqbaal. "Nyebelin amat sih lo! Jawab gak usah ngegas bisa kali!" cibir Melody. * "Melody, cepetan!" ucap Iqbaal, ia memandang jam tangan yang melingkar ditangan kirinya. "Sudah hampir setengah jam gue nunggu dia, belum selesai juga apa?" ucap Iqbaal. "Woy Gajah!" ucap Iqbaal lagi. "Sabar oy!" ucap Melody sambil berlari menuruni tangga dan sesekali membetulkan wedgesnya. Iqbaal sedikit terpana melihat Melody, gadis itu terlihat sangat cantik dengan make up natural, rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai, penampilannya juga semakin sempurna dengan outfitnya hari ini, baju navy bergaris putih dan rok selutut membuat gadis itu terlihat cute, ditambah dengan wedges warna senada dikaki nya. "Woy!" ucap Melody sambil menepuk pundak Iqbaal. Iqbaal tersentak, tahu tahu saja Melody sudah ada didepannya. "Cepetan ah berangkat, lelet lu," ucap Melody berjalan keluar rumah. "Bukannya tadi gue yang nunggu dia?Kok dia yang duluan?" ucap Iqbaal melongo sambil menyusul gadis itu. * "APA?!" jerit pria dan gadis ini terbelalak tak percaya. "Iya sayang, kalian berdua mau kan?" ucap wanita paruh baya ini "Betul kata bunda. Iqbaal, Melody kalian setuju, kan?" ucap pria paruh baya ini. Ya, Melody dan Iqbaal telah berada di rumah kediaman mertua Melody, orang tuanya Iqbaal. "Ayah, Bunda, apa ini gak kecepatan?Kerjaan Iqbaal masih banyak, aku juga baru batalin cuti aku," ucap Iqbaal. "Iya, Melody juga gak mungkin libur kuliah, karena Melody udah banyak libur," timpal Melody. Herry—ayahnya Iqbaal terkekeh, "Baal, soal kerjaan kamu tenang saja, Ayah sudah atur semuanya," sahut Herry. "Bunda juga udah minta izin sama dosen kamu," ucap Rike—Bunda Iqbaal, menatap pada Melody. "Yah, ayah sama bunda gak bisa kayak gini dong," ucap Iqbaal. "Pokoknya Bunda sama Ayah gak mau tau, kalian gak boleh nolak buat berangkat ke Maldives," ucap Herry. "Betul Baal, katanya sih disana cocok banget buat pengantin baru, lagian kalian tuh malahan udah telat bulan madunya, harusnya sehari sesudah menikah kalian langsung bulan madu," ucap Rike. "Ayah sama bunda udah pesan tiket pesawat dan hotel buat kalian, kalau pemandu travel kayaknya gak perlu, karna ayah tahu kamu fasih bahasa Inggris, Baal," ucap Herry. Iqbaal dan Melody menghela napas dan mengangguk lemah. "Yaudah deh, terserah kalian aja," ucap Iqbaal pasrah. "Eh, Bunda, Mamah aku udah tau?" ucap Melody. "Tenang sayang, mamah kamu malahan yang mesanin tiket pesawatnya," ucap Rike. Melody hanya melongo, sedangkan Iqbaal memijat keningnya. * "Agh!" Iqbaal mengacak rambutnya ia merasa amat frustrasi saat ini. Ya, ia sekarang telah berada di rumah. "Konyol banget gue harus honeymoon sama Melody, iya sih disana bagus banget, tapi sia-sia aja kalau pergi sama Melody," ucap Iqbaal. "Lo pikir gue mau gitu sama lo!" ketus Melody tiba-tiba berdiri didepan pintu. Iqbaal berdecak kesal sambil melirik Melody. "Yang ada tuh suasana romantis Maldives jadi hilang entar pas di injek sama lo!" sambung Melody. "Bawel ah lo!" ucap Iqbaal. Melody memeletkan lidahnya kemudian mengambil ponsel. Melody mengetik Maldives, Maladewa Honeymoon  digoogle search. Melody terpana melihat keindahan tempat yang akan ia datangi tersebut, sangat menawan. Melody melirik pada Iqbaal yang fokus pada tabletnya. "Seandainya gak sama dia,pasti makin istimewa," guman Melody kesal. * 'Twitter @Melody_ana  Maldives! I'm coming, tempat yang sungguh menawan...' * Entah kenapa Melody sangat ingin men-tweet kalimat tersebut. Baru beberapa saat, notifikasi ponselnya sudah penuh dengan notifikasi Twitter. "Ebuset pada mention," ucap Melody. * ' @bellagrace : Cie cie mau liburan, ke Maldives? OMG pengeeen @steffanieclay : Honeymoon ya Mel? :D @cicilanny : Asik bangeet @Salshabillap_ : Ciee mau hanimuuun :P @Bastiansteel : Mel ikut dong :v @denandaov : Semoga selamat sampai tujuan @HerryHrmwn : Ayah bilang juga apa,kalian pasti suka @Melody_ana @iqbaal_AH * "Astaga ayah juga mention," ucap Melody menepuk dahinya. "Lo apa-apaan sih lebay banget, nge-tweet beginian!" ucap Iqbaal tiba-tiba. Melody mengalihkan pandangannya pada Iqbaal. Iqbaal pasti udah liat tweet gue, soalnya kan tadi ayah mention ke dia juga, pikir Melody. "Suka-suka gue lah, gue nge-tweet diakun gue, bukan akun lo, kan?" ucap Melody malas. "Malu-maluin," ucap Iqbaal. "Bodo!" ucap Melody Iqbaal mengusap kasar wajahnya dan langsung berjalan keluar kamar. "Jangan balik lagi lo orang gila!" ucap Melody kesal. * Iqbaal mengetik gitar dipangkuannya dan musik lembut mulai mengalun, ia menarik napasnya dalam-dalam, lalu mulai melantunkan sebuah lagu. "And darling I will be loving you till we're seventy. And baby my heart could still fall as hard at twenty three. And I'm thinking 'bout how people fall in love in mysterious ways..." Pria ini menghela napas sambil meletakkan gitarnya. "Kenapa hidup gue kayak gini amat, ya? Punya istri yang sama sekali gak gue cinta," ucapnya. "Apakah gue nanti bisa mencintai Melody? Mungkinkah semua itu? Apakah Melody juga bakal cinta sama gue?" ucapnya. Ia kembali menghela napas, "Jujur, gue masih belum bisa lupain semua itu," ucap Iqbaal sambil memejamkan matanya, kejadian di masalalunya sangat membuat pria ini hancur. * "Alvin..!" ucap gadis ini sambil menepuk bahu pria yang tengah termenung ini. Pria ini berpaling dan tersenyum kaku, "Afrisa," ucapnya. "Gue ganggu?" Alvin menggeleng. "Tapi kayaknya lo gak ngarepin kehadiran gue ya? Yaudah gue pergi aja, maaf ya gue lancang nganggu lo. soalnya tadi tante nyuruh gue nemuin lo, gue keluar aja ya," ucap gadis ini sambil berpaling dan hendak melangkah pergi. "Sa," ucap pria ini sambil menahan lengan Afrisa. Afrisa berpaling, sebetulnya jujur, ia tak ingin memandang pria itu, karena hanya akan menambah luka dihatinya. "Kenapa, Vin?" ucapnya. Alvin langsung mendekap tubuh ramping gadis ini. "Alvin..!" Afrisa tersentak kaget. "Justru kehadiran lo sedikit mengobati luka gue, Sa," ucap Alvin. Afrisa memejamkan matanya dan membalas pelukan pria itu. Hangat, sangat hangat. "Gue sayang sama lo," ucap Alvin. Seketika tubuh Afrisa kaku, ia tak percaya, logikanya menolak untuk percaya kata-kata itu. "Gue juga, lo sahabat gue dari kecil," ucap Afrisa. Alvin melepaskan pelukannya, "Gak, bukan itu yang gue maksud." Afrisa menyeritkan keningnya heran. "Gue sayang sama lo dari dulu," ucap Alvin. "Bukan sebagai sahabat, tapi ada perasaan lebih," sambungnya. Afrisa terbelalak, apakah ia bermimpi? "Lalu Melody?" ucap Afrisa. "Ya, dulunya gue emang suka sama lo sejak kecil, tapi setelah itu gue rasa lo cuman sayang sebagai sahabat sama gue, jadi gue gak terlalu berharap sama lo. Saat kita masuk kuliah, gue ketemu sama dia dan gue ada sedikit rasa pas ketemu dia, disitu gue dapet lampu hijau buat lupain lo, Sa, tapi takdir berkata lain, ternyata Melody juga bukan pelabuhan hati gue, dan gue sadar bahwa sebenarnya cinta gue itu lo," ucap Alvin menatap mata gadis ini. "Afrisa, sahabat yang selalu ada buat gue, pengisi hati gue jauh sebelum kehadiran Melody," ucap Alvin lagi. Air mata Afrisa tanpa terasa menetes, ini tangisan kebahagiaan. Afrisa langsung mendekap pria itu. "Lo salah Alvin, gue sebenarnya juga sayang sama lo, lebih dari sahabat, dan gue jujur, gue selalu sakit liat lo sama Melody, gue terpukul liat lo waktu sedih karena kehilangan Melody," ucap Afrisa. Alvin tersentak dan melepaskan dekapan Afrisa lalu menatap gadis itu lekat. "Lo serius?" Afrisa