Fandi menghentikan Caca yang hendak keluar ruang OSIS. Cowok itu menghampiri Caca tepat di ambang pintu. “Kenapa, Fan?” tanya Caca. “Tadi ... di lapangan basket, lo bener-bener jadian sama Reyhan?” tanya Fandi. Fandi tahu pasti sekarang Caca merasa bahwa dia terlalu ikut campur. Tapi, mau bagaimana lagi? Fandi tak bisa jika harus berpura-pura tak peduli dan bersikap seolah-olah tak ada yang terjadi, padahal hatinya sedang diliputi rasa sakit karena melihat Caca bersama cowok lain. “Ca?” tegur Fandi saat Caca tak juga menjawab pertanyaannya. Caca menengadah. Ia berkata, “Iya, Fan. Gue jadian sama Reyhan.” Lalu, saat itu juga hati Fandi terasa seperti ditusuk ribuan jarum. Sangat sakit, tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia sudah kalah bahkan sebelum memulai. “Gue duluan, ya, Fan,” u

