"Zola." Aku segera melepaskan tangan Emmeric dengan canggung, tuan muda mendekati kamu. "Emmeric." "Zola." Mereka saling memanggil dengan tenang, tapi aku tidak bisa mengetahui di balik nada suara itu apakah ada percikan api. Sungguh aneh, di masa lalu aku dicampakkan karena kekasihku lebih memilih harta. Sekarang aku berada di tengah-tengah dua lelaki. "Kamu menjemputku." Aku berkata lirih, segera pergi ke sisi tuan muda. Dengan Emmeric matanya memandang tajam bagai silet. Dia sekarang mulai terang-terangan. "Apa urusan kamu dengan Selma sudah selesai?" Zola bertanya. "Hari ini sudah, tetapi untuk masa yang akan datang tentu saja belum." Emmeric menjawab tenang, suasana hening malam ini bahkan bunyi ranting bergemerisik pun terdengar. Ditambah aku tidak mampu bernafas. "Di ma

