Regan masuk ke kamarnya, mengganti pakaian lalu membersihkan diri sebelum akhirnya berbaring di tempat tidur nyamannya. Pandangannya mengarah ke atas, langit-langit kamar menjadi fokus penglihatannya, tapi pikirannya liar berkelana. Sesekali tangannya mengusap seprei halus, lalu berpindah ke atas bantal. "Apa benar anak yang dikandung Kia adalah darah dagingku?" Masih terngiang perkataan Kiana sarat kemarahan yang akhirnya mengatakan kalau dia berselingkuh dan anak dalam kandungannya bukan anaknya. Regan mengusap kasar wajahnya, pikirannya berkecamuk. Jelas sekali hasil pemeriksaan beberapa tahun lalu menyatakan kalau dirinya mandul, tapi kini Kiana yang baru digauli sekali mengaku hamil. "Argh, sial! Mana yang harus aku percaya?" Regan keluar kamar menuju kamar Kiana. Berdiri lumayan

