BAB 3
KUBALAS HINAAN MERTUAKU DENGAN KESUKSESAN
(Pov. Arin)
"Bu, kita ke sidomar dulu ya bu untuk ambil uang di atm." Ucapku kepada bu wati
"Iyah rin" jawab bu wati sambil menganggukkan kepala
Aku melajukan motor maticku ke sidomar yang tidak jauh dari rumah sakit tempat mas ryan dirawat. Sesampainya di sidomar, aku mempersilahkan bu wati untuk berbelanja apapun yang beliau perlukan.
Aku tak tau berapa nominal uang yang ada di atm mas ryan. Aku memutuskan untuk mengambil uang lima ratus ribu rupiah saja dulu dari atm milik mas ryan, kemuadian aku mengambil uang lima ratus ribu rupiah dari atmku juga. Karena uang di dompetku hanya tersisa seratus ribu saja.
Aku tak terbiasa meletakkan banyak.uang di dompet. Aku selalu membiarkan uang gajiku tetap berada di dalam atmku saja. Di dompet aku biasanya hanya menyisakan seratus ribu sampai dua ratus ribu saja di dalam dompetku.
Karena kalau soal sarapan pagi, aku biasanya dibelikan mas ahmad di kosanku. Mas ahmad itu salah satu pacarku yang kerja sebagai pengawas proyek perumahan. Mas ahmad juga kontrak rumah bersama teman-temannya di belakang kosan aku.
Terkadang mas ahmad juga nginap di kosanku. Aku tak bisa melarangnya untuk tidak menginap di kosanku, karena memang dia yang membayar kosanku.
Kalau siang aku juga terkadang dapat makan dari warung yang aku tempati. Kalau malam pun aku juga selalu makan malam bersama mas ahmad, terkadang mas ryan juga datang ke kosanku hanya untuk sekedar membawakan aku jajan.
Itu sebabnya aku tak pernah menyimpan banyak uang di dompetku.
Untuk saat ini aku bekerja sebagai SPG event sebuah kopi ternama. Dirumah aku juga mempunyai sebuah toko grosir yang aku kelola bersama keluarga. Dan aku juga mempunyai sebuah bisnis yang aku jalani bersama ibuku dan hasilnya aku bagi dua bersama ibuku.
Setelah mengambil uang di atm, aku segera menyusul bu wati yang sedang melihat-lihat di rak perlengkapan mandi.
"Sedang cari apa bu?" Tanyaku
"Ini nduk, ibu pengen mandi nanti di rumah sakit tapi ibu bingung karena banyak sekali macamnya." Jawab bu wati
"Saya pilihkan saja boleh bu?" Tanyaku kembali
"Iya nduk, boleh kok" jawab bu wati lagi
"Ini saya ambilkan handuk untuk ibu, sabun, sikat gigi, pasta gigi dan shampo kalau ibu pengen kramas nanti. Kira-kira ibu masih perlu apalagi bu?" Tanyaku lagi
"Sudah nduk itu saja. Kalau bajunya nanti mau beli dimana ya nduk? ibu juga gak bawa baju ganti." Ucap bu wati
"Nanti saja bu, kita cari di toko sebelah sana, ada toko pakaian yang bagus-bagus kok bu" jawabku
"Eh, jangan ke toko nduk beli bajunya. Kita ke pasar aja ya" ucap bu wati kembali
"Jangan bu, nanti saya dimarahin mas ryan kalau gak sesuai sama yang mas ryan perintahkan. Gak papa kok bu, uangnya cukup kok bu. Ibu gak perlu mikir soal harganya bu." Ucapku meyakinkan bu wati
"Jangan nduk, ibu gak biasa pakai baju yang mahal-mahal. Lebih baik ke pasar saja nduk, nanti juga sekalian beli hijabnya dipasar nduk." Ucap bu wati
Aku menjawabnya hanya dengan menganggukkan kepala pertanda aku menyetujui permintaan bu wati. Aku memang memilih mengikuti ucapan beliau saja.
Karena beliau orang tua dan aku belum terlalu tau seperti apa karakter beliau. Takut kalau beliau risih karena aku terlalu memaksanya.
Setelah itu aku dan bu wati menuju tempat kasir, aku menyerahkan belanjaan milik bu wati, dan aku membayarnya dengan uang mas ryan. Aku juga menyerahkan keranjang belanjaanku dan aku membayarnya dengan uangku pribadi.
Setelah itu, aku meletakkan barang belanjaanku tadi di motorku. Lalu aku mengajak bu wati menuju ke pasar.
Karena aku tak pernah ke pasar sini, jadi aku mengajak bu wati memutari pasar untuk mencari barang yang dibutuhkan bu wati.
Setelah selesai berbelanja di pasar, dan uang mas ryan juga masih ada sisanya.
Bu wati langsung mengajakku untuk kembali ke rumah sakit tempat mas ryan dirawat.
Setelah lima belas menit kami di perjalanan, akhirnya kami sampai juga di rumah sakit. Aku mengambil semua barang belanjaan bu wati dan belanjaanku. Aku membawanya masuk ke kamar rawat mas ryan.
Sesampainya di depan pintu kamar mas ryan, aku membukanya perlahan dan aku lihat ternyata mas ryan sedang tertidur.
Aku menyerahkan semua belanjaan bu wati kepada bu wati. Dan bu wati segera membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
Aku mengeluarkan beberapa snack dan minuman yang aku beli di sidomar tadi dan aku letakkan diatas nakas samping ranjang mas ryan.
Kasihan mas ryan dan bu wati kalau gak ada camilan sama sekali. Biar mereka gak jenuh menunggu disini.
Saat aku merapikan nakas di samping ranjang mas ryan, tiba-tiba mas ryan terbangun.
"Eh kamu sudah balik rin. Ibu dimana rin?" Tanya mas ryan
"Iya mas, aku baru saja masuk kamar kamu mas. Ibu lagi ada di kamar mandi mas, sepertinya ibu beneran gerah mas makanya beliau langsung mandi. Oh iya, ini mas atm kamu dan ini struk pengambilan uang dan ini juga sisa uangnya." Ucapku sambil menyerahkan atm dan uang sisa belanja tadi ke mas ryan
"Kok kamu ambil uangnya cuman lima ratus ribu rin? Terus ini kok juga masih ada sisa uangnya rin?" Tanya mas ryan
"Iya mas, aku gak tau uang di atm kamu berapa. Jadi tadi aku ambil segitu aja dulu nanti kalau memang belanjaannya banyak dan uangnya kurang, kan juga masih ada uangku mas." Jawabku
"Loh kok gitu rin, harusnya kamu ambil saja sekalian beberapa juta rin." Ucap mas ryan
"Enggaklah mas, aku kan juga takut ambil uang kamu banyak-banyak. Apalagi belanjanya aja juga gak banyak gitu mas. Oh ya mas, maaf itu hanya ada struk belanja di sidomar saja, soalnya untuk baju dan hijabnya ibu gak ada struk belanjanya mas. Ibu ajakin aku belanja di pasar, ibu gamau aku ajak belanja di toko mas." Jawabku
"Ya, terserah beliau dah rin. Ibu aku memang gitu, susah kalau diajak seneng-seneng belanja-belanja gitu. Makasih banget ya rin, kamu mau bantuin aku dan orangtuaku. Kamu juga mau nemenin aku disini. Kamu gak dicariin ahmad nanti rin?" Tanya mas ryan
"Eh, enggaklah mas, kan mas ahmad juga lagi pulang ke surabaya mas. Kamu tuh mas, sengaja ya mau kenalin akau ke keluarga kamu." Ucapku
Mas ryan mengernyitkan dahinya sambil menatapku tajam. Aku sudah menduga kalau mas ryan sebenarnya mempunyai perasaan yang lebih dari seorang sahabat meskipun mas ryan belum mengungkapkannya.
Bu wati keluar dari kamar mandi dengan membawa kantong plastik yang mungkin isinya baju kotor beliau.
Saat kami sedang duduk, dan aku membuka beberapa snack untuk aku berikan ke mas ryan, tiba-tiba seorang perawat datang.
"Selamat sore, pak ryan barusan ada kabar dari dokter kalau pak ryan sudah diperbolehkan pulang. Karena bapak tidak menggunakan infus, jadi keluarganya bisa langsung ke tempat perawat dan ke tempat administrasi ya untuk mengurus berkas-berkas pak ryan sebelum pulang." Ucap perawat tersebut
"Iya mbak, terimakasih informasinya. Saya akan segera mengurus semuanya." Ucapku sambil menganggukkan kepala
"Sama-sama bu" ucap mbak perawat sambil berjalan keluar dari kamar rawatnya mas ryan
"Mas kamu sudah diperbolehkan pulang loh." Ucapku
"Iya, alhamdulillah rin, aku langsung boleh pulang. Udah gak betah banget tidur disini rin." Ucap mas ryan
"Iya mas alhamdulillah, terus kamu pulangnya gimana mas?" Tanyaku serius
"Ya gak gimana-gimana rin, aku pulang sama ibu naik motorku aja." Jawab mas ryan dengan yakin
"Eh jangan ngawur kamu mas, kamu tuh matanya baru aja dioperasi mas kok bisa-bisanya mau kendarain motor sendiri." Larangku
"Eh, aku gapapa loh rin, mata aku juga udah baik-baik aja kok. Aku tuh udah biasa tau kayak gini. Cuman kemaren tuh mataku tiba-tiba perih dan susah banget buat dibukanya. Makanya aku langsung kesini kemarin habis pulang kerja. Tadi aja aku juga cuman operasi ringan aja kok rin." Jawab mas ryan meyakinkanku
"Gini aja deh mas, kalau kamu memang maksain mau kendarain motor sendiri. Ibu biar pulangnya aku bonceng, aku anter sampai rumah kamu. Kamu kendarain motornya juga gak boleh kenceng-kenceng dan harus ada di deket aku mas. Biar aku bisa awasin kamu di jalan." Ucapku
"Yasudah kalau seperti itu aku juga setuju rin." Jawab mas ryan
"Eh bu, ibu gapapa kan kalau saya boncengin dan saya antar ibu pulang sampai rumah? Saya masih khawatir bu, kalau mas ryan kendarain motor sendirian apalagi boncengin ibu." Tanyaku pada bu wati
"Ibu sih terserah ryan aja enaknya gimana. Apa kamu gak sibuk rin kalau mau antar ibu pulang juga. Kan jauh rin dari sini." Ucap bu wati
"Enggak bu, saya malah seneng kok bosa jalan-jalan." Jawabku
"Gaya kamu rin, toh kerjaan kamu tiap hari juga jalan-jalan." Ucap mas ryan sambil tertawa
"Hehehehehe. Sudahlah mas, sama saja. Aku keluar dulu mas urus berkas-berkas kamu. Setelah itu aku beresin barang-barang kamu terus kita pulang." Ucapku sambil tersenyum
Aku langsung bergegas keluar dari kamar rawat mas ryan dan langsung menuju lantai satu untuk mengurus berkas-berkas administrasi kepulangan mas ryan.
Setelahnya aku langsung kembali ke lantai dua dan langsung ke ruang perawat.
Setelah itu aku langsung kembali ke kamar rawat mas ryan. Saat aku masuk kamar rawat mas ryan, ternyata semua barang-barang sudah bersih.
"Loh kok sudah diberesin mas?" Tanyaku
"Iya rin, biar cepet pulangnya jadi bagi tugas aja." Jawab mas ryan santai
"Yasudah mas, kamu sudah boleh langsung pulang. Ini obat-obatnya yang harus kamu bawa pulang mas. Terus ini juga surat kontrolnya mas. Seminggu lagi kamu harus kontrol kesini mas." Ucapku
"Siiap boss" ucap mas ryan singkat sambil menyunggingkan senyumnya
Akhirnya kami bertiga langsung keluar dari kamar rawat mas ryan dan bergegas berjalan menuju ke parkiran tempat motor kami terparkir.
Akhirnya aku menaiki motor maticku dengan membonceng bu wati. Sedangkan mas ryan mengendarai motornya sendirian dengan kondisi mata yang satunya tertutup kassa bekas operasi tadi.
Empat puluh lima menit kemudian kami sampai di rumah mas ryan.
Sesampainya disana, aku membawa masuk semua barang-barang dan jajanan yang tadi ada di rumah sakit.