"Sudah tiga tahun sejak kamu pergi, tapi baru tadi malam kamu senyum di mimpi aku. Apa kamu sudah bisa memaafkanku Al? Kamu sudah tenang di alam sana?"
Sudah pasti tidak akan pernah ada jawaban, namun hampir setiap kali Eza datang untuk berziarah ke makam kekasihnya, dia seolah bercengkrama dengan kekasih hatinya yang nyata, ada, duduk di hadapannya.
"Apa senyum di wajah kamu itu, tanda kalau kamu setuju sama pertanyaan aku kemarin?"
Eza kembali tersenyum, sebahagia itu dirinya hanya karena sebuah mimpi. Bagaimana tidak, setelah kepergian kekasihnya, hampir setiap malam dirinya bermimpi buruk. Kesunyian seolah membunuhnya perlahan, membuatnya enggan menutup mata dan mengingat bagaimana kepergian kekasihnya dulu.
"Mulai besok aku akan kembali ke perusahaan, sesuai dengan saran orangtua kamu, sayang. Aku mau melnajutkan hidup aku, tanpa melupakan kamu dan membiarkan kamu hidup selamanya di.hati dan pikiranku. "
Memang benar bukan hanya Eza yang merasa kehilangan, orang yang paling terpukul atas kematian kekasihnya itu adalah kedua orangtuanya dan adik kembarnya. Tapi mereka saja sudah sanggup kembali melanjutkan hidup dan perlahan menerima kenyataan bahwa anak dan kakak kesayangan mereka sudah lebih dulu pergi, lalu kenapa Eza harus masih tetap terpuruk.
"Aku mau kamu senyum dari atas sana, lihat aku yang sudah bisa membiasakan diri dengan keadaan. Menerima semua cinta dari orang-orang di sekitarku, meskipun selama ini aku terlalu egois. Bahkan tidak peduli dengan perasaan kamu dan mereka yang terus menerus aku sakiti."