Chapter 10 : Sepertinya Lucas Jatuh Cinta

2007 Kata
Lucas menyimpan kembali ponselnya dan kembali menatap lurus ke depan. Tatapannya langsung tertuju pada seorang gadis yang sedang melangkah menuju ke arahnya. Gadis itu adalah Wendy dan Lucas entah kenapa sangat bahagia dapat melihat gadis itu lagi. Debaran jantung yang tak bisa Lucas bohongi, kalau dia memang sangat menyukai Wendy. Maka Lucas langsung keluar dari mobil dan menatap Wendy yang langsung sadar dengan kehadirannya. Langkah Wendy terhenti, melihat Lucas dari kejauhan yang sudah ada di depan tempat kerjanya. Kenapa Lucas ada di sana? Wendy terus bertanya-tanya sampai akhirnya Lucas melangkah mendekat ke arah Wendy. Lucas melangkahkan kakinya mendekat dan kemudian langsung menarik tubuh Wendy saat itu juga dan membawanya ke dalam pelukan. Lucas memeluk tubuh Wendy erat, sedangkan gadis itu merasa terkejut dengan apa yang barusan Lucas lakukan. Memeluknya secara tiba-tiba tentu saja membuat Wendy terkejut. "Kamu kemana saja? Aku rindu." kata Lucas jujur sambil terus memeluk Wendy penuh dengan kerinduan. Wendy terkejut dengan apa yang dikatakan Lucas barusan dan juga Lucas memeluknya dengan erat. Anehnya Wendy tidak merasa risih sama sekali. Bahkan Wendy merasa nyaman berada di dalam pelukan Lucas. Tentu saja jantungnya berdegup tak karuan di dalam pelukan laki-laki itu. Wendy tidak membalas ucapan Lucas dan membiarkan laki-laki itu memeluknya seperti ini. Rasanya sangat nyaman. Wendy lupa kapan terakhir kali dia dipeluk seperti ini oleh seorang pria dan sekarang Lucas lah orang yang berani memeluknya. Lucas melepaskan pelukan mereka dan menatap mata Wendy yang dapat terlihat jelas kalau Wendy sangat gugup sehabis Lucas melepas pelukan mereka. Lucas menunduk saat dia melepas pelukan Wendy barulah dia sadar kalau tindakannya yang tadi bukanlah hal yang bagus. Lucas jadi malu sekarang. "Ma-maaf aku cuma khawatir sama kamu karena katanya kamu sakit. Itu pasti gara-gara hujan-hujanan waktu kita ke supermarket kan?" tanya Lucas wajahnya kembali khawatir dan menatap wajah Wendy lekat-lekat ingin memastikan apakah gadis itu sekarang baik-baik saja atau masih sakit. Wendy tersenyum dan menggeleng. "Aku udah baik-baik saja kok." Lucas menghela nafas lega dan ikut tersenyum melihat Wendy yang semakin tersenyum lebar karena Lucas. "Oh ya, kamu ngapain di sini? Ada urusan?" kata Wendy penasaran kenapa tiba-tiba Lucas bisa berada di tempat kerjanya. Lucas terdiam sesaaat dan langsung tersadar. Bagaimana ini, jawaban apa yang akan dia berikan kepada Wendy. Apakah dia harus jujur mengenai kebiasaanya yang selalu menunggu Wendy di sini karena khawatir? Atau sok jual mahal dan bilang kalau Lucas tidak sengaja lewat? Lucas butuh Dirga sekarang, karena hanya dengan laki-laki itu Lucas bisa memberikan jawaban yang tepat. "Hmm, ak-" Ucapan Lucas tertahan saat dia merasakan ponselnya berdering. Wendy melirik saku celana Lucas yang terdengar suara deringan ponsel yang berasal dari sana. Lucas meringis, jika itu adalah panggilan dari mamahnya lagi, maka dia akan menolak panggilan itu. "Maaf, sebentar ya." kata Lucas lalu segera merogoh saku celanannya dan melihat nama Dirga yang muncul di layar. Syukurlah ternyata itu bukan dari mamahnya, maka Lucas langsung mengangkat telepon dari Dirga. "Halo?" "Lo di mana? Cepat ke sini, udah mau jam berapa coba." Lucas tau maksud Dirga 'ke sini' dan mengangguk mengerti, setelah dia melihat arlojinya barulah dia paham mengapa Dirga memaksanya untuk cepat pergi ke kantor. Ini sudah hampir pukul depalan pagi. Tamatlah sudah, pasti dia akan dimarahi papahnya lagi. "Iya, bye." Lucas langsung menutup telepon dengan gerakan cepat dan kembali melihat Wendy yang masih setia menunggu Lucas. Lucas mengulum bibirnya dan melihat Wendy. "Aku buru-buru harus pergi. Nanti jawaban atas pertanyaan kamu akan aku jawab, makanya," Lucas mengenggam ponselnya dan menyodorkannya kepada Wendy. "Boleh minta nomor telepon kamu?"  tanya Lucas sambil menyodorkan ponselnya kepada Wendy. Gadis itu menunduk melihat ponsel Lucas. Sebenarnya Wendy sangat malas saat ada laki-laki yang menginginkan nomor teleponnya, biasanya Wendy akan menolak permintaan mereka sekaligus memutuskan hubungan agar mereka tidak bisa bertemu lagi. Karena Wendy sangat takut untuk jatuh cinta lagi. Namun, kali ini Wendy mengambil ponsel Lucas yang sudah agak lama tergantung di hadapannya. Wendy mengetikkan beberapa nomor lalu setelah selesai memberikan kembali ponsel itu kepada pemiliknya. "Namain Wendy saja." kata Wendy lagi dan Lucas mengangguk dengan senyuman yang tentunya terpasang di wajahnya. Ini pertama kali Lucas menerima nomor telepon seorang perempuan, biasanya dia akan mendapatkan nomor itu dahulu dari mamahnya karena biasanya gadis yang sering dia temui adalah gadis-gadis pilihan mamahnya. Lucas tersenyum dan menunduk malu, merasa sangat senang karena sudah mendapatkan nomor telepon Wendy. "Aku bakal hubungin kamu nanti, mau makan malam sama aku?" tanyanya dengan harapan Wendy tidak akan menolaknya. Wendy terdiam sebentar terlihat menimbang ajakan Lucas dan mengangguk. "Boleh, tapi aku nggak bisa lama-lama." Senyuman Lucas semakin lebar, bahkan rasanya Lucas ingin melompat-lompat saat itu juga. "Iya, sampai jumpa nanti Wendy!" kata Lucas agak melambaikan tangannya dan melangkah menuju mobil. Wendy tersenyum tipis dan membalas lambaian tangan Lucas yang aneh itu, melihat Lucas masuk ke dalam mobilnya dan menunggu sampai mobil Lucas pergi dari sekitaran tempat kerjanya. Wendy menghela nafas saat mobil Lucas sudah pergi. Ada rasa takut saat dia berhadapan dengan Lucas. Takut jatuh cinta. Ya, Wendy merasa takut jatuh cinta, takut kejadian yang lalu terulang kembali padanya. Namun, tentu saja entah kenapa Wendy ingin mencoba dulu, jika memang dia takut menjalin hubungan kembali. Dia akan mengungkapkan semuanya kepada Lucas dan menjauh dari laki-laki itu. *** Lucas datang ke kantor dengan perasaan yang sangat gembira, bahkan senyumannya terus menyungging dan Lucas banyak sekali tertawa hari ini, sampai Dirga saja merasa ada yang aneh dengan sepupunya itu, apakah Lucas kesurupan mbak kunti karena dia banyak tertawa hari ini. "Seneng banget, ada apanih?" tanya Dirga pada akhirnya merasa penasaran dengan sepupunya. "Kepo deh satu jomlo ini." ledek Lucas seraya membalik lembar-lembar yang tadi Dirga berikan kepadanya. Dirga hanya menggeleng karena merasa bahwa sepupunya ini sudah kelewat gila sampai Lucas lupa kalau Lucas juga jomlo tapi sudah berani mengatakan Dirga jomlo. Tidak mengaca emang manusia satu ini. "Kayak lo nggak jomlo aja." balas Dirga membuat senyuman yang ada di wajah Lucas meluntut. Laki-laki itu melirik Dirga tajam. "Kayaknya gue bakal punya pacar deh Dir." kata Lucas dan Dirga langsung melotot. Bukannya apa. Lucas pacaran? Itu akan menjadi keajaiban. Mamah Ria akan bersorak gembira setelah mendengar bahwa anaknya yang satu itu akan segera memiliki pacar. Atau mungkin dari keluarga besar akan membuat tumpengan besar dan mengarak Lucas keliling Jakarta kareba laki-laki itu sudah berhasil mendapatkan seorang pacar. Oke, Dirga tau itu lebay, tapi tetap saja Lucas yang selama ini selalu dingin kepada semua wanita yang pernah ditemuinya, merasa bodoamat dan acuh jika mereka membahas wanita kecuali Shena. Tapi kini, Lucas mengatakan kalau dia akan menjalin hubungan dengan wanita. Eh, tunggu sebentar. "Pacar yang lo maksud cewek kan Cas?" tanya Dirga agak sedikit curiga dengan sepupunya ini. Jangan-jangan Lucas ini jeruk makan jeruk. Lucas kembali melirik Dirga tajam dan langsung menoyor kepada Dirga. "Maksud lo apa hah? Ya cewek lah!" Dirga menghela nafas lega. Kalau sampai Lucas jeruk makan jeruk, dia bisa habis di tangan mamah Ria dan suaminya, tapi syukurlah ternyata Lucas normal-normal saja dan Dirga turut senang dengan kabar gembira yang diberikan secara mendadak oleh Lucas. "Namanya siapa?" "Wendy." jawab Lucas dan Dirga merasa sedikit tidak asing dengan nama itu. Wendy katanya. Dirga terus berpikir di mana dia menemukan Wendy ini karena sepertinya Wendy ini sangat-sangat tidak asing di telinganya. "Mbak Wendy! Aku mau pe-" Dirga tau sekarang. "Cewek dari perpustakaan itu?" Lucas mengangguk. "Jadi, Shena kenal sama dia? Dan dia kenal sama Shena?" "Katanya nggak mau bahas Shena lagi." "Ah iya, lupa." Dirga memberikan cengirannya kepada Lucas dan langsung kembali teringat dengan Shena. Gadis yang tentu saja masih ada di dalam ingatannya. "Mau gue cariin cewek baru nggak Dir?" "Mana-mana? Mau dong!" Lucas terkekeh dan kemudian memberikan ponselnya kepada Dirga. Dirga melihat seorang gadis cantik di layar ponsel Lucas dan seketika saja bibirnya membentuk senyuman saat memandangi gadis itu. Terlihat sangat cantik di matanya. "Gimana mau?" tanya Lucas setelah melihat ada ketertarikan di wajah Dirga. "Iya, boleh. Eh tapikan ini cewek yang bakal ketemu sama lo, nggak apa-apa nih kalo gue yang datang?" Lucas langsung tertawa saat mendengarnya. Tentu saja tidak apa-apa karena Lucas juga sengaja tidak mau datang ke dalam acara perjodohan yang sudah disiapkan oleh mamahnya. "Lo kan tau gue udah ada calon, jadi buat lo aja ya Dir." Dirga mengangguk seraya tersenyum tipis. Gadis yang ada di dalam foto itu cantik, tapi Dirga sendiri tidak yakin apakah dia dapat menyukai gadis itu dan melupakan Shena. *** Lucas melihat pantulan dirinya yang ada di depan cermin. Berkali-kali dia merasa puas dengan dirinya yang sangat tampan di pantulan cermin itu. Mungkin, jika ada kontes membanggakan diri sendiri Lucas akan menjadi pemenangnya, karena kerjaan Lucas hanya terus memuji wajahnya yang tampan. Karena sudah terlalu larut dengan ketampanannya, Lucas jadi lupa kalau dia harus mengabarkan Wendy tentang jadwal makan malam mereka nanti. Membayangkannya saja sudah membuat Lucas senyum-senyum sendiri. Maka Lucas mengambil ponselnya dan menekan kontak Wendy. Sebenarnya, Lucas ingin menelepon namun karena takut akan menganggu Wendy akhirnya Lucas mengurung niatan itu dan beralih menjadi hanya mengirim sebuah pesan singkat kepada gadis itu. "Halo, ini aku Lucas. Soal makan malam kita nanti, aku akan jemput kamu ya sepulang kamu kerja. Nanti kabarin aku aja kamu pulang jam berapa, maaf menganggu sebelumnya." Lucas langsung mengirim pesan itu dengan perasaan yang tak karuan. Bahkan dirinya hampir melompat karena terlalu senang dan buru-buru untuk menyimpan ponselnya kembali ke saku. Lucas tidak mau melihat Wendy yang membaca pesannya dan bahkan mengetik balasan. Lucas akan menunggu sampai pesan dari Wendy datang, itu saja. Wendy yang sedang menjaga perpustakaan merasa terkejut dengan dering di ponselnya, namun senyumnya langsung merekah ketika melihat pesan yang berasal dari Lucas. Wendy langsung membaca pesan itu dan terus menyembunyikan senyumnya, takut kalau akan menjadi kentara kalau dia memang tertarik dengan Lucas. Wendy segera membalas pesan itu cepat, menjawab kalau dia akan menunggu Lucas. *** Lucas memandang huja  yang turun dari jendela mobil. Hari ini tujun hujan lagi dan untung saja Lucas sudah membawa payung untuk persediaan, dan benar saja ternyata hari ini turun hujan. Sekarang, Lucas akan menuju tempat kerja Wendy, mereka sudah membuat janji untuk bertemu dan Lucas sedang dalam perjalanan untuk menjemput Wendy. Membayangkan bagaimana cara Wendy membalas pesannya membuat Lucas merasa sangat senang. Mungkin ini yang sering mereka bilang penyakit Cinta. Saat si orang yang kita anggao spesial membalas pesan kita saja sudah membuat senang setengah mati. Sepertinya Lucas sedang jatuh cinta dan berada di fase tersebut. Lucas memberhentikan mobilnya di parkiran dan membuka seatbelt lalu hendka membuka pintu mobil namun gerakannya tertahan saat melihat seorang gadis yang berdiri di depan gedung perpustakaan, memayungi dirinya sendiri dengan tas kecil. Dari jauh pun Lucas dapat mengetahui kalau gadis itu adalah Wendy. Maka dengan cepat Lucas mengambil payung yang ada di belakang mobilnya dan membuka pintu mobil, membuka payungnya yang berwarna merah itu lalu turun dari mobilnya. Lucas buru-buru menutup pintu mobil dan berlari ke arah Wendy. "Wendyy!" serunya sambil berlari ke arah gadis itu. Wendy yang tentu saja menyadari kehadiran Lucas ikut tersenyum. Melihat bagaimana cara Lucas berlari membuat Wendy takut kalau laki-laki itu akan jatuh. "Hati-hatii." teriak Wendy dan Lucas malah semakin kencang berlari. Wendy melihat sosok Lucas dari kejauhan, entah bagaimana bisa laki-laki itu terlihat sangat tampan walau dari jauh, dan juga entah bagaimana bisa Wendy seolah-olah tersihir dengan pesona Lucas saat itu juga. Tak bisa dibohongi kalau debaran di d**a Wendy semakin besar ketika Lucas semakin dekat ke arahnya dan akhirnya laki-laki itu datang, berdiri dengan jarak dekat dengan Wendy mungkin hanya ada sepuluh sentimeter jarak yang memisahkan mereka. Wendy merasa kalau Lucas terlalu dekat dengannya dan takut kalau pipinya ini berubah menjadi merah. "Aku payungin, bair kamu nggak kehujanan." kata Lucas dengan nafas tersengal, membuat Wendy langsung mendongak ke atas dan benar, payung berwarna merah kini berada di atas kepalanya. Wendy terdiam merasa kalau sepertinya dia tersihir denga tindakan-tindakan Lucas. "Makasih." ujar Wendy pelan. "Sama-sama, aku nggak mau kamu sakit lagi, karena aku suka kamu." ujar Lucas dengan senyuman lebar dan Wendy spontan langsung mendongak melihat laki-laki itu setelah Lucas mengatakan kalau Lucas suka dengan dirinya. Lucas malah tersenyum semakin lebar, membuat laki-laki itu semakin terlihat tampan. Kenapa Lucas harus mengatakan perasaanya secara transparan seperti ini? Membuat Wendy merasa sangat gugup dan senang secara bersamaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN