Reyhan berdecak kesal saat mendapati ada orang yang membuat perhatian Caca teralihkan. Cowok itu kembali menyeringai, lalu tangan kanannya menangkup wajah Caca.
“Hari ini lo bikin kesalahan besar, Ca,” ungkap Reyhan, kemudian mencium bibir Caca tanpa aba-aba hingga membuat Caca diam tak berkutik.
Fandi membulatkan mata, terkejut dengan apa yang ia lihat. Kini, mimik wajahnya juga tak tampak baik-baik saja. Akhirnya, ia pun berbalik meninggalkan Caca bersama cowok yang tak ia ketahui namanya itu.
“Le-lepas!” seru Caca seraya mendorong tubuh Reyhan dengan kuat.
Reyhan memundurkan langkahnya seraya mengusap ujung bibirnya pelan.
“Bibir lo manis, Ca,” kata Reyhan seraya menyeringai.
Cewek itu menampar pipi kanan Reyhan dengan kekuatan penuh untuk meluapkan perasaan marahnya. Namun, Reyhan tak tampak terpengaruh. Cowok itu mengusap pipinya pelan dan kembali menatap Caca.
“Mau lo apa, sih? Gue ada salah apa sama lo sampai lo seniat ini gangguin gue?” tanya Caca diiringi napas yang menderu.
Reyhan kembali mendekati Caca dan menaikkan dagu cewek itu. Kini, mata mereka bertubrukan, saling mengungkapkan emosi masing-masing. Caca dengan kemarahannya dan Reyhan dengan keinginan untuk memiliki Caca.
“Lo tahu, nggak, Ca? Waktu pertama kali ketemu sama lo, gue udah janji untuk bisa ketemu lagi sama lo. Ternyata Tuhan bantu gue untuk tepatin janji itu dan sekarang kita bisa ketemu lagi,” ungkap Reyhan.
“Gue nggak peduli sama janji konyol lo,” kata Caca dengan nada sengit.
***
“Minggir!” ujar Reyhan.
Lia mengedipkan matanya bingung.
“Gue bilang minggir! Gue mau duduk di sini.”
Ia pun menatap Reyhan dengan sorot penuh tanya. Tiba-tiba, Reyhan beralih mengambil tas kepunyaan Lia, lalu memindahkan ke bangku paling belakang.
“Eh, tas gue! Lo apa-apaan, sih? Gue, kan, belum bilang iya,” ucap Lia kesal.
Cewek itu sudah berdiri di hadapan Reyhan dan siap melayangkan protes. Sayangnya, Reyhan tak mau ambil pusing. Reyhan mendorong bahu Lia dan membuatnya sedikit oleng ke samping. Setelah itu, Reyhan pun duduk di bangku Lia.
“Heh, murid baru! Lo tuh—”
“Lo bisa diem, nggak?” desis Reyhan, membuat Lia bungkam.
Reyhan mengeraskan rahangnya seraya melemparkan tatapan tajam pada Lia. Perlahan, Lia memundurkan langkah. Ia pun mengalah dan duduk di bangku belakang.
Saat ini suasana kelas masih sangat sepi karena para murid sedang berada di kantin, termasuk Caca, mungkin.
Sambil menunggu kedatangan Caca, kini Reyhan meneliti buku-buku milik Caca yang ada di depannya sembari menaikkan kedua kaki ke meja.
Tak berselang lama, para murid pun mulai berdatangan. Mereka terlihat heran dengan kehadiran orang baru di dalam kelas mereka.
“Ssst! Siapa, tuh?” tanya Rifki pada sohibnya, Awam.
“Mana gue tahu. Doinya Caca kali,” jawab Awam asal.
“Mas, doinya Caca, ya?” tanya Rifki dengan polosnya.
Rifki mendengkus saat pertanyaannya tak digubris oleh Reyhan. Ia pun duduk di bangkunya yang berada tepat di depan bangku baru Lia.
“Lo, kok, duduk di sini, sih?” tanya Rifki pada Lia.
“Noh, diusir sama, tuh, orang,” jawab Lia pelan.
Reyhan menoleh ketika sayup-sayup mendengar obrolan Lia dan Rifki.
“Damai, Bro,” kata Rifki seraya senyum cengengesan. Lagi-lagi, Reyhan tak menggubrisnya.
“Ca, jangan lupa, ya, besok sore gue tunggu di tempat biasa.”
Reyhan mengalihkan atensinya kala mendengar nama Caca disebut oleh seseorang. Ternyata memang benar di depan pintu sudah ada Caca yang tengah sibuk mengobrol dengan Fandi.
“Oke, Fan! Jangan telat, ya! Gue males nunggu lama-lama soalnya,” jawab Caca.
“Oke. Kalau gitu gue duluan!” seru Fandi.
Caca mengangguk dan pergi ke kelas.
“Hai, Ca!” sapa Reyhan.
Cewek itu menghentikan langkah di depan kelas. “Lo ... ngapain duduk di situ? Itu, kan, bangkunya Lia,” kata Caca.
Reyhan menurunkan kedua kakinya. Ia berdiri, lalu memeriksa bangku yang tadi ia duduki.
“Mana? Di sini nggak ada tulisan nama Lia, tuh,” ungkap Reyhan seraya menampilkan seringainya.
Caca tak akan bisa berdebat dengan Reyhan. Buktinya, kini cewek itu sudah duduk di bangkunya dan memilih tak menghiraukan pertanyaan Reyhan.
“Besok mau ke mana?” tanya Reyhan.
“Bukan urusan lo,” jawab Caca dengan nada ketus.
“Besok mau ke mana, Ca?” ulang Reyhan.
Caca menatap Reyhan, lalu berkata, “Bukan urusan lo gue mau ke mana atau pergi sama siapa.”
“Jadi, gue harus apa biar lo jadi urusan gue?” tanya Reyhan.
Mulut Caca terkatup rapat. Enggan menjawab pertanyaan Reyhan yang baginya sangat tak penting. Hal itu membuat Reyhan kesal. Cowok itu berdiri dan melampiaskan kekesalannya dengan menendang kaki meja hingga membuat perhatian seisi kelas tertuju padanya.
“Dengerin baik-baik! Mulai hari ini Caca cewek gue! Kalau ada yang berani deketin dia ... siap-siap lo bakal remuk di tangan gue!” ucap Reyhan tegas.
Caca hendak berucap, tetapi Reyhan sudah lebih dulu berbisik di telinganya. “Berani lo bilang nggak ... gue cium lo di depan mereka semua.”