81

1321 Kata

Tubuh Ana merosot ke lantai, wajahnya ia sembunyikan di antara lipatan kedua tangannya yang berpangku pada lututnya. Ana mencoba menyembunyikan air matanya yang tidak henti-hentinya keluar. Sekuat tenaga ia menahan suara isakkannya agar tidak terdengar keluar. Senyuman itu, senyuman yang selalu menyambut Ana ketika Ana pulang kerja dan membawa makanan yang bisa Ana dan Maria santap bersama. Senyuman itu tak akan pernah bisa Ana temukan lagi, kini telah lenyap bersama tubuh Maria yang sudah tertutup tanah. Semua kenangan pahit yang Ana lewati bersama Maria, berlari bagaikan buronan yang dikejar polisi, hingga menatap masa depan di antara bintang yang berserakan di langit malam yang begitu gelap. Berbagi makanan hanya agar bisa mengisi perut yang seharian tidak di isi. Tak ada kehilang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN