Suasana di rumah Nyonya Silvi cukup panik. Nur Fatma yang biasanya tenang juga terlihat gaduh. Perasaanya was-was. Ia sangat-sangat khawatir dengan kondisi kesehatan Clary. Hanya Nyonya Silvi yang terlihat slow. Wanita itu seakan bersikap bijaksana untuk meredakan kepanikan mereka. "Udah, jangan panik!" pinta Nyonya Silvi sambil mengelus pundak Vinson. "Tapi, Ma. Bagaimana kalau terjadi ...." "Jangan berpikir yang macam-macam. Nggak baik!" Nyonya Silvi meluruskan ucapan Vinson. "Panik, Ma!" Vinson berjalan mondar-mandir di depan kamar Clary. "Vin, udah menghubungi ambulance?" tanya Nur Fatma. "Udah. Tapi blum di balas chat gue." "Telepon, Vin. Telepon!" "I ... i ... iya, Fat. Sudah." "Itu kamu bilang chat, Kelamaan." Fatma memarahi Vinson. "Gue udah berusaha. Tapi nggak diangkat.

