Alaric memandangi komputer di ruang kerjanya dengan tatapan kosong. Seminggu sudah salah paham antara dirinya dan Diani berlangsung. Keduanya tidak ada yang mau mengalah untuk menegur duluan karena sama-sama bertahan dengan pendirian mereka bahwa itu semua terjadi bukan salahnya. Darin merasakan aura dingin diantara Alaric dan Diani. Mereka tak lagi pulang bersama, beberapa kali mereka berpapasan tapi keduanya berlagak seperti dua orang yang tidak kenal sama sekali. Dan disuatu sore yang basah, Darin memilih untuk menghabiskan senja bersama Diani di coffeshop tak jauh dari kantornya. "Lo kenapa sih sama Alaric?" Darin akhirnya membuka pembicaraan setelah pesanannya datang. Diani yang sedang melamun, dengan gerakan tangan yang hanya bernafsu mengaduk kopi hingga suhunya tidak panas lag

