"Mbak Indah, tolong nanti kursi roda bekas pasien Dokter Nathan di masukan ke mobil lagi, ya. Khawatir dimainkan oleh Si kembar." "Baik, Bu." Perintah Mbak Sinta kepada pembantunya, menjawab rasa penasaranku. Aku mengangguk pelan dan tersenyum kepada Mbak Sinta lalu pergi meninggalkan rumah itu. Suasana di mobil hening. Biasanya cilotehan anak-anak akan meramaikan, Namun kali ini ketiga buah hatiku terdiam, sambil menatap keluar jendela. "Kok pada diam?" Tak ada yang menjawab. Dari pantulan kaca spion aku bisa melihat wajah sendu mereka. Hati ini terasa diremas tak kasat mata. Bagaimana mungkin anak-anak lebih bahagia tinggal bersama orang lain dibandingkan denganku yang merupakan Ayahnya sendiri. Ini sungguh sebuah cambukan perih bagiku. Ternyata meraih kembali hati mereka tak se