mengangguk. "Maafin gue Sa, gue gak tau kalau lo sakit selama ini," ucap Alvin. "Alvin, pernyataan lo hari ini udah bikin semua rasa sakit gue di masa lalu hilang, gue bahagia," ucap Afrisa haru. Alvin kembali mendekap gadis didepannya, "I love you, Sa," bisiknya lembut. Afrisa hanya memejamkan matanya merasakan kebahagiaan yang sedang ia rasakan. * Melody menompang dagunya dengan tangan kirinya, sedang tangan kanannya memegang sebuah novel. "Huh, bete," ucap Melody. "Iqbaal mana ya?" Entah kenapa Melody jadi teringat pada pria itu. Ia lalu beranjak dari sofa dan berjalan keluar kamar. Melody menolehkan kepalanya pada suara di ruang kerja Iqbaal. "Ada apa sih?" ucap Melody sambil berjalan ke arah ruang kerja Iqbaal itu. 'cklek' Melody terpana melihat seorang pria yang terlihat mempesona itu. Pria itu sungguh menawan memainkan gitar itu. Suaranya pun terdengar merdu. Iqbaal berhenti memetik gitarnya, ia mendongak, "Eh, lo ngapain disitu?"  Melody tersentak, "Itu gue tadi cuman gak sengaja denger suara dari sini, jadi gue penasaran, lalu gue lihat kesini," ucap Melody gelagapan. "Lo tadi gak lagi nyariin gue kan?" ucap Iqbaal tersenyum miring sambil menaikkan satu alisnya. Oh s**t! Feeling dia tajam banget, batin Melody 'buk' "Dasar tukang ngimpi!" ucap Melody sambil melempar bantal sofa yang ada disampingnya pada Iqbaal. Iqbaal berdecak kesal. "Kalau niat lo cuman ngacak-ngacak ruang kerja gue, lebih baik lo keluar!"  Melody membulatkan kedua matanya. MELODY  Apa? Apa dia bilang? Dia ngusir nih? "Apa maksud lo? Apa lo ngu—" "Iya gue ngusir!" Gila! belum sempet aku ngomong, dia udah main potong aja. Aku menghentakkan kakiku kesal lalu berpaling keluar dari ruang kerja pria sialan ini. 'brak' Aku membanting pintu ruang kerja itu, aku kesal benar-benar kesal. Aku melangkah kaki ku cepat menuruni satu persatu anak tangga dan berjalan menuju dapur, aku membuka kulkas dan mengambil air putih dingin lalu menuangkan nya ke cangkir yang kuambil dari rak di samping kulkas. Aku meneguk air putih itu sampai habis, sumpah aku sangat haus akibat emosiku tadi. Aku sangat membenci pria itu! Sangat benci! Aku pun meletakkan cangkir di tanganku lalu berjalan menuju tangga dan menaiki satu persatu anak tangga itu. Aku berjalan menuju kamar, saat aku hendak membuka pintu kamar sebuah tangan juga meraih gagang pintu itu. Oh Tuhan, saat aku menoleh, ya benar saja, itu Iqbaal. Pria menyebalkan itu! Aku menepis tangannya dan mendorong tubuhnya lalu langsung membuka pintu itu dan masuk ke dalam kamar. Aku meraih ponselku lalu duduk di atas tempat tidur. "Lo kenapa sih?" Kulirik sekilas pria itu berjalan masuk kekamar ini lalu duduk ditepi ranjang. Dasar pria bodoh! Gak peka! Mati aja sana! Aku mengabaikan kata-katanya, lebih baik aku fokus pada ponselku dan membalasi pesan-pesan dari teman-teman ku, daripada meladeni makhluk itu. "Ditanya tuh harus ngejawab!" ucapnya sambil merebut ponselku. Dasar nyebelin!  Aku pun turun dari ranjang dan berdiri dihadapannya. "Apa-apaan sih lo? Apa peduli lo emang kalau gue diem aja? Lo gak bakal peduli kan? Sekarang buat apa lo sok perhatian sama gue? Dasar gak punya hati," ucap ku sambil merebut kasar ponselku dari tangannya. Aku pun kembali duduk diatas kasur sambil memeluk bantal. "Agh!" Dapatku dengar dari telingaku ini dia sedang mendesah kesal, bodo! "Sekarang lo cepetan siapin baju lo dan masukkin ke koper," ucapnya. Aku terlonjak kaget. What? Apa dia bilang? Apa sekarang dia berniat ngusir aku dari rumah ini? OH TUHAN! "Emangnya mau kemana?" ucapku gelagapan. Duh Tuhan, aku harus gimana? Maafkan dosaku yang durhaka pada suami ini. Please Baal, lo maunya apa sih? * Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN