"Saya...pulang bersama Bapak?" tanya Moza menjauhkan dirinya. Moza mengelus dahinya yang berdenyut karena membentur d**a Arlo. Otot tubuh pria itu begitu keras seperti bongkahan batu. "Iya, apa tidak boleh atasan mengantarkan bawahannya?" ucap Arlo balas bertanya. Arlo beralih menatap Herel dengan tajam. "Bagaimana menurutmu? Apa aku boleh mengantarkan Moza pulang?" Ditanya seperti itu oleh bosnya, Herel bingung harus menjawab apa. Sekelumit rasa cemburu menyentak di lubuk hatinya. Ia tidak rela melihat Moza bersama pria lain. Namun apalah dayanya, karena dia bukanlah kekasih Moza melainkan hanya seorang bawahan. "Tentu saja boleh, Pak," jawab Herel datar. "Lihat sendiri, aku sudah mendapat persetujuan dari Herel. Ayo, ikut aku," kata Arlo menarik tangan Moza melewati anak buahnya.

