Waktu di jam dinding apartemen menunjukkan pukul sebelas lebih lima belas menit. Hening, lampu-lampu kota di balik jendela menyala temaram, sesekali terdengar suara kendaraan di kejauhan. Di dalam kamar, Disa duduk mematung di tepi ranjang, matanya mengarah ke pintu, sementara tangan kecilnya menggenggam erat tas ransel hitam. Hatinya berdebar keras. Ini dia… saatnya. Disa berdiri perlahan, langkah kakinya hati-hati melangkah ke arah pintu. Ia belum sempat ganti baju, masih memakai kaos polos dan celana training sederhana yang tadi dipakai saat pulang dari rumah. Rambutnya dikuncir asal, wajahnya pucat, tapi tekadnya bulat. Perlahan, Disa membuka pintu kamarnya. Engsel pintu berdecit pelan, membuat jantungnya makin nyaris copot. Ia melongok keluar, mengintip lorong apartemen. Sepi. Di

