“Caca, ada telepon dari temen kamu!” Tak berselang lama, Caca muncul dari dalam kamar dan menghampiri Rita, sang oma. “Temen Caca? Siapa, Oma?” tanya Caca. “Nih, kamu tanya sendiri aja sama orangnya,” jawab Rita seraya menyerahkan telepon tersebut. Setelah itu, Rita beranjak ke taman belakang untuk menyirami tanaman kesayangannya. Cewek itu menerima telepon dari sang oma. “Halo, Ca! Ini gue Fandi.” Saat suara Fandi memasuki rungunya, Caca menghela napas lega. “E-eh, iya. Ada apa, Fan?” “Lo kapan pulang? Sori, gue harus minta nomor telepon oma dari bunda soalnya gue bener-bener perlu ngomong sama lo.” Caca meringis pelan. “Iya, Fan. Gue paham, kok, maksud lo,” jawab Caca. Tak bisa dimungkiri, kini ia mulai merasa bersalah karena keputusannya yang pergi begitu saja pada saat agend

