DUA PULUH DUA

676 Kata

Keadaan berbalik begitu cepat. Diani bukan gadis periang lagi, seperti biasanya. Dia lebih sering terdiam dan menyibukkan diri dengan pekerjaan yang menumpuk. Bahkan minuman kesukaannya pun berubah, menjadi black coffee yang sering Alaric pesan. Dia juga lebih sering mengabaikan ponselnya, terutama pesan dari Kaza.  Terkadang Diani tersenyum miris melihat serentetan chat dari Kaza. Dulu, dia yang seperti itu. Selalu mengirim pesan tanpa ada balasan. Selalu berharap setidaknya Kaza mengingatnya barang sedetik. Tapi sekarang, justru dia lah yang berada di posisi Kaza saat ini. Ternyata, lumayan menyenangkan. "Di, udah bisa mulai rapat?" Darin menginterupsi lamunan Diani. Gadis itu tahu betul apa yang terjadi dengan Diani –tentu saja melalui Alaric. Darin sebenarnya ingin memeluk Diani dan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN