"Sekalipun kamu membenci aku, kamu seharusnya tidak melakukan itu." Suara Emmeric mulai lirih, terlihat kilatan luka di matanya. Aku akui dia memang luar biasa, Emmeric menginginkan seorang anak bersamaku. Tetapi karena aku manusia biasa, aku tidak sebaik itu. Aku semakin tidak mau memberitahukan keberadaan Kela pada Emmeric, bisa jadi dia akan merebutnya nanti. Seumur hidupnya lebih baik tidak mengenal Emmeric, sebagai ayahnya. "Aku---," suaraku tercekat bahkan tak bisa keluar. Tuan muda menahanku. "Sudah, jangan bicara lagi." Tuan muda melayangkan pandangnya pada Emmeric, dengan kedua tanganku melingkar di lengannya. Aku ketakutan, takut pada sesuatu yang tidak aku pahami. "Emmeric, lebih baik tidak bicara sembarangan kalau kamu tidak tau apa yang terjadi." "Zola, kamu jangan lupa

