Pembully dibully

1208 Kata
"Kamu kenapa?" tanya Zena pada Celsi. Sebelumnya Zena diperintahkan Celsi untuk membeli seragam. Saat masuk ke toilet betapa terkejutnya Zena dengan keadaan Celsi yang begitu berantakan. Zena membantu Celsi berdiri dan memapahnya. "Aku dibully," jawab Celsi. Zena sedikit mengerutkan keningnya. "Di bully? Oleh siapa?" Celsi menghela nafasnya. "Kamu pasti tidak akan mempercayainya." jawab Celsi. "Jadi siapa yang melakukannya?" tanya Zena. "Rena yang melakukannya dan membuatku seperti ini," jawab Celsi. "Rena? Anak culun itu?" sahut Zena dan Celsi mengangguk. "Aku tidak yakin itu," kata Zena tak percaya. "Kan sudah kubilang kau tak akan percaya!" timpal Celsi sedikit emosi. "Tidak mungkin," Zena mengelak. Bukan 'kah kemarin mereka sudah membuat Rena tak berdaya? Mana mungkin ia bisa berkeliaran bebas di sekolah. "Sudahlah, aku ganti dulu pakaian-nya," Celsi lalu menganti pakaiannya dengan pakaian yang dibawa Zena. Selesai memakai pakaiannya dan merapikan rambutnya serta membersikan mulutnya yang penuh pasir. Celsi dan Zena lalu berjalan keluar. "Jika memagang begitu kita akan membalasnya. Bagaimana?" usul Zena. Celsi terdiam ia mengingat ancaman Rena sebelumnya. Memang menakutkan ancamannya, tapi apa itu mungkin Rena membalasnya. "Tapi terserahlah, jika kau ingin menceritakan ke mereka. Pasti mereka tak akan ada yang percaya denganmu." "Tapi, besoknya aku akan mencari 'mu dan mulai menyiksamu lagi lalu aku akan mengiris benda itu mu dan aku akan berikan itu pada anjing," Itulah ancaman dari Rena. Celsi sedikit terkekeh. "Mengirisnya dan memberikannya pada anjing. Lucu sekali, emang dia bukan manusia apa? Kecuali kalau psikopat," batin Celsi. "Ayo kita lakukan, tapi apa perlu kita ajak Jennifer dan lainnya?" tanya Celsi. Zena menggelengkan kepalanya. "Tidak, biarkan kita berdua saja, hanya si cupu apa susahnya," jawab Zena. "Baiklah," balas Celsi sambil tersenyum. Celsi percaya hanya dengan mereka berdua pasti bisa membalaskan dendamnya. Apalagi Zena sudah menguasai taek wondo ber' sabuk hitam. *** Jam sekolah telah selesai. Terlihat Jennifer dengan gengnya telah keluar dari kelas. Celsi sudah muncul dihadapan Jennifer, tapi ia tak memperdulikannya. Hanya saja ada anggota gengnya yang mempertanyakan keberadaan Celsi. Dan Celsi hanya membalas kalau ia ada urusan dan untuk lebam di wajahnya itu karena dia ceroboh kepleset di toilet. Mereka percaya saja perkataan Celsi, ya, walaupun ada yang sedikit tak masuk akal. Celsi sengaja mengatakan hal itu karena tak ingin membuatnya malu jika dia bercerita, mungkin mereka akan menertawainya, karena mana mungkin Rena berani dengan mereka. Omongan Celsi akan dianggap sebuah bualan semata, jadi Celsi memutuskan untuk mencari alasan lain. Zena hanya diam, ia sudah memiliki rencana sendiri. Ia akan menetap di sekolah dengan Celsi. Dan saat ini Zena mencari keberadaan Rena, ia tak melihat Rena sejak tadi. "Hey, apakah benar Rena tadi di sini?" tanya Zena. "Aku sangat yakin itu," jawab Celsi serius dan itu sudah dilihat oleh Zena dari matanya yang tidak menandakan adanya kebohongan sedikitpun. Bukankah tidak aneh jika Zena bertanya. Soalnya dari tadi Rena tidak ada nampak olehnya. Jennifer dan gengnya pulang duluan dan Celsi dengan Zena berasalan mereka tidak ikut karena ingin berjumpa kekasihnya. *** Hari sudah siang suasana panas pun sudah terasa di kulit mereka berdua. Sekolah tidak nampak sepi karena ada beberapa murid yang mengikuti ekskul di sekolah. Zena dan Celsi sudah berkeliling sekolah mencari keberadaan Rena, namun hasilnya tetap sama, Rena tidak kunjung mereka temukan. Mereka pun berhenti di kantin, namun Zena mendadak ingin ke toilet untuk membuang hajat. "Mau ku temani?" tawarnya. "Tidak perlu, hanya ke toilet saja. Entar kita dikira lesbi," balas Zena bercanda. "Aku cuma menawari 'mu karena takut kamu kenapa-napa!" kata Celsi sedikit emosi. Celsi seperti itu karena ia mengingat Rena membully-nya tadi. "Kau selalu suka marah. Sudahlah aku sudah tidak tahan lagi, kau tunggu di sini saja, ingat jangan kemana-mana," perintah Zena. "Baiklah, kau berhati-hatilah," kata Celsi. Tinggal-lah Celsi sendirian. Ia duduk di bangku kursi kantin. Sambil menunggu Zena kembali, ia memainkan ponselnya. "Halo ... " Deg! Celsi diam membeku. Ia mematikan ponselnya dan mencari sumber suara tersebut. Suara yang ia dengar sangat tidak asing, Celsi yakin ia pernah mendengarnya. Celsi seketika terpaku melihat Rena sudah duduk di depannya sambil tersenyum polos di hadapannya. "Ka-kau ... " Jleb! "Argh! Hmpp ... " Belum selesai berbicara, Rena langsung menusuk punggung tangan Celsi dengan garpu. Celsi yang berteriak mulutnya langsung dibekap. "Sstttt ... " Sambil meletakkan jari telunjuknya di bibirnya sendiri. "Jangan berisik nanti ketauan, kau tau aku ini sedang bermain petak umpet," bisik Rena dengan wajah polosnya. "Lain kali jangan meletakkan tanganmu di meja. Itu akan sangat mudah untuk diserang," kata Rena dengan wajah polosnya yang dibuat-buat seakan memberi sarang yang baik. Celsi hanya diam menahan sakit di tangannya, di luar dugaan Celsi, Rena sungguh sosok yang menakutkan. Rena melepaskan tangannya yang membekap mulut Celsi. Mata Celsi melihat kedua tangan Rena menggunakan sarung tangan. "Kau tau, tadi aku berniat ingin menggoreng tanganmu, tapi sayang persediaan minyak di kantin habis karena sudah dibawa pemiliknya. Sungguh sayang sekali bukan?" kata Rena sambil memijit pelipisnya seakan ia prustasi. Rena bangkit dari duduknya. "Aku pulang. Ingat selalu berhati-hati, karena aku bisa saja menyerang 'mu seperti tadi," kata Rena sambil memberi saran. Ia meninggalkan Celsi dengan wajah tanpa dosa. Celsi hanya bisa menatap Rena yang mulai pergi menjauh darinya. Lalu Celsi meringis kesakitan, ia perlahan mencabut garpu yang menancap di punggung tangannya. "Agrhhhh!" Celsi berteriak saat melepaskannya. Ia menahan darahnya agar tidak keluar terlalu banyak. "Kamu kenapa?!" tanya Zena terkejut melihat keadaan Celsi. "Kenapa kau lama sekali?!" Celsi membentak dengan kesal. "Hey, jangan membentak 'ku, aku ini buang air besar tentu saja lama. Kau kira buang air besar itu cepat!" jawab Zena yang juga kesal. Zena kemudian beralih melihat tangan Celsi yang terluka. "Ada apa dengan tanganmu?" tanya Zena. "Rena," balas Celsi sambil menahan rasa sakit di tangannya. "Dia yang melakukannya," lanjutnya. Zena yang melihatnya sedikit prihatin langsung berkata, "Ayo kita ke klinik terdekat," Celsi mengangguk kepalanya dengan pikirannya yang sudah campur aduk. Sungguh hari ini ia dibuat kejutan oleh Rena. Sedangkan Zena, sambil menyetir mobilnya, pikirannya kacau. Mau percaya tidak percaya, tetap saja kelakuan Celsi membuatnya penasaran. Apa karena Celsi sudah kehilangan kewarasannya sehingga menyiksa diri? Entahlah, Jika memang benar, lalu kenapa ia tidak ada melihat Rena semenjak mereka membully-nya. *** Lain tempat, Rena tengah duduk di angkutan umum. Keadaan di dalam biasa cukup ramai, ia sendiri berdiri desakan. Lalu ia melihat tangan dari pria di depannya. Ya, seorang pria yang ada di depannya adalah seorang pencopet, dia akan mengambil dompet dari tas seorang gadis SMP. Rena melihat itu tersenyum menyeringai. Ia lalu menggerakkan tangannya, dengan ahli dan cepat tangannya sudah mengambil dompet si pencopet diiringi tangan si pencopet mengambil dompet milik gadis itu. *** Di kos-kosannya Rena telah selesai mandi. Kini ia duduk di kasurnya sambil menghitung uang yang ia dapatkan dari si pencopet yang ia copet. "Hahaha, banyak juga uangnya," *** "Mamaaah! Dompetku hilang," ujar gadis kecil yang ternyata pencopetan di bus tadi. "Apa ada uangnya?" tanya mamah gadis itu. "Tidak ada sih mah, tapi dompet itu aku beli dari uang tabunganku," balas gadis itu. Mamahnya mengelus rambutnya. "Gapapa, besok mamah bisa belikan lagi untukmu," Gadis itu dengan semangat berucap, "Benarkah?" Mamahnya mengangguk,m dan berkata, "Iya," *** Di sisi lain seorang pria tengah prustasi. Bagaimana tidak prustasi? Dompet yang ia dapatkan tidak ada isinya malahan isinya sebuah kertas contekan dan kartu pelajar. Dan lebih parahnya lagi dompetnya sendiri malah hilang, padahal itu hasil dari mencopet yang ia kumpulkan beberapa bulan. Pesan: "Ingat mungkin itulah karma!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN