Dewa melirik jam tangannya, menunjukkan pukul delapan malam. Ia udah rapi dengan kaus pendek berwarna putih dan celana jeans hitam. Dewa mengambil jaket, dompet dan kunci motornya. Dewa berjalan keluar rumah, menemukan abinya tengah duduk santai di teras berbicara dengan Restu, kakaknya. “Dewa izin keluar sebentar, Abi,” pamit Dewa. “Dewa, sini, Nak,” suruh Ustad Fadhil. Dewa menghentikan langkah, ia membalikkan badan menatap abinya dan juga Restu bingung. “Kenapa, Bi?” balas Dewa sembari berjalan menghampiri abinya. Abi Dewa membuka dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dan memberikan pada Dewa. “Untuk apa ini, Abi? Duit Dewa masih ada,” bingung Dewa. Ustad Fadhil tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Bukan untuk Dewa, tapi Abi ingin Dewa membelikan Zahara

