Caca menutup pintu kamarnya dengan keras, lalu mengunci dari dalam. Cewek itu langsung berjalan menuju sudut ruangan dan duduk di sana sembari menumpahkan tangisnya. Beberapa menit yang lalu Reyhan baru saja mengantarnya pulang. “Berengsek! Kenapa, sih, semua cowok itu sama aja? Kenapa Daniel sama Reyhan itu nggak ada bedanya?” gerutu Caca seraya mengusap air matanya. Selama 17 tahun hidupnya Caca tak pernah bermain api dengan cowok mana pun. Namun, kini ia malah terlibat dengan seorang cowok yang sifatnya sudah seperti iblis. Kejam dan menakutkan. “Lo ngapain nangis sih, Ca? Lo ... bu-bukan cewek cengeng,” ucap Caca sambil terisak-isak. Pintu kamar Caca diketuk dari luar. Pasti pelakunya Mia. “Caca, Bunda boleh masuk nggak?” tanya Mia pelan. Susah payah Caca berusaha menghentikan t

