Tubuh tinggi Reyhan berdiri di depan motornya yang terparkir di halaman rumah sakit Pelita. Beberapa saat yang lalu Reyhan baru saja mendatangi Daniel dengan harapan Daniel mengetahui keberadaan Caca. Sayangnya, harapan Reyhan harus pupus. Daniel sama sekali tak mengetahui keberadaan Caca. Reyhan juga sudah bertanya pada beberapa teman OSIS Caca, hasilnya tetap sama. Mata Reyhan terpejam sempurna, seolah-olah mengisyaratkan bahwa kini ia tengah putus asa. Namun, tanpa disangka satu nama justru terlintas dalam benaknya. Ia pun segera beranjak. Di sisi lain, tiba-tiba asisten rumah tangga Lia mengetuk pintu kamar. “Permisi, Non!” Lia memosisikan jari telunjuknya di atas bibir untuk memberi isyarat agar Bi Minah menunda perkataannya karena sejak tadi cewek itu asyik berbicara di telepon.

