-Menginginkan sesuatu tapi Allah memberinya sesuai dengan apa yang kita butuhkan-
Hari ini waktunya Talitha berkunjung ke toko rotinya, setelah beberapa hari lamanya ia tak menengok sama sekali. Sebelum itu, ia mengantarkan Abizard untuk imunisasi difteri terlebih dahulu. Pada saat di timbang berat badannya bertambah satu kilo, jadi 17 kilogram. Semakin gendutan. sebagai seorang ibu, Talitha merasa senang tentunya merasa tidak sia-sia merawat anak tunggalnya itu.
Karena waktunya suntik, Talitha memilih untuk berangkat awal. Ia ingin anaknya bisa disuntik untuk urutan pertama. Karena ia tahu betul Abizard akan menangis kencang sebelum disuntik, membuatnya harus mati-matian untuk menenangkan dan membujuknya. Saat proses penyuntikan dimulai, Talitha menggendong Abizard terlebih dahulu. Wajah batita itu tegang saat melihat jarum suntik yang panjang.
Tatapannya tak pernah lepas dari benda tajam tersebut. Pada saat disuntik pun ia sempat meliriknya, diam ekspresinya. Namun saat jarumnya lepas dari lengan kirinya seketika itu ia menangis kencang.
"MAMA!!"
"Tolong diusap-usap, ya bu. Sedikit ditekan juga," tutur sang bidan yang menyuntik Abizard.
"Makasih, bu."
Talitha pun beranjak pergi, bergeser tempat untuk antri menerima obat Abizard. Batita itu masih menangis, alih-alih terdiam yang ada malah semakin kencang saja.
"Sakit mama, huaaa!!" tangan kanannya terus memegang lengan kiri bekas suntikan tadi. Dan Talitha tak henti untuk menenangkannya.
Bukan hanya Abizard saja yang menangis tapi rata-rata memang menangis semua seusai disuntik imunisasi. Pesan dari bidan tadi tidak boleh minum es juga mandi.
Sejenak Abizard berhenti, ia menatap teman sebaya bisa menuturi jika tidak diperbolehkan minum es tapi ia sendiri malah merengek untuk minta dibelikan.
Anaknya Talitha
Hingga sekarang, di rumah pun Abizard tak mau diturunkan dari gendongan mamanya. Merasakan pegal, tentu saja. Masak hingga cuci baju dan menyapu, Talitha terus saja menggendongnya.
Hingga saat ia mencoba untuk membuka pintu depan, ia dibuat terkejut karena kehadiran seseorang tanpa diduga. Membuat Talitha terdiam dan hanya mampu menatap orang tersebut. mereka saling menatap tanpa mau berucap. Hingga..
"Abizard."
Saat itulah semua berubah, Abizard langsung semangat beralih ke dalam gendongan tersebut. Membuat Talitha buru-buru ke kamar untuk mengambil jilbabnya, karena ia tadi tidak memakainya. Lalu kembali keluar dengan orang tersebut yang kini duduk meleseh di karpet ruang tamu, Abizard menceritakan apa yang terjadi padanya hari ini.
"Papa, Abiz suntik sini." sambil menunjukkan lengannya yang kini tampak merah. Orang tersebut memperhatikan lengan Abizard yang memang benar adanya.
Dan ya, orang tersebut adalah Zufar. Masih ingat dengan panggilan Abizard untuk Zufar. Papa. Ya, Zufar lah orangnya. Entahlah ada apa gerangan, hingga membuat Zufar bertandang ke rumah Talitha.
"Nangis, nggak?" tanya Zufar sembari mencium pipi Abizard yang menggeleng, hal itu membuat Talitha tertarik untuk bergabung dan duduk meleseh disana.
"Terus tadi yang nangis siapa?" Zufar menoleh ke arah Talitha yang kini sudah berjilbab. Ada pikiran terlintas dalam benaknya, kenapa juga berjilbab toh sudah tahu, lagian di rumah juga.
Talitha tak hanya bertanya ia juga menunjukkan rekaman video saat Abizard disuntik, karena urutan nomor pertama. Sementara Abizard langsung mengelak, batita itu sudah pandai bersilat lidah. Membuat Talitha heran, terkadang. Anaknya siapa batita itu? Ia menjadi ragu, tapi dari bayi batita itu bersamanya.
"Bukan Abiz, Mama."
Talitha terkekeh. "Bukan Abizard?" Abizard menggeleng.
"Tak oweh nanis," katanya membuat Talitha semakin gemas saja. Bahkan Zufar yang sedari tadi melihat interaksi itu kini ikut tertawa.
"Oke, udah gede, ya? Berarti nggak boleh minta gendong lagi," ujar Talitha menatap Abizard yang menganggukkan kepalanya, lucu.
Sejenak hening, Abizard bersuara dengan menanyakan Zufar bahkan kepalanya mendongak untuk melihat wajahnya. "Papa bawa apa?"
Talitha menatap anaknya dan Zufar yang menunjukkan mainan mobil remot dan bingkisan makanan kecil. Yang Zufar tahu jajanan kesukaan Abizard, karena pertemuan mereka. Membuat Zufar sedikit mengingatnya.
"Mobil remot, Abizard suka?" Abizard mengangguk kecil dan ikut memegang mobil yang ukurannya lebih besar dari mainan mobil-mobilnya.
Zufar tersenyum, ia bahagia karena bisa membuat Abizard senang. "Ayo, kita mainkan!"
Abizard memasang wajah serius, memperhatikan Zufar yang sedang mengoperasikan remot pada mobil tersebut dan menunjukkan caranya pada Abizard. Sementara Talitha hanya mampu diam dan melihatnya, bersyukur pundaknya tertolong oleh kedatangan Zufar. Ya, ya... lagi dan lagi Zufar pahlawan kesiangan itu.
Hingga Abizard terlelap dalam pangkuan Zufar, karena tak terdengar lagi suara antusias anak yang dipangkunya membuat Zufar menundukkan kepalanya.
Menghela napasnya, bibir Zufar tertarik lantas tangannya terulur untuk mengusap keringat pada bagian kening Abizard.
Sementara Talitha di dapur sedang membuatkan minuman, ia berani meninggalkan Abizard saat benar-benar tenang. Karena takut nanti ia akan kembali rewel seperti sebelumnya. Dan pada saat ia kembali ke ruang tamu, pemandangan yang dilihatnya—Zufar sedang menggendong Abizard yang terlelap.
Buru-buru Talitha meletakkan nampannya dan menunjukkan kamar yang akan ditempati Abizard. Saat pintu kamar terbuka lebar, wangi parfum soft dan minyak telon berpadu ke dalam indra penciuman Zufar.
Begitu di rasa aman, Zufar pun mengundurkan diri. Membuat Talitha segera mendekat ke arah Abizard, meletakkan bantal lain untuk penghalang. Agar tidak terjatuh ketika bangun dan nyaman saat terlelap.
***
"Silahkan diminum," ujar Talitha.
Zufar mengangguk lantas meraih cangkir teh dan menyeduhnya, bersamaan dengan itu suara Abizard merengek kembali terdengar.
"Hei." Talitha buru-buru masuk ke dalam kamar dan melihat Abizard yang tampak seperti masih mengantuk.
"Papa?" tanya Abizard sembari menggaruk kepalanya.
"Ayo, sama mama!" sahutan Talitha malah membuat Abizard mencak-mencak marah seraya memukul kepalanya sendiri. Membuat Talitha langsung bertindak untuk memegang tangan Abizard. Kebiasaan memang, jika marah.
"Papa!"
Zufar yang mendengar rengekan Abizard itu sudah berada di daun pintu dan saat Abizard melihatnya, batita itu langsung mengulurkan tangannya untuk meminta gendong. Membuat Talitha langsung memberi ruang untuk Zufar menggendong Abizard.
"Kenapa pake nangis? Papa nggak kemana-mana," tutur Zufar yang mendapat tanggapan pelukan Abizard dengan menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Zufar.
Menit kemudian, Abizard menatap Zufar yang mengangkat alisnya namun bibirnya tersenyum. Lalu Abizard kembali seperti semula. Zufar pun membawa Abizard keluar kamar.
Tiba-tiba batita itu menghentikan langkahnya. "Itu, Papa," kata Abizard seraya menunjuk ke arah kain bermotif batik yang tadi digunakan Talitha untuk menggendongnya.
Zufar menoleh ke belakang—kamar, kainnya sudah berada di tangan Talitha. "Papa nggak bisa." alibinya. Malulah, Zufar pakai seperti itu.
Talitha menyahut, "Pakai ini, bisa?" sembari membawa scots carrier baby.
Zufar menatap Talitha dan yang dibawanya secara bergantian. "Tapi nggak bisa cara pakainya."
"Abizard turun dulu," ujar Talitha pelan. Tapi Abizard tidak mau dengan memukul bahu Zufar. "Kok pinter, ya. Ditinggal Om Zufar balik tau rasa," kata Talitha yang malah membuat Abizard menangis, lagi.
"Udah diem, nanti nggak jadi digendong kalau nangis." ampuh, ucapan Zufar langsung membuat Abizard terdiam. "Turun dulu," kata Zufar seraya menurunkan Abizard dari gendongan dan meletakkannya di kasur.
Lalu Talitha memasangkan scots carrier baby pada tubuh Zufar yang menatap wajahnya, begitu cepat. Selesai, dengan Abizard yang kini sudah kembali ke dalam gendongan Zufar.
"Terus kalau udah gendong mau kemana?" tanya Talitha seraya mengusap kepala Abizard.
"Ngeng odong-odong, Papa," jawab Abizard yang menatap wajah Zufar yang mengerutkan dahinya itu.
"Papa nggak mau lah," sahut Zufar dengan menyebutkan dirinya, papa. Lagi. Ia tak merasa terbebani dengan panggilan itu, karena Abizard ia menemukan sesuatu yang telah lama dipendamnya.
Berniat menggoda Abizard, malah berakhir dengan rengekan batita itu bahkan sekarang matanya berkaca-kaca. Abizard menangis membuat Zufar langsung memeluk batita itu dengan sayang.
"Diem atau nggak jadi naik odong-odong," kata Zufar sembari mengusap punggung Abizard yang menatapnya dengan polos.
"Ngeng odong-odong."
"Cium dulu." Zufar menunjuk pipinya dengan jari telunjuk, segera Abizard mencium pipi Zufar.
Abizard mencium dengan keras kedua pipi, dahi dan terakhir hidung, itu pun nyaris Abizard gigit jika Zufar tak segera menghindar. Sementara, Talitha yang melihat adegan itu merasa diremas-remas hatinya. Terharu dan sedih ia rasakan.
"Izin sama Mama," titah Zufar.
"Ngeng odong-odong sama Papa, oweh?" suara imut Abizard membuyarkan lamunan Talitha yang segera menatap batita itu dengan alis terangkat.
Kali ini Talitha mengizinkan, maka dari itu ia menganggukan kepalanya lantas tersenyum. membuat Abizard menatap Zufar kembali.
"Sama Mama, oweh."
"Nggak ajak Mama?" Abizard menggeleng.
"Kok gitu?"
"Mama stay home aja."