“Ini rumah lo?” tanya Reyhan seraya menatap rumah minimalis yang ada di hadapannya.
“I-iya. Ya, udah. Gue masuk dulu. Makasih udah nganterin,” ungkap Caca sedikit gugup.
Caca sudah akan memasuki rumahnya, tetapi Reyhan menahan tangannya dan mau tak mau membuat Caca berbalik.
“Ke-kenapa?” tanya Caca. Entah kenapa sejak menerima ancaman dari Reyhan beberapa saat yang lalu Caca jadi takut. Keberaniannya hilang entah ke mana.
Reyhan merogoh saku celana. Ia mengeluarkan ponsel dan menyodorkan pada Caca. “Nomor HP lo,” kata Reyhan dengan suara datarnya.
Mata Caca membulat sempurna, lalu ia pun bertanya, “Buat apa?”
Cowok itu melengos sesaat kemudian kembali menatap Caca dan membuat nyali Caca semakin menciut. Akhirnya, cewek itu mengetikkan nomor ponselnya, kemudian mengembalikan ponsel Reyhan.
“Udah, kan?” tanya Caca.
“Sebentar,” ucap Reyhan.
Caca kira Reyhan bisa dibohongi. Namun, ternyata tidak. Sekarang Reyhan sudah mencoba menghubungi nomor yang telah Caca berikan. Dari sana cowok itu tahu bahwa nomor itu milik Candra, kakak sepupu Caca.
Caca meringis melihat Reyhan semakin menajamkan tatapannya.
“Nomor HP lo, Caca!” ucap Reyhan penuh penekanan.
“Ta-tap—”
Reyhan berdecak kesal.
Dengan berat hati, Caca akhirnya menuliskan nomor ponselnya, lalu setelah itu Caca mengetes sendiri untuk membuat Reyhan percaya.
“Udah, kan?” tanya Caca dengan nada kesal.
“Thanks! Good Night, Ca!” seru Reyhan.
Tanpa menunggu Caca masuk rumah, cowok itu bergegas menyalakan motor dan meninggalkan kompleks perumahan Caca.
“Dasar cowok aneh! Nyesel gue pernah ketemu lo,” gerutu Caca.
***
“Buset, apaan, tuh, Ca? Udah kayak tumpukan sampah di Bantar Gebang aja,” celetuk Lia, sahabat Caca.
Cewek itu meletakkan berkas yang ia bawa dengan gerakan setengah membanting hingga menimbulkan suara yang cukup nyaring dan mampu membuat Lia meringis prihatin.
Kini, Caca sudah duduk di bangkunya. Kedua tangannya terus bergerak mengipasi wajah yang terasa panas bukan main karena baru berjemur di bawah matahari Senin pagi.
“Gila! Panas banget. Neraka bocor kali, ya?” celetuk Caca.
Lia menyentil dahi Caca seusai mendengar celetukan yang keluar dari mulut Caca.
“Ish, apaan, sih? Sakit, ya!” gerutu Caca.
“Makanya mulut kalau ngomong jangan asal ngejeplak,” ungkap Lia.
“Ck! Gue lagi—”
“Lah? Suara apaan, tuh? Ribut banget,” potong Lia.
Caca menajamkan pendengaran dan tampaknya di luar gerbang sekolah sedang ada banyak kendaraan roda dua yang melintas.
“Itu apaan, sih? Berisik banget!” seru Awam, Ketua Kelas XI IPA 1.
“Wam, lihat, yuk! Siapa tahu sekolah kita mau digusur,” celetuk Rifki, teman sebangku Awam.
“Jangan sembarangan kalau ngomong!” seru Awam seraya berdiri dan menghampiri jendela untuk melihat apa yang sedang terjadi.
“Gila! Ngapain, tuh, geng motor di depan sekolah kita?” seru Awam dari lantai 2.
“Hah? Geng motor? Seriusan, Wam? Emang di sekolah kita ada yang pentolan geng motor?” tanya Rifki seraya menyusul Awam.
“Setahu gue, sih, cuma Beno sama Elvan,” jawab Awam.
“Ca, lihat, yuk!” ajak Lia. Caca baru akan menolak, tetapi Lia sudah lebih dahulu menarik tangannya dan membawanya berdiri di tengah-tengah Awam dan Rifki.
“Ck! Geseran dikit kali, Ki!” seru Lia.
“Ini udah mentok, anjir,” jawab Rifki.
“Lah? Lo kenapa, Ca? Komuk lo gitu amat?” tanya Awam pada Caca yang wajahnya sudah pucat pasi.
Lia dan Rifki pun langsung menatap Caca, lalu mereka berganti menatap seseorang yang menjadi fokus perhatian Caca. Seorang cowok yang merupakan bagian dari geng motor itu.
Cowok itu tampak memasuki gerbang SMA Negeri 22 Jakarta, sekolah Caca. Cowok itu melepas helm full face kepunyaannya serta menuntun motor sport hitamnya menuju parkiran sekolah.
“Ca? Lo kesambet? Kenapa, sih? Lo kenal sama dia?” tanya Lia penasaran.
“Lia, gue mau pindah sekolah,” ungkap Caca.
“Kelamaan dijemur sama Fandi jadi gini, nih,” celetuk Rifki.
“Caca Ariska Pratiwi!”
Caca menoleh kala namanya dipanggil dan saat mengetahui sosok yang memanggil Caca adalah Bu Lina, guru mata pelajaran biologi. Seluruh siswa pun langsung kembali ke tempat duduknya.
“Ada apa, ya, Bu?” tanya Caca.
“Kamu dipanggil Pak Kepala Sekolah. Sekarang ditunggu di ruangan beliau,” jawab Bu Lina.
“Baik, Bu. Kalau gitu saya permisi sebentar, ya, Bu,” ucap Caca kemudian keluar dari kelas.
***
“Masuk!” titah Pak Hadi, Kepala Sekolah SMA Negeri 22 Jakarta.
Caca pun memasuki ruangan Pak Hadi setelah sebelumnya mengetuk pintu.
“Permisi, Pak! Bapak manggil saya?” tanya Caca dengan sopan.
“Oh, iya! Duduk, Ca. Kenalkan, ini Reyhan,” ungkap Pak Hadi.
Cewek itu memelototkan mata, lalu menatap sosok yang dimaksud oleh Pak Hadi. Jadi, benar yang tadi dia lihat di jendela itu Reyhan. Cowok yang pernah bertemu dirinya di halte bis. Cowok yang seminggu lalu pernah mengantarnya pulang. Cowok yang meminta nomor ponselnya secara paksa.
Dengan berat hati, Caca duduk di depan Pak Hadi dan Reyhan.
“Hai, Ca! Apa kabar?” sapa Reyhan dengan nada datar.
“Ba-baik,” jawab Caca gugup.
“Kalian sudah saling kenal? Baguslah kalau gitu,” ucap Pak Hadi. “Hm, Reyhan! Bisa keluar sebentar?” lanjut Pak Hadi.
“Baik, Pak,” ucap Reyhan. Cowok itu keluar dari ruangan Pak Hadi.
Setelah Reyhan keluar, Pak Hadi pun mulai berbicara. “Caca, Bapak serahkan dia sama kamu. Kasih tahu dia apa saja peraturan di sekolah kita dan awasi dia. Kalau dia melanggar peraturan jangan takut untuk menghukumnya,” jelas Pak Hadi.
“Ta-tapi, Pak—”
“Bapak yakin kamu bisa, Caca,” ungkap Pak Hadi.
Sial! Caca ingin sekali menolak perintah Pak Hadi. Sayangnya, ia tak punya cukup keberanian untuk itu.
Caca berdiri lalu berpamitan dengan Pak Hadi.
“Jadi, gimana? Disuruh ngapain sama si pak tua itu?” tanya Reyhan begitu Caca keluar dari ruangan Pak Hadi.
Caca menghela napas kasar, lalu berjalan mendahului Reyhan. “Lo masuk kelas apa?” tanya Caca.
Reyhan menyejajarkan langkah dengan Caca. Cowok itu pun berkata, “XI IPA 1.”
Caca memekik.
“Kenapa? Biasa aja kali. Nggak usah kaget gitu,” kata Reyhan.
“L-lo, kok, bisa di kelas IPA 1, sih?” tanya Caca masih tak percaya.
“Kita sekelas, kan?” tanya Reyhan to the point.
Caca menghentikan langkah dan menghadap Reyhan. “Lo tahu dari mana?” tanya Caca.
“Penting banget, ya, gue tahu dari mana?” Reyhan balas bertanya.
Caca berdecak, lalu memutar bola matanya malas.
“Barusan lo ngapain?” tanya Reyhan.
“Maksud lo?” Caca balas bertanya.
Tiba-tiba, Reyhan mendorong tubuh Caca dan mengungkungnya di antara dinding koridor.
“L-lo mau ngapain?” tanya Caca gugup.
“Mulai sekarang ... lo nggak boleh lakuin hal itu lagi,” bisik Reyhan di telinga Caca, membuat Caca memejamkan mata takut. “Lo paham?” lanjut Reyhan.
Perlahan Caca membuka mata. Bibirnya sudah akan berucap, tetapi saat ia merasakan terpaan napas Reyhan di sekitar pipi dan telinga, kalimatnya kembali tertelan
“Jawab atau gue cium sekarang,” ancam Reyhan.
“Reyhan, jangan sembarangan, ya! Ini, tuh, di sekolah!” ucap Caca mengingatkan Reyhan.
“Jadi, kalau nggak lagi di sekolah gue boleh cium lo?” tanya Reyhan dengan entengnya.
“Ya, enggaklah!” seru Caca.
“Berarti lo maunya di sini?” tanya Reyhan.
“Caca? Lo ngapain?”
“Fandi?”