Pagi-pagi sekali, Dewa sudah tampak rapi. Pria itu bangun lebih awal meski tidur sudah larut malam. Dia masih bersiap-siap di dalam walau pun semua sudah tampak rapi. Dewa seketika tersenyum, menatap dirinya di depan cermin. Memang, tak bisa dipungkiri bahwa Dewa sangat tampan. Hal itu sudah diakui oleh seluruh siswa Melati Kencana dan juga para guru. “Hanya orang syirik yang bilang Dewa jelek. Tampan begini, kok, pada nggak mau mengejar cinta Dewa,” ucapnya berbicara sendiri, tak lupa menampilkan senyumannya yang menawan. “Wa, turunlah. Kita sarapan bersama pagi ini.” Teriakan Umi Rahmah berhasil membuat perhatian Dewa teralihkan. “Iya, sebentar, Umi,” balasnya dari kamar. Semua orang sudah menantinya di meja makan. Abi, Umi serta Danu tampak mengolesi roti dengan selai kacang. Dewa

