Kepulan asap yang berasal dari perapian itu memenuhi ruangan yang dihuni oleh empat puluh anggota geng Archer. Seperti biasa, malam ini mereka datang ke markas hanya untuk berkumpul, melepas lelah, dan saling bercerita mengenai keluhan masing-masing. Wajah mereka terlihat murung mengingat hal yang baru menimpa salah satu teman mereka.
“Gue masih nggak nyangka Riyan bakal ninggalin kita secepet ini,” ujar Beno, anggota geng Archer dari SMA Negeri 22 Jakarta.
“Apa lagi gue, Ben. Berasa kayak mimpi tahu, nggak,” balas Sandi.
Beno dan Sandi menghela napas kasar. Mereka duduk bersandar pada kursi kayu yang ada di sana. Atensi keduanya tertuju pada sang ketua yang kini sedang duduk bersama Raffa dan sudah menghabiskan rokok kesepuluhnya dalam kurun waktu lima belas menit.
“Kasihan si Bos. Dia kelihatan kehilangan banget,” ujar Vito.
“Ya, iyalah. Lo, kan, tahu sendiri kalau Bos sama Pak Wakil udah kayak amplop sama prangko. Walaupun sering beda pendapat, mereka, tuh, nggak pernah terpisahkan,” jelas Elvan.
“Ben, gimana? Udah tanya Bos? Dia beneran keluar dari Nusa Bangsa?” tanya Vito pada Beno. Cowok itu berusaha mengalihkan pembicaraan.
Beno mengedikkan bahu.
“Ya, elah, Ben. Apa, sih, yang lo tahu?” ejek Elvan.
Tiba-tiba perhatian seluruh anggota tertuju pada Reyhan yang berdiri dan bersiap meninggalkan markas.
“Semuanya, gue duluan. Kalian nggak usah buru-buru pulangnya. Tapi, inget! Jangan malem-malem! Sekarang situasinya lagi nggak kondusif. Jadi, gue minta supaya kalian jaga diri baik-baik!” titah Reyhan.
“Siap, Bos!” Para anggota menjawab serentak.
Lalu, Reyhan meninggalkan markas sementara para anggotanya masih lanjut nongkrong.
Sepeninggal Reyhan, Raffa tampak datang mendekat dan duduk di samping Beno. Cowok itu menyambar sekaleng Coca Cola kepunyaan Beno tanpa mau repot-repot meminta izin pada Beno.
“Raf, Bos jadi keluar dari Nusa Bangsa?” tanya Beno to the point.
“Kemarin dia udah resmi keluar. Tinggal cari sekolah yang baru aja,” jawab Raffa seraya meminum Coca Cola Beno hingga tandas.
“Raf, Bos suruh masuk sekolah gue aja.”
“Maksud lo? Sekolah negeri? Gila kali. Di swasta aja dia udah bikin pusing, apalagi sekolah negeri. Belum sehari pasti udah langsung didepak,” ungkap Raffa.
“Nggak bakal, Raf. Sekolah gue, tuh, beda dari yang lain. Sekolah gue emang negeri, tapi gue yakin si Bos bakalan betah di sana. Soalnya di sana nggak ada orang-orang modelan Gio,” jelas Beno.
Ketika nama Gio disebut, Raffa langsung ingin mempertimbangkan saran dari Beno. Raffa tahu betul bahwa saat ini Reyhan tak peduli pada apa pun selain Gio.
“Raffa? Gimana? Kok, malah bengong, sih?” tegur Beno.
“Besok gue coba ngomong sama Reyhan, deh,” kata Raffa.
“Sip! Oke! Gue tunggu kabar baiknya!” seru Beno.
***
Pukul 11.00 malam Reyhan masih duduk di depan sebuah gedung sasana taekwondo. Di sampingnya ada sebotol minuman isotonik yang biasa ia berikan pada Riyan ketika Riyan selesai dengan sesi latihannya.
Reyhan mencondongkan tubuh, lalu menundukkan wajahnya. Malam ini, ia benar-benar merasa sangat kacau. Ia ingin marah dan melampiaskannya dengan memukul Gio serta anak-anak Triton yang telah mengeroyok Riyan hingga meninggal.
“Bang Candra, buruan keluar! Gue udah di depan ini.”
Sebuah suara berhasil membuyarkan lamunan Reyhan dan membawa kembali kesadarannya. Perlahan, Reyhan mengangkat wajah dan menatap sang pemilik suara yang berada 5 meter di depannya.
Mata cowok itu memicing saat melihat cewek yang berdiri dengan menenteng sebuah paper bag besar di tangan kirinya serta memakai tas berwarna pink pastel.
Cewek berambut sebahu dengan tinggi kira-kira 160 cm terlihat tak asing untuk Reyhan.
“Caca?” tegur Reyhan.
Ternyata benar cewek itu adalah Caca. Kini, Caca menatap Reyhan dengan heran.
Reyhan menghampiri Caca. “Lo ngapain malem-malem di sini?” tanya Reyhan.
“Lo ... Reyhan?” Caca balas bertanya.
“Masih inget sama gue ternyata,” ucap Reyhan. “Lo belum jawab pertanyaan gue,” lanjut Reyhan.
Kali ini, Reyhan menanyai Caca dengan nada menuntut, membuat nyali Caca sedikit menciut. Alhasil, cewek itu agak menjaga jarak.
“Lo ngapain di sini malem-malem?” cerca Reyhan. Reyhan melangkah dan kembali mengikis jarak di antara mereka.
Caca mendelik kesal. Ia mencoba bersikap berani pada Reyhan. “Ck! Lo ngapain, sih, nanya-nanya? Nggak ada urusannya juga sama lo. Lagian kita nggak sedekat itu buat bisa saling tanya,” jelas Caca.
Caca sangat tak suka dengan orang yang sok akrab dan ikut campur urusannya.
Reyhan tersenyum miring. “Oh, jadi maunya lo deket dulu sama gue? Atau gue dulu yang deket sama lo?” tanya Reyhan seraya mendekatkan wajahnya pada wajah Caca.
“Caca?”
Caca mengembuskan napas lega saat Candra datang dan menghampirinya.
“Lo sama siapa?” tanya Candra.
“Sendiri. Nih, baju lo!” seru Caca.
“Makasih, Caca cantik,” ungkap Candra.
“Eh, siapa, nih? Kenalin kali, Ca,” lanjut Candra kala melihat Reyhan dan wajah tampannya.
Reyhan balas menatap Candra. Mulutnya sudah akan berujar, tetapi tiba-tiba Caca malah mendorong Candra pergi menjauh darinya. Tak apa. Reyhan sudah biasa. Ia biasa dijauhi oleh orang-orang.
Reyhan memperhatikan Caca dan Candra yang terlihat mengobrol di dalam gedung. Kemudian, kakinya mulai terayun meninggalkan area gedung.
Kini, Reyhan sudah berada di tepi jalan tak jauh dengan gedung sasana. Ia berhenti di sana untuk menunggu Caca.
“Caca!” seru Reyhan saat melihat Caca berdiri di trotoar.
“E-eh, Reyhan. Lo belum pulang?” tanya Caca canggung.
“Naik!” titah Reyhan.
Caca menatap Reyhan bingung.
“Naik, Ca!” kata Reyhan tegas.
Caca tersenyum paksa, lalu menggeleng pelan. “Nggak usah, Rey. Gue naik taksi aja.”
“Naik aja, Ca!” seru Reyhan.
Cewek itu memutar bola matanya dengan malas.
“Gue bilang nggak usah,” kata Caca terdengar menahan kesal.
Reyhan menghampiri Caca dan mencengkeram tangannya. “Naik atau gue cium lo sekarang juga?”