-Kebahagian yang hakiki tak dapat dibeli dengan materi-
Setelah ada seseorang yang memanggil namanya—Talitha, Abizard yang terdiam kini justru bersorak riang. Tak peduli dengan raut wajah sang mama yang berubah, malah Abizard tak segan meminta gendong pada orang tersebut. Belum sempat mencegahnya, kini Abizard sudah masuk ke dalam gendongan orang tersebut.
Zufar, orang tersebut adalah ia. Awalnya Talitha melemparkan senyuman, ia pikir yang memanggilnya itu teman SD-nya tapi ternyata bukan. Sebab, Talitha tak terlihat jelas dari jarak pandang jauh.
Dan kini ia hanya orang ketiga bagi dua pria berbeda yang sedang bermain itu. Ia duduk di bangku taman untuk memperhatikan Abizard. Ya, tempat acara pernikahan Satria ada tamannya, kecil sih. Talitha seperti orang tak berguna duduk sendirian seperti meratapi nasib.
Namun di sisi lain, Talitha bersyukur karena Abizard melupakan permintaan yang tak terkabulkan tadi. Jika tidak lupa nanti Talitha akan mengucapkan terima kasih pada pria itu, ingatkan jika perlu.
Seperti lelah bermain Abizard pun menghampiri Mamanya yang duduk termenung. "Mama."
Talitha sedikit terperanjat. "Mainnya sudah?"
Abizard mengangguk, tetesan peluhnya mengalir di bagian pelipisnya. Membuat Talitha buru-buru menarik tisu dari tas kecil milik Abizard. Ya, kalau bawa anak kecil rempongnya nggak bakal tertinggal.
"Kasian sekali anak mama," ujar Talitha seraya mengelap peluh Abizard. "Mau minum?" lanjutnya menawarkan air.
Abizard mengangguk membuat Talitha tersenyum dan segera mengambil air botol mineral yang dibawanya dari rumah.
"Bismillah, pelan-pelan."
Singkat cerita itu diperhatikan Zufar tanpa berkedip, serasa pemandangan tersebut adalah golden memories baginya. Bahkan tak mengelakkan lagi, ia menarik kedua sudut bibirnya untuk menampilkan senyumannya.
"Kita kasih salam ke Om Satria, ya. Abis itu balik, oke?" Abizard mengangguk dan segera Talitha merapikan bawaannya lalu mengulurkan jari telunjuknya untuk menggandeng Abizard. Tapi si kecil itu malah meminta gendong Zufar.
It's okey, Talitha butuh pasokan kesabaran untuk hari ini.
Begitu di tempat aula, Abizard kembali rewel karena ia ketakutan melihat pengantin perempuan yang disebutnya… hantu. Oh, my God Abizard. Jika bukan anaknya sudah dipastikan Talitha menyumpali dengan tisu bekas lap keringat Abizard.
"Takut, Mama."
Talitha seketika mendekatkan diri ke arah Abizard berniat untuk menenangkannya. "Kenapa?"
"Balik Mama!" tangisan Abizard pun pecah, Zufar yang menggendong Abizard pun bingung harus bertindak seperti apa. Namun sejenak ia pun memberikan solusi.
"Gimana kalau kamu duluan, biar Abizard sama aku."
Talitha berpikir sejenak dan kemudian menggeleng, ia langsung merebut Abizard dari gendongan Zufar. Ia terlalu takut jika tindakan Zufar ini adalah modus saja. Penculikan. Kejahatan ada dimana-mana dan bisa terjadi kapan saja juga kepada siapa saja. Talitha berwaspada akan hal itu.
Kemudian Talitha tetap memaksa Abizard, diajaknya ke atas pelaminan. "Takut Mama."
Zufar mencekal lengan Talitha. "Abizard itu nangis karena ketakutan."
"Apa pedulimu? Abizard bukan urusanmu," kata Talitha tajam.
Sepertinya Talitha ini terlalu su'udzan dengan pria dihadapannya ini. Sebab, semenjak bertemu tadi ia menatap sinis dan berkata tajam. Padahal Zufar sama sekali tidak melakukan apapun. Apalagi dengan yang disangka-sangka oleh Talitha padanya.
"Kamu ini kenapa?" tanya Zufar heran.
Mulut Talitha terkatup rapat dan bersamaan dengan aksi tegang keduanya, Gibran datang. Pria yang berpakaian kemeja batik menatap sebal ke arah Talitha. Setelah memintanya mengambilkan makanan malah menghilang dan apa.., pedekate dengan someone. Ck!
"Dicariin, ternyata disini," ujarnya yang kentara sekali akan tingkat kekesalan pada Talitha.
Tapi sebelum memberi kesempatan Talitha untuk menyahut ucapannya. Gibran lebih dulu mengambil alih Abizard lalu menggandeng tangan Talitha dan membawanya pergi tanpa mengucapkan kata permisi pada Zufar yang diam mematung. Ya, Zufar terlalu terkejut dengan kedatangan Gibran.
Dia bukan janda?
***
Gibran membawa Talitha dan Abizard ke pelaminan dimana mempelai pengantin sedang berdiri dengan bahagiannya disana. Tak mempedulikan Abizard yang menangis, Gibran terus saja menggiring Talitha hingga tiba di depan pengantin. Sementara Abizard langsung menyembunyikan wajahnya di bahu Gibran bahkan berteriak meminta tolong pada Zufar yang masih berdiri di tempat sebelumnya.
"Help me, Papa!"
Kedua mempelai pengantin itu bingung, tapi kemudian terkekeh pelan karena tingkah Abizard yang menurutnya lucu. Kenyataannya Abizard ketakutan. Ketika ditanya kenapa, jawaban Talitha hanya karena mengantuk saja. Sebelumnya ia tersenyum canggung tidak mungkin juga ia berkata jujur bahwa Abizard takut dengan pengantin wanita.
Dan saat isteri Satria—Sindy melongokkan wajahnya untuk melihat Abizard. Sontak hal tersebut langsung membuat Abizard histeris. "Takut, Mama!"
Buyar sudah.
Gibran pun mengajak Talitha untuk segera undur diri, tanpa ada foto bersama untuk kenangan. Karena tak tega membiarkan Abizard menangis terus-menerus dan mempermalukannya di depan para tamu undangan.
"Kita langsung balik aja, G. Kasian Abi," ajak Talitha.
Gibran pun menerimanya langsung ia juga ingin segera istirahat sebelum nanti kembali ke luar kota untuk bekerja. Akhirnya pun Gibran menyerahkan Abizard pada Talitha dan segera mengambil mobilnya.
Sepanjang perjalanan Abizard terus menangis di pangkuan mamanya. Bahkan sesekali tangan mungil memukul sang mama kala bertanya maunya apa. Sementara Talitha jadi serba salah, bingung harus bagaimana. Gibran masih sibuk menyetir.
Hingga lelah menangis Abizard akhirnya diam karena terlelap, pun masih ada sesenggukan kala ia bernapas.
***
Sore hari hendak menjelang adzan maghrib Abizard kembali rewel. Gibran sudah kembali ke tempat muasalnya, bekerja. Kini Talitha yang harus menangani Abizard sendirian.
"s**u, Mama!"
Mereka tengah asyik menonton tayangan yang ada di layar televisi. Eh, Abizard malah merusak acara Talitha dengan sikap rewelnya. Talitha jelas tidak bisa memenuhi permintaan Abizard yang satu ini.
"Nggak bisa, Abi," perkataan Talitha ini membuat Abizard memukul bahkan memaksa mamanya untuk membuka bajunya. Talitha gemas langsung mencium pipi Abizard lalu menerima; membuka dua kancing bajunya.
Abizard senantiasa menunggu dan ketika apa yang dimaksudkannya tercapai ia segera duduk di pangkuan mamanya. Kemudian tindakan Abizard selanjutnya membuat Talitha meringis karena digigit.
"Tak sedap," kata Abizard seraya lidahnya dikeluarkan untuk menghilangkan rasa tak enak, padahal tidak ada apa-apa.
"Dibilangi ngeyelan." lalu mengancing kembali bajunya. Dan beralih pada botol s**u yang tadi sempat dibuatnya kala Abizard meminta s**u.
Abizard pun meminum susunya. "Mama." ia mengulurkan tangan.
"Anak siapa, sih, ini?"
"c*m, Mama!" seru Abizard seraya menyerahkan gendongan yang ada bentuk kepala beruang.
Talitha menerimanya. "Tapi mama salat dulu, ya?"
"Tak oweh." Abi merengek.
"Tak oweh, gimana?" Talitha segera beranjak. "Bentaran doang," katanya lagi sebelum berlari kecil ke kamar mandi. Dan saat itulah Abizard menangis.
Sesaat kemudian Talitha kembali dengan menggeram menahan kesalnya, tangannya berkacak pinggang. "Kenapa, sih?"
"Gendong."
"Iya, nanti. Sekarang mama salat dulu."
"Tak oweh."
Akhirnya Talitha pun mengalah sejenak dan menggendong Abizard. "Terus mau kemana?" tanya Talitha kemudian.
"Ngengeng odong-odong," jawab Abizard seraya memberikan botol susunya yang tersisa sedikit itu pada mamanya.
"Nggak ada, odong-odongnya libur," balas Talitha.
"Ada!" Abizard mencak-mencak dalam gendongan mamanya bahkan memukul bahu sang mama dengan keras.
"Eh, kok pinter banget, ya?" gumam Talitha gemas.
"Ngengeng odong-odong, Mama," ujar Abizard dengan kesal tapi tangannya terulur menyentuh wajah mamanya; dengan cara membingkai.
"Oke, tapi mama salat dulu. Nanti Allah marah, kalau nggak salat."
Talitha membawa Abizard ke kamar kemudian menurunkannya dari gendongan. Langsung saja Abizard mencak-mencak sambil merengek. Talitha tidak peduli karena waktu maghrib nyaris usai. Jika terus memperdulikan Abizard ia akan kehilangan waktunya.
Begitu takbir dimulai kemudian disusul membaca surat Al-fatihah dan surat lainnya. Abizard menggigit tangan mamanya yang sedang bersedekap di atas perut. Talitha terus melanjutkan salatnya, ketika sujud pun Abizard memukulnya dan kemudian duduk tahiyat akhir Abizard duduk di pangkuan mamanya. Usai marah-marah, Abizard kini malah memandangi wajah sang mama lalu menciuminya. Setelah salam, Talitha menatap Abizard dan tersenyum lalu memeluknya.
"Doa dulu." Talitha menangkupkan tangan mungil Abizard. "Abizard mau apa?"
"Papa."
Setelah mengatakan demikian Abizard sedikit terperanjat. “Eh, ngengeng odong-odong.” Talitha hanya mampu mendengkus.