“Ca, lo nggak apa-apa, kan? Nggak ada yang luka, kan?” tanya Reyhan khawatir. Caca memungut kesadarannya. Ia mengangguk pelan. “Gue nggak apa-apa,” jawab Caca. Caca menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan Reyhan yang begitu intens. Cewek itu asyik memilin jari-jarinya untuk mengurangi rasa gugup karena berada dalam kamar bersama Reyhan. Walaupun pintu kamar tak ditutup, tetap saja Caca merasa gugup dan canggung. “Ca, Bunda kapan pulangnya?” tanya Reyhan berusaha mencairkan suasana. “Enggak tahu. Mungkin lusa,” jawab Caca dengan wajah yang sepenuhnya tertunduk. “Lihat mata gue, Ca,” pinta Reyhan. Akhirnya, Caca mengangkat wajahnya dan bersitatap dengan jelaga hitam kepunyaan Reyhan. Tiba-tiba, Reyhan berlutut di depan Caca. Kedua tangannya menggenggam tangan Caca dengan lembu

