Siang ini matahari sangat terik sekali, panasnya bahkan membuat tubuh ingin terus berendam di kolam renang. Dewa merasa bosan di kamarnya sendiri. Biasa di hari libur ini dia dan Danu bermain game bersama di rumahnya. Tapi, kali ini tidak. Danu dari tadi tidak bisa dia hubungi. “Apa sebaiknya Dewa menghubungi Musfiq dan Beno, ya? Tapi, nanti makanan Umi habis dimakan dua orang itu.” pikir Dewa sembari rebahan di kasurnya, mata Dewa tak lepas memandang langit-langit kamar. “Bosan, mana panas lagi. Huft, enaknya ke mana, ya?” Dewa bergumam pelan, dia bangkit dan berjalan menuju pintu kamar hendak turun ke lantai bawah. Namun, niatnya terhenti saat melihat Ustad Syahrul dan putrinya Zahara Maharani berada di rumahnya dan tengah berbincang dengan orang tuanya. “Mereka lagi, bikin tambah bu

