"Nanti kamu di antar sama sopir, saya ada meeting pagi." Selesai sarapan, Eza menghampiri Ana yang sedang menata piring bekas keluarga Rahardian sarapan. "Baik, Pak." "Kalau sudah selesai, kamu bisa siap-siap biar Bi Nani yang menyelesaikan ini semua." "Iya, Non. Non siap-siap aja, biar bibi yang selesaikan ini." Dengan segera Bi Nani mengambil piring yang sedang Ana pegangi. "Tapi, Bi-" "Sudah, Non harus nurut sama calon suami." Eza sedikit terkekeh, "Nah, ayo cepat laksanakan." Eza kini menimpali. Ada sedikit rasa yang tidak biasanya, rasa manis yang bukan manis di lidah, tapi rasa manis yang hanya perasaan Ana saja bisa rasakan. "Iya, Pak." Ana tak ingin tampak salah tingkah, ia segera meninggalkan Eza yang masih berdiri di ruang makan. Jatuh cinta, memang begitu indah.

