Niat Baik yang Salah

1073 Kata
“Lo pikir gue takut?” tantang Caca. Cowok bersurai hitam legam itu tersenyum remeh, lalu menangkup wajah Caca, berniat mendaratkan ciumannya. Namun, sebelum hal itu terjadi, Caca sudah mendorongnya lebih dahulu. Satu tamparan pun berhasil mendarat di pipi kanan Reyhan. “Dasar kurang ajar!” seru Caca. Mata Caca tampak memerah menahan marah. Bahkan, kini air mata sudah jatuh dan membasahi pipi putihnya, sementara Reyhan masih memalingkan wajah setelah ditampar oleh Caca. “Caca, lo nggak apa-apa?” tanya Lia seraya menghampiri dan memegang bahu Caca. “Ca?” tegur Awam. Caca hanya diam dan menatap Reyhan dengan nyalang, lalu Reyhan membalas tatapan itu dengan sorot dinginnya. “Kalau lo dateng ke sini cuma mau bikin masalah ... mending lo keluar dari sekolah ini sekarang juga,” ungkap Caca dengan napas menderu. “Maksud lo apa?” tanya Reyhan. “Emangnya kurang jelas, ya? Bukannya anak geng motor kayak lo itu bisanya cuma bikin masalah?” ucap Caca. “Lo nggak tahu apa-apa soal gue, Ca. Jadi, nggak usah judge hidup gue,” bantah Reyhan dengan nada bicara datarnya. Tangan Caca terangkat dan mengusap kasar air matanya. “Perlu berapa lama untuk gue bisa tahu lo yang sebenarnya? Sekarang aja gue udah tahu. Lo, tuh, nggak lebih dari tukang gertak!” Reyhan baru akan membalas perkataan Caca, tetapi Caca sudah lebih dahulu meninggalkan kelas. Cewek itu terlalu malu berhadapan dengan teman-temannya setelah apa yang Reyhan lakukan. “Ck! s****n!” desis Reyhan. “Nama lo Reyhan?” tanya Awam tiba-tiba. “Kenapa?” Reyhan balas bertanya. “Tolong, ya, jaga sikap lo sama cewek. Gue tahu lo berengsek, tapi nggak gini juga.” *** Berkali-kali, Caca membasuh wajahnya dengan air yang mengalir melalui wastafel. Berkali-kali pula cewek itu merasakan kemarahannya naik ke ubun-ubun. “Dasar cowok berengsek!” maki Caca. Caca marah dan menyesali perbuatannya yang hari itu menegur Reyhan di halte bis. Harusnya hari itu Caca diam saja. Dengan begitu, pasti sekarang ia tak perlu terlibat dengan Reyhan. “Gue tahu lo di dalam. Keluar sekarang!” Caca mematikan keran wastafel, lalu mengelap wajahnya. Ia sama sekali tak memedulikan suara seseorang yang kini berada di luar toilet dan sedang menunggunya. “Caca, keluar sekarang!” teriak Reyhan. Mendengar suara Reyhan, Caca pun kembali naik darah. “Pergi! Gue nggak ada urusan sama lo!” “Keluar sekarang, Ca! Keluar atau gue—” “Atau apa? Lo bakal masuk ke sini?” potong Caca. Tiba-tiba, pintu toilet ditendang dari luar hingga terbuka lebar dan menampakkan sosok Reyhan dengan wajah dinginnya. Cowok itu menghampiri Caca sembari memasukkan kedua tangan ke saku celana. “Gue nggak suka dibantah, Ca!” geram Reyhan seraya mencengkeram tangan Caca. Caca meringis, menahan sakit di pergelangan tangannya. Susah payah cewek itu mencoba melepaskan diri dari Reyhan, tetapi hasilnya nihil. Bahkan, Reyhan tak tampak terpengaruh oleh pergerakannya. “Lepas, Rey! Mau lo apa, sih? Lo belum puas bikin gue malu? Asal lo tahu, perbuatan lo tadi udah kelewatan!” seru Caca dengan nada berapi-api. Untuk kesekian kalinya, Caca meneteskan air mata dan itu semua karena Reyhan Alfarizhi. Caca memalingkan wajah, lalu mengusap kasar air matanya. “Lihat gue, Ca!” titah Reyhan. Sayangnya, Caca tak sudi melakukan hal itu. Melihat wajah Reyhan membuat Caca kembali teringat akan perbuatan cowok itu. “Caca!” Caca menundukkan wajahnya, masih dengan air mata yang sesekali menentes. Susah payah cewek itu mencoba untuk kembali bicara meski lidahnya kelu dan tenggorokannya terasa tercekat karena terlalu lama menangis. “Gue nggak mau hidup gue kacau,” ungkap Caca. “Maksud lo apa, Ca?” tanya Reyhan. “Gue bukan orang kayak lo, Rey. Gue nggak punya waktu untuk bikin masalah dan beresin masalah itu. Gue cuma mau hidup tenang. Gue nggak mau bikin bunda gue kecewa apalagi sampai bikin bunda malu. Jadi, tolong lo jauhin gue. Tolong jangan libatin gue ke dalam hidup lo yang penuh kejutan itu. Karena gue nggak suka kejutan. Gue lebih suka kestabilan,” jelas Caca panjang lebar. Setelah mendengar pernyataan Caca, Reyhan justru semakin mengeratkan cengkeramannya. Cowok itu mendorong Caca untuk masuk ke salah satu bilik toilet bersamanya, lalu mengunci bilik tersebut. “Lo mau ngapain, sih, Rey?” tanya Caca takut. Reyhan tak menjawab pertanyaan Caca. Cowok itu malah menyudutkan Caca sembari tetap mencengkeram tangan kanan Caca. “Gue ...,” gumam Reyhan. “Gue apa?” tanya Caca. Napasnya tertahan karena jarak wajahnya yang amat dekat dengan wajah Reyhan. “Rey, lo jangan macem-macem, ya!” ucap Caca tegas. “Ca, gue ... gue ...,” kata Reyhan. Tatapan Reyhan berubah lebih teduh, tanpa sadar membuat Caca menghentikan perlawanannya. “Gue tertarik sama lo, Ca,” ungkap Reyhan. “Mustahil. Kita baru beberapa kali ketemu, Rey,” jawab Caca spontan. Reyhan melonggarkan cengkeramannya. Ia sedikit memberi jarak dengan tubuh Caca. “Gue minta maaf, Ca,” ungkap Reyhan tiba-tiba. “A-apa?” tanya Caca nyaris tak percaya. “Gue minta maaf. Gue nggak tahu kalau perbuatan gue akan bikin lo terluka,” jelas Reyhan dengan mimik wajah seriusnya. “Lo bener-bener nggak tahu?” tanya Caca. Sorot matanya berusaha mencari kebohongan yang mungkin ada di wajah tampan Reyhan. “Gue nggak pernah berurusan sama cewek mana pun selain lo. Jadi, gue nggak tahu kalau apa yang tadi gue lakuin ternyata malah bikin lo malu dan sakit hati,” jelas Reyhan. Apa Caca harus percaya dengan pengakuan Reyhan? Namun, bagaimana mungkin? Reyhan itu ketua geng motor. Dia juga murid bandel dan suka berbuat onar, tetapi kenapa Reyhan belum pernah terlibat dengan seorang cewek? “Ca? Lo mau maafin gue, kan?” tanya Reyhan. Wajahnya terlihat sangat penuh harap. “Gue ... gue akan maafin lo, tapi lo harus janji untuk jauhin gue.” “Kalau gitu gue nggak butuh maaf dari lo,” ucap Reyhan seraya kembali mengimpit tubuh Caca. “Maksud lo apa?” tanya Caca. Dahinya mengernyit heran dengan perubahan sikap Reyhan. “Gue nggak butuh maaf dari lo, Ca. Apalagi kalau syaratnya gue harus jauhin lo. Gue pengin tetap dekat sama lo,” jelas Reyhan. Matanya menatap Caca amat lekat. “Kasih gue kesempatan. Gue akan belajar jadi cowok yang bisa bikin lo bahagia, yang nggak akan bikin lo malu di depan banyak orang lagi,” lanjut Reyhan. Satu elusan lembut mendarat di kepala Caca. Sejenak mampu membuat cewek itu tertegun. Namun, belum sempat Caca mengutarakan jawabannya Reyhan sudah lebih dahulu keluar dari bilik toilet, meninggalkan Caca dengan sejuta pertanyaannya tentang Reyhan dan segala sikapnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN