Tak seperti biasanya, Danu yang jika pulang sekolah langsung menuju rumah atau mampir sebentar di rumah Dewa. Tapi, hari ini dia memilih untuk mengunjungi seseorang yang sudah lama tidak dia datangi. Krista yang dari tadi menghubunginya, malah diabaikan oleh Danu. Dia tak ingin ada yang mengganggunya nanti meski Krista memintanya untuk datang ke rumah sakit. “Lihatlah, Bunda. Mereka nggak pernah mengerti dengan perasaanku. Mereka semua terlalu egois dan nggak pernah menghargai aku sedikit pun.” Danu menangis, di hadapan batu nisan itu dia tumpahkan segala keluh kesahnya, termasuk sesak di d**a yang selama ini dia tahan. “Kenapa ini semua terjadi padaku, Bunda. Disaat aku butuh dukungan dari keluarga, papa dan mama malah sering bertengkar dan tak mau mengalah sedikit pun. Danu berpikir,

