Balap Liar

1352 Kata

Senyuman miris menghias bibir Caca kala benaknya mengingat hal apa yang hari ini menimpanya. Seakan-akan tak cukup dengan luka fisik, kini ia bahkan harus menahan luka hati karena Reyhan yang tak juga memberinya kabar. Padahal, hari sudah beranjak malam, tetapi cowok itu tak menghubunginya untuk sekadar bertanya apakah dia pulang tepat waktu atau tidak. “Reyhan ke mana, sih?” tanya Caca pada dirinya sendiri. Caca menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Niatnya untuk belajar kini pupus dan tergantikan oleh keinginanannya untuk menghubungi Reyhan. Ponsel berwarna silver itu pun menjadi tujuannya. Caca men-dial nomor Reyhan. Bibir Caca kembali terkatup saat rungunya mendengar suara bising dari seberang telepon. “Rey, lo lagi di mana? Kok, berisik banget?” “Teleponnya nanti aja. Gue l

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN