Calon?

1483 Kata
-Hilangkan semua praduga yang buruk, nyatanya Allah selalu memiliki cara yang terbaik-.  Ketika tiba di tempat tukang odong-odong, Abizard langsung mendapat sambutan ramah dari Pak Dadang. "Eh, Abi." Abizard tersenyum imut. "Sama siapa, cah bagus?" "Papa." Abizard salah langganan penumpang odong-odong, jaraknya yang hanya berjarak 300 meter. Membuat Abizard tidak bisa lupa dengan kereta yang hanya berputar membentuk lingkaran rel itu. Tiap menjelang sore seperti ini, Abizard akan merengek minta untuk naik permainan tersebut. "Alhamdulillah dapat Papa baru," ujar pak Dadang menggoda membuat Zufar tersenyum simpul. "Mau naik odong-odong yang mana?" tanya Zufar pada Abizard. Pegal juga gendong batita itu, tapi demi Abizard. Zufar rela. Eh, dapat sang janda. "Red." Zufar pun segera mendudukkan Abizard di mobil berwarna merah, tapi belum duduk sempurna Abizard bersuara. "Itu Papa." ia menunjuk ke arah mobil berwarna biru. Sejenak lelaki itu menghela napasnya, sudah baik mengartikan kata-kata Abizard yang terdengar asing di telinganya. Tapi, masih saja salah. Sabarnya Zufar menerima kemauan Abizard dengan segera memindahkan ke mobil berwarna biru. Begitu Abizard duduk dengan nyaman, odong-odong pun berputar. Zufar tak hanya diam, selain memperhatikan batita itu ia juga mengambil gambar untuk ia simpan di galeri ponselnya.  Padahal mainan yang disebut odong-odong hanya berputar saja, tapi bisa membuat anak seusia Abizard senang bukan main. Bahkan ada yang disuapi mamanya karena dengan begitu nafsu makan bisa sedikit meningkat. Bermenit-menit lamanya, Zufar pun mengajak Abizard pulang. Sebab, ia mendapat pesan dari sang mama yang menyuruhnya untuk segera pulang. Tapi batita itu enggan untuk beranjak pergi. Namun segala bujuk rayu, akhirnya Abizard pun pasrah untuk diajak pulang. Sebut saja Abizard matre, karena membuat papa-nya bangkrut terlebih dahulu. Dari ini itu, Zufar rela membelikannya untuk Abizard. Setelah itu ia benar-benar mengajak batita tersebut untuk pulang. Begitu tiba di rumah, Zufar langsung berpamitan seraya menyerahkan kunci motor Talitha yang tadi dipakainya. Tapi hal tersebut membuat Abizard heboh hendak mengikuti Zufar atau malah tidak boleh pulang. Batita itu bahkan menarik baju Zufar. "Tak oweh." Talitha tak tinggal diam dengan mencoba melepas cengkraman tangan Abizard. "Nanti kesini lagi, ya." Abizard menggeleng. "Besok main lagi, ya?" Abizard menggeleng bahkan cengkraman di baju Zufar semakin erat. Begitu Talitha bisa melepasnya, ia langsung menggendong Abizard. "Udah, balik aja. Nggak apa, Abizard biar aku yang urus," kata Talitha. Zufar sendiri merasa ragu untuk meninggalkan Abizard, hatinya bahkan tak rela untuk berpisah. Tapi, akhirnya ia memutuskan untuk segera pulang dan menemui mamanya di rumah. "Ikut Papa, Mama!! Abiz nak ikut." Talitha menjadi tuli, ia langsung menutup pintu bahkan menguncinya. Sementara Zufar mendadak bingung, disisi lain ia tak ingin meninggalkan Abizard dengan keadaan menangis tapi ia juga harus segera pulang untuk memenuhi perintah sang mama. Tangisan Abizard yang melengking itu membuat langkah Zufar berhenti, batita itu terus berujar. "Sini Papa!" "Mau diem nggak!?" Talitha berujar dengan lantang. "Ikut Papa." Abizard berdiri di dekat pintu, namun arah matanya menatap sang mama yang memasang wajah marah. Membuat Abizard takut. Ketukan pintu dari luar membuat Abizard menghentikan tangisnya. Dengan masih menatap mamanya takut-takut. Talitha mendekat ke arah pintu, hendak membukakannya. "Minggir dulu, Dek." Talitha berkata lembut tak ada nada marah disana. Abizard pun menurut, ia bergerak mundur sedikit, hanya sedikit. Melihatnya Talitha menjadi gemas pun memilih untuk menggendongnya, pada saat pintu terbuka. Abizard senang bukan main, orang yang sedari tadi dipanggilnya ternyata tidak benar-benar meninggalkannya. Zufar. "Papa!" tangan mungil itu terulur untuk meminta gendong. Dan seketika itu tangannya merangkul erat leher papa-nya. Seakan tak ingin untuk ditinggal atau pun berpisah, walau sekejap. "Aku pengin mengajak Abizard juga kamu ikut aku ke rumah," ajak Zufar menatap Talitha yang kini mendadak bingung. "Untuk apa?" tanya Talitha. "Aku jelaskan, tapi nanti," sahut Zufar sekalian menarik tangan Talitha agar segera mengikutinya. "Sebentar," cegah Talitha membuat langkah keduanya terhenti, dengan Zufar yang menatap Talitha tak sabar. "Ambil perlengkapan Abizard." Entah apa yang dilakukan Talitha saat itu, bukannya ia sendiri yang ingin menghindari Zufar. Kenapa sekarang malah dengan mudahnya mengikuti keinginan Zufar tanpa pikir panjang. "Udah semua?" tanya Zufar begitu mengetahui Talitha yang sudah kembali di hadapannya. Talitha mengangguk.  *** Saat dalam perjalanan Zufar mencoba memecahkan keheningan, tapi batita yang bernama Abizard itu menegurnya. "Maaf udah ganggu waktunya," kata Zufar memecah keheningan itu. "Nggak masalah dan sekarang aku pengin kamu jelasin maksudnya ini apa?" kata Talitha menatap ke samping kanannya. "Eum, maksud aku, kamu ngajak kami ke rumahmu ada apa?" "Oke, kamu jangan salah paham dulu. Aku cuma nggak tega sama Abizard. Jangan khawatir, nanti aku antar pulang," tutur Zufar sembari tersenyum tipis. Talitha pun membalas senyuman Zufar, meragu. "Oh ya, udah makan?" "Tak oweh cakap." batita itu, Abizard namanya menegur dua orang dewasa yang sedari tadi mengabaikan keberadaannya. Tak segan tangan mungil Abizard menutupi mulut Zufar. Melarang Zufar berbicara dengan yang lain selain dirinya. Ya, karena Abizard berada di gendongan Zufar yang menyetir itu. Dengan menggunakan carrier baby scots, Abizard menghadap ke d**a Zufar. Alih-alih marah, Zufar malah terkekeh geli mendengar penuturan Abizard. Bibirnya yang masih tertutupi itu digunakan untuk menggigit telapak tangan Abizard dan membuat geli disana. Kini ganti Abizard yang geli dan sedikit bergerak membuat Talitha melebarkan matanya. "Abizard nggak boleh gitu," tegur Talitha yang tak melunturkan kekehan Abizard. Untung beberapa detik yang lalu mobil Zufar berhenti. Karena terabaikan oleh anaknya, Talitha mencoba menegurnya kembali. "Abizard." "Papa," adu Abizard manja sembari menunjuk Talitha tanpa menatap. "Apa?" sahut Zufar sembari tangannya bersiap untuk memasukkan gigi mobil. "Mama nakal." "Abizard diapain?" Kini mobil melaju kembali, sesekali Zufar menatap Abizard yang mengadukan mamanya. Abizard bingung ketika ditanya seperti itu, karena menurutnya pertanyaan Zufar berlaku saat ia merasa sakit karena teraniaya. Tapi dia tidak merasa apapun, akhirnya diam. Dan kemudian. "Papa inum susu." tangan Abizard menepuk pelan d**a Zufar. Talitha yang melihatnya dengan mata melebar detik kemudian ia terkekeh pelan. Zufar yang mendengar kekehan Talitha langsung melotot ke arahnya. "Jangan bilang Abizard—“ Talitha manggut-manggut dengan diselingi kekehannya. Zufar yang melihat Talitha tersenyum seperti merasa menghangat dalam dirinya, ada rasa bahagia. Belum sempat minum s**u, Abizard sudah terlebih dulu tidur dengan kepala bersandar di d**a Zufar dengan wajahnya yang menghadap kiri ke arah Talitha. Dan hal itu membuat tangan bebas Zufar terulur mengusap puncak kepala Abizard dengan sayang. Tak lama kemudian, Zufar sampai di rumahnya dan segera keluar dari mobil. Tak lupa mengajak Talitha untuk masuk. “Assalamu’alaikum.” Zufar langsung masuk rumah dengan mengucap uluk salam. Talitha, ia merasa sungkan karena selama ini ia tak pernah bertamu. Pergi pun hanya ke toko roti, belanja, jalan-jalan ke tempat wisata. Itu saja. "Wa’alaikumussalam," sahut sang mama dengan pakaian khasnya, daster. Zufar langsung memperkenalkan Talitha Yang langsung menganggukkan kepalanya singkat dan tersenyum, meraih tangan mama Zufar dan menciumnya. Niatnya begitu, tapi mamanya Zufar malah memeluk dan mencium pipi Talitha. Ramah sekali. "Ini siapa, Zuf?" tanya mamanya sembari mengusap kepala Abizard yang masih asik terlelap. "Abizard," jawab Zufar. "Zufar izin tidurin dia dulu." Sang mama langsung mengangguk dan mempersilahkan Zufar.  Lantas mengajak Talitha mengobrol di ruang keluarga. "Nak Talitha ini rumahnya, mana?" tanya mamanya Zufar sembari mengambilkan minuman kemasan dalam kardus. "Perumahan permata hijau, Bu," jawab Talitha. "Oh, daerah situ," tanggapnya. "Jangan panggil ibu lah, panggil mama aja." sambungnya. Talitha tersenyum canggung. Bagaimana tidak?  Belum apa-apa dan bukan siapa-siapa. Sudah begini. "Itu si Abizard, mirip banget ya sama Zufar waktu kecil," ucapan mamanya Zufar membuat Talitha tersedak. Ia terkejut. Karena memang seperti itu yang dilihat mamanya Zufar, ada kemiripan dari wajah Abizard. Beliau berpikir bahwa Zufar tidak mau menikah dengan yang lain karena sudah memiliki wanita—Talitha. Bahkan sudah punya anak yang begitu menggemaskan. Zufar harus tanggung jawab. Mamanya Zufar langsung mengusap punggung Talitha. "Minum dulu," ujarnya sembari memberikan minuman pada Talitha. Begitu lega, Talitha melemparkan senyum untuk memberikan kepastian bahwa ia sudah baik-baik saja. Tak lama Zufar pun bergabung dengan mereka, duduk di samping sang mama yang langsung melemparkan pertanyaan diluar dugaan mereka. "Jadi, kapan kalian menikah?" Pertanyaan yang sedari tadi ditahannya kini terlempar sudah, karena Talitha adalah wanita pertama yang diajak Zufar berkunjung ke rumahnya. Kesimpulan bu Gina berarti Talitha yang menjadi menantunya—isteri Zufar. "Maksud Mama?" Terlupakan, nama mamanya Zufar tak lain adalah Ginanti. Seorang pensiunan bidan desa yang kini beralih menjadi ibu rumah tangga. Dengan sifat ramah, lembut dan tegas. Membuat dirinya tak bisa terbantahkan, apalagi beliau seorang ibu. Bu Gina tersenyum lembut. "Kalian udah punya anak, apa nggak ada niatan untuk menikah? Dosa kamu, Zuf. Udah bikin anak orang hamil bahkan sekarang udah lahir, nggak bertanggung jawab," ujarnya. "Kamu mau antar mama ke neraka?" tambahnya yang seketika membuat Talitha juga Zufar merinding. "Tapi, Ma." "Nggak usah ada kata tapi, bisa?" "Maaf, Bu." Talitha bersuara membuat Ibu Zufar menatapnya. "Kami hanya sekadar teman—“ "Teman macam apa yang dimaksud?" potong bu Gina membuat Talitha terdiam, dia takut untuk melawan tapi ini salah paham yang patut diluruskan kebenarannya. "Lusa, mama akan datang ke rumah orang tuamu. Kabari mereka, Talitha." tutup bu Gina sebelum meninggalkan Zufar dan Talitha yang merasa pening dadakan. “Ma!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN