BAB 21 / Pesan Papa Untuk Diandra

2350 Kata
Aku masih terbaring di ranjang sedangkan Angga masih duduk menemaniku. Dia tampak sibuk dengan hpnya. “Angga, kalau kamu mau pergi silahkan. Di sini banyak suster jadi kalau saya butuh sesuatu bisa meminta pertolongan mereka.” Ucapku. Angga tersenyum padaku. “Tidak, saya akan terus menemani kamu sampai kondisi kamu membaik.” Jawab Angga. “Tapii.” Ucapanku langsung terhenti. “Sttts, lebih baik kamu istirahat lagi. Kalau kamu ingin saya pergi setidaknya kamu harus sehat agar saya bisa pergi meninggalkan kamu dengan tenang.” Jelas Angga. Mendengar ucapan Angga membuatku berpikir bahwa lebih baik aku istirahat agar segera pulih dengan begitu Angga akan tenang dan tidak perlu repot menemaniku. Mataku terpejam, beberapa saat tanpa tersadar aku tertidur kembali mungkin efek obat yang baru saja aku minum. Melihatku tertidur Angga tersenyum tapi sesaat kemudian dia langsung mengalihkan pandangannya ke HP miliknya. Angga sedang memeriksa emailnya, ternyata sebelumnya dia meminta sekertarisnya untuk mengirimkan file pekerjaan yang harus dia selesaikan ke email karena dia tidak akan masuk kerja hari ini. Ada beberapa e-mail masuk, Angga mengecek semuanya sambil sesekali melihatku untuk memastikan kondisiku baik-baik saja. *** Atin sedang membantu si kembar berganti pakaian, sebentar lagi mereka pergi bersama Ayahnya dan Fitri ke mall. Den akan menepati janjinya untuk mengajak si kembar bermain. Den menyusul anak-anaknya di kamar untuk memastikan apakah mereka sudah siap. “Raine.. Radhi.. Kalian sudah siap?” Tanya Den. “Sudah Ayah.” Jawab Raine sambil bersorak senang. Dibandingkan dengan Radhi, Raine memang lebih manja pada Ayahnya mungkin karena dia perempuan dan anak bungsu sehingga Raine lebih dekat dengan Ayahnya. “Kalau begitu ayo kita berangkat.” Ajak Den. Mereka bertiga keluar dari kamar si kembar diikuti langkah Atin, Fitri yang masih sibuk dengan hpnya langsung bangkit ketika menyadari Den datang. “Sudah siap anak-anak?” Tanya Fitri pada si kembar. Berbeda dengan Fitri yang tampak ceria menyapa mereka, si kembar justru tampak datar saat menjawab pertanyaan mereka bahkan Radhi hanya mengangguk pelan untuk menjawab pertanyaan Fitri. Den menggandeng tangan Raine sedangkan Radhi berjalan di depan mereka, melihat Radhi yang jalan sendiri Fitri berinisiatif untuk menggandeng tangannya tapi Radhi menghindar, dia justru mundur kearah Den dan meraih tangan Den untuk ikut digandeng olehnya. Fitri tampak kecewa dengan tindakan Radhi tapi dia tidak bisa berbuat banyak selain terus melangkah keluar dari rumah. Saat tiba di depan mobil, Fitri yang berjalan di depan mereka langsung memilih bagian kursi depan untuk dia duduk, dia membuka pintu mobil. Den hanya memperhatikan tingkahnya. “Tante, aku mau duduk di depan. Tante di belakang saja dengan kakak.” Ucap Raine. Semenjak kematian Anin, Raine memang tidak membiarkan sembarang orang duduk di samping Ayahnya. Kursi mobil bagian depan hanya boleh diduduki oleh dia, aku, dan neneknya. Pernah suatu hari saat kami akan pergi Raine sendiri yang memintaku duduk di kursi bagian depan tapi aku menolaknya dan lebih memilih duduk bersama Radhi di belakang. Den hanya terdiam mendengar ucapan putri kecilnya, dia lebih memilih masuk kedalam mobil karena tahu Raine pasti memenangkan perdebatan jika Fitri tetap pada pendiriannya untuk duduk di depan. Radhi dan Raine memang memiliki sifat kritis, mereka memang terlihat lebih dewasa dibanding anak-anak seusianya Mungkin keadaan juga yang membuat mereka seperti itu, kehilangan sosok ibu diusia kecil memaksa mereka harus lebih mandiri. “Raine tidak ingin duduk bersama kakak di belakang?” Tanya Fitri berusaha agar Raine mau duduk bersama kakaknya. “Ngga.” Raine menjawab singkat sambil bergegas masuk kedalam mobil, Den tertawa kecil saat melihat adegan lucu itu. Merasa kalah dari Raine, Fitri pergi bergegas masuk kedalam mobil, mau tidak mau dia harus duduk di kursi belakang bersama Radhi. Den mulai melajukan mobilnya, di kursi belakang Fitri merasa kurang nyaman karena Radhi yang tidak mau diam saat duduk, Fitri menegur Radhi tanpa sadar. “Radhi, diam! Duduk yang benar.” Ucap Fitri dengan suara sedikit lantang. Ucapan Fitri langsung membuat Radhi terkejut dan diam. Den yang mendengar suara lantang Fitri langsung melihat ke arah spion mobil untuk memastikan apa yang terjadi. Radhi menatap Fitri dengan tatapan kesal, mendengar kakaknya dibentak membuat Raine melakukan hal yang sama. Dia langsung menatap Fitri dengan tatapan tajam. Menyadari dirinya menjadi perhatian banyak orang Fitri langsung tersadar dengan apa yang baru saja dia perbuat. “Maksud Tante kalau kamu banyak gerak takut jatuh.” Ucap Fitri seolah berusaha meluruskan ucapannya tadi. Radhi dan Raine yang terlanjur kesal tidak merespon ucapan Fitri sedangkan Den hanya fokus menyetir. Suasana di dalam mobil hening, Fitri berusaha membuka topik obrolan. “Radhi dan Raine mau makan apa nanti setelah main?” Ucap Fitri. Si kembar tidak menjawab pertanyaan Fitri karena masih merasa kesal. Den yang melihat tingkah anak-anaknya menegur mereka dan meminta si kembar untuk menjawab pertanyaan Fitri. Den memang mendidik anak-anaknya dengan tegas, dia tak sungkan menegur si kembar jika mereka salah walaupun dengan cara yang halus tapi ucapan Den selalu si kembar turuti. Mendengar teguran sang Ayah si kembar menjawab singkat ucapan Fitri. “Terserah.” Ucap Radhi dan Raine kompak. Fitri terdiam saat mendengar jawab Radhi dan Raine. *** Suster datang ke kamarku untuk melepas infus yang masih terpasang di tanganku. Sore ini aku sudah diperbolehkan pulang oleh dokter, Angga sedang pergi mengurus administrsi. Suster pergi meninggalkanku setelah infus dilepas aku duduk menunggu Angga datang menjemputku. “Di, sudah siap?” Terdengar Angga memanggilku saat tatapanku masih menatap daun-daun di balik jendela. “Sudah, Angga biayanya nanti saya ganti ya. Nanti saya transfer.” Angga langsung menolak, sama seperti Den dia juga keberatan saat biaya rumah sakit akan aku ganti. Kami berjalan beriringan di lorong rumah sakit, karena baru beberapa hari yang lalu aku dirawat di rumah sakit ini membuat beberapa suster mungkin masih mengenaliku, mungkin karena sebelumnya Den yang merawatku sehingga membuatku lebih mudah menarik perhatian untuk mereka dan akhirnya aku lebih diingat oleh mereka. Saat berjalan beberapa kali aku berpapasan dengan suster yang menyapaku, dari tatapan Angga menunjukan dia merasa heran kenapa suster-suster itu seolah mengenaliku. Aku balas sapaan mereka sambil tersenyum. Langkah kaki kami terus menuju pintu utama tapi aku melihat sosok yang beberapa hari aku hindari dan ternyata dia juga melihat ke arahku sehingga tidak mungkin lagi bagiku menghindar. Mata kami saling menatap, Angga yang berjalan di sampingku tidak menyadari kalau saat ini aku sedang kebingungan dengan apa yang harus aku lakukan saat berhadapan dengannya nanti. Jarak kami semakin dekat, dia tampak melihat kearah Angga tapi Angga tidak menyadari kalau ada orang yang sedang memperhatikannya. “Di, kamu sakit?” Pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Den saat kami berhadapan. Kata yang membuka percakapan kami setelah beberapa hari kami hilang kontak karena aku sengaja menghindari dia. Ada perasaan sedih di hatiku, aku tidak bisa membohongi hatiku bahwa jauh darinya dan keluarganya membuat aku sangat merasa kehilangan mereka, aku yang biasanya nyaman dengan kesendirian sekarang merasa membutuhkan mereka dalam hidupku. Angga menoleh kearahku saat menyadari seseorang di hadapan kami bertanya padaku. Aku masih menatap Den dan tidak langsung menjawab pertanyaan yang dia lontarkan untukku. “Iya mas.” Aku hanya menjawab singkat pertanyaan Den. “Kamu sakit apa? Sekarang bagaimana kondisi kamu?” Den yang awalnya berencana menanyakan kondisiku pada temannya yang menjadi dokterku langsung mengurungkan niatnya saat itu karena menyadari kabar yang beredar di kalangan suster bahwa aku adalah pacarnya. Takut kabar semakin melebar dia memilih seolah tidak mengetahui bahwa aku berada di rumah sakit tapi ternyata sekarang kami dipertemukan. “Kondisiku baik-baik saja mas, dokter sudah mengizinkan aku pulang.” Aku menjelaskan pada Den tentang kondisiku. Angga hanya mendengarkan obrolan sampai aku menyadarinya dan memperkenalkan mereka berdua. “Angga, kenalkan ini mas Den.” Ucapku. Angga langsung menyodorkan tangannya dan dibalas oleh Den, akhirnya mereka bersalaman sambil menyebutkan nama mereka masing-masing. Dari raut wajah mereka aku bisa melihat pertanyaan yang sama diantara mereka tentang ada hubungan apa antara aku dengan dia. Setelah beberapa saat akhirnya aku dan Angga berjalan meninggalkan Den yang juga berjalan kearah ruangannya. Den menoleh kearahku, saat dia melihat kearahku Den melihat Angga merangkulku karena sebelumnya aku sempat hampir terjatuh. Dari kejauhan Den memperhatikan kami sampai dia memutar pandangannya kembali tapi disaat itu giliran aku yang melihat kearahnya dan aku melihat Den terus berjalan menjauh dariku. Menyadari aku yang menatap ke belakang Angga langsung bertanya padaku. “Di, kamu kenapa? Ada yang lupa?” Tanya Angga. Aku menggelengkan kepalaku. *** Papa sedang menyiram tanaman saat mama datang menghampirinya sambil memegang hp. “Diandra ini kebiasaan, selalu sulit dihubungi.” Mama menggerutu dengan suara lantang agar suaminya mendengar. “Kenapa ma?” Tanya Papa. “Ini lo Pa, Diandra itu selalu susah kalau dihubungi pasti saja telepon Mama tidak diangkat. Bikin Mama cemas saja, Mama khawatir sesuatu terjadi padanya.” Ucap Mama cemas. “Mungkin dia sedang sibuk, atau mungkin dia sedang tidak pegang hp jadi dia tidak tahu kalau Mama menelpon.” Papa berusaha menenangkan istrinya agar tidak cemas. “Ya, Mama hanya takut saja kalau sesuatu terjadi padanya kan di berita-berita banyak kejadian aneh-aneh Pa, apalagi dia tinggal sendiri kalau sesuatu terjadi padanya siapa yang akan menolong dia.” Jelas Mama. “Hus.. Hati-hati kalau ngomong.” Papa mengingatkan Mama untuk berhati-hati saat berbicara. Mama terdiam saat Papa memperingatinya. “O iya Pa, Mama belum cerita ya. Saat ini sebenarnya ada laki-laki yang sedang mendekati Diandra Pa, namanya Angga. Dia pengacara, jadi sebenarnya Angga itu teman lama Diandra yang memeng menyukai Diandra dari dulu tapi memang dulu Diandra sengaja menjauh darinya sampai mereka tidak pernah bertemu tapi baru-baru ini mereka bertemu lagi dan Angga masih mencintai Diandra.” Mama bercerita pada Papa. Sebenarnya saat baru pulang dari apartemenku begitu tiba di rumah mama berencana menceritakannya pada Papa tapi karena banyak hal yang harus Mama kerjakan membuatnya lupa dan baru kali ini Mama bercerita pada Papa tentang Angga. Papa yang biasanya acuh entah kenapa kali ini antusias mendengar cerita mama bahkan saat Mama menyebutkan ada laki-laki yang sedang mendekatiku Papa langsung menghentikan kegiatannya dan menatap Mama agar bisa mendengar lebih jelas apa yang Mama bicarakan. “Lalu sekarang bagaimana?” Tanya Papa karena merasa penasaran dengan kelanjutan cerita Mama. “Selama Mama di sana beberapa kali kami bertemu, Mama nilai dia sosok baik, sopan, dia juga terlihat sangat perhatian ke Diandra.” Mama melanjutkan ceritanya. “Diandra sendiri bagaimana? Dia merespon perhatian yang laki-laki itu berikan?” Papa kembali bertanya. “Hmm.. Anak kamu itu sejak kapan sih dia mau didekati laki-laki?” Mama balik bertanya pada Papa karena mereka sama-sama tahu bahwa aku memang sangat sulit menerima sosok laki-laki dihidupku. “Jadi?” Papa semakin penasaran. “Sebelum Mama pulang Angga datang menemui Mama dan menceritakan perasaannya pada Diandra bukan hanya itu dia juga meminta izin pada Mama untuk mengutarakan perasaannya lagi pada Diandra. Mama nilai berarti dia serius dengan Diandra, tapi setelah Mama tanya pada Diandra ternyata dia tidak langsung menjawab perasaaan Angga padanya, Diandra meminta waktu pada Angga untuk memikirkannya terlebih dahulu.” Lanjut Mama. Papa hanya bisa terdiam setelah mendengarkan cerita Mama kemudian melanjutkan kembali mengurus tanaman yang sempat terhenti tadi. Melihat tingkah suaminya Mama menggerutu dalam hati. “Kebiasaan main pergi tanpa merespon cerita aku.” Ucap Mama. Papa memang seperti jarang sekali merespon apa yang dia dengat secara langsung, biasanya Papa akan berusaha mengartikan terlebih dahulu informasi yang dia dengar kemudian bertindak setelah memikirkan tindakan apa yang harus dia ambil. Mama langsung pergi ke dalam rumah, meninggalkan Papa yang masih asik dengan tamanan yang sedang dia siram, tapi sebenarnya saat ini Papa sedang berpikir bagaimana caranya berbicara padaku tanpa melukai perasaanku, ternyata Papa berencana menghubungiku untuk membahas masalah Angga ini. *** “Di, kamu yakin sudah baik-baik saja? Apa saya perlu meminta Anet menemani kamu di sini?” Angga bertanya karena merasa cemas jika harus meninggalkan aku sendiri di apartemen. “ Tidak perlu Angga, aku baik-baik saja, lebih baik kamu pulang sekarang pasti banyak pekerjaan kamu yang tertunda gara-gara menemani aku di rumah sakit.” Jawabku. Tiba-tiba tangan Angga kembali memegang keningku untuk memastikan apakah aku benar-benar baik maklum saat keluar dari rumah sakit tubuhku masih sedikit demam. "Aku baik Angga.” Ucapku berusaha meyakinkan Angga. Angga langsung masuk ke dalam rumah, menyimpan makanan yang sengaja dia beli tadi untukku dan obat-obat yang sudah dokter resep kan untukku. “Kalau begitu saya pergi dulu, ingat kalau ada apa-apa kamu hubungi saya.” Ucap Angga. “Iyaa.” Angga lalu pergi meninggalkan aku yang masih duduk di kursi tamu. Dering hp terdengar dari dalam tasku, aku langsung mengambil HP dan melihat siapa yang menelponku. “Papa.” Aku merasa heran kenapa tiba-tiba Papa menghubungiku karena Papa memang sangat jarang menelponku. Aku langsung menerima telepon Papa. “Halo Pa.” Sapaku pada Papa. Papa langsung menjawab sapaanku dan menanyakan kabarku, aku jawab pertanyaan Papa bahwa kondisiku baik-baik saja, aku sengaja tidak menceritakan kondisiku yang sedang sakit karena takut membuat Mama dan Papa cemas. “Papa dan Mama apa kabar?” Aku balik menanyakan kabar Mama dan Papa. Papa menjawab bahwa kabar mereka baik, aku langsung menanyakan maksud Papa menghubungiku. Ternyata Papa menceritakan bahwa Mama sudah bercerita padanya tentang Angga. Sontak aku terkejut mendengar ucapan Papa, Mama ternyata menceritakan tentang Angga pada Papa. Dengan gaya bicaranya Papa menasehati aku untuk coba membuka hati dan memberi kesempatan pada Angga jika memang Angga sosok laki-laki yang baik. Papa yang biasanya acuh tapi kali ini coba ikut terlibat untuk menasehatiku. Aku terus mendengarkan nasehat yang Papa berikan. “Iya Pa. Angga memang laki-laki yang baik tapi memang saat ini aku belum yakin dengan perasaanku padanya Pa.” Ucapku. Papa mengatakan keputusanku sudah tepat dengan memikirkan terlebih dahulu keputusan yang akan aku ambil tapi jangan sampai aku memberi harapan palsu pada Angga. “Iya Pa, aku juga sudah bilang ke Angga kalau ternyata ada wanita lain yang lebih pantas untuk dia perjuangkan aku bilang silahkan. Jadi aku sendiri tidak menggantungkan status Angga.” Aku mencoba menjelaskan pada Papa tentang statusku saat ini dengan Angga, setelah mendengarkan penjelasanku Papa berpesan untuk mulai memikirkan masa depanku, aku tidak bisa hidup sendiri apalagi aku sebagai anak tunggal menurutnya jika Papa dan Mama sudah tidak ada aku membutuhkan teman yang bisa mendampingiku. Mendengar ucapan Papa membuatku sedih tapi aku berusaha menutupinya. “Papa dan Mama jaga kesehatan ya. Bye Pa.” Telepon kamipun terputus. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN