Chapter 11 : Rasa Sakit Sebuah Pengkhianatan.

2037 Kata
"Sama-sama, aku nggak mau kamu sakit lagi, karena aku suka kamu." Lucas dapat melihat wajah Wendy yang langsung memerah begitu dia mengatakannya. Entah ada apa yang merasuki Lucas. Mengapa Lucas jadi mengakui semuanya kalau dia memang suka dengan Wendy, padahal sejak awal Lucas selalu bersikap biasa saja dan menahan untuk mengungkapkan isi hatinya. Namun, sepertinya Lucas tidak bisa menahannya lagi hari ini. "Kamu sakit? Pipi kamu merah Wen." kata Lucas dengan senyuman kecil. Sebenarnya Lucas sudah tau mengapa pipi gadis itu memerah, pasti karena Lucas yang mengungkapkan perasaan secara tiba-tiba. Namun, Lucas ingin pura-pura tidak tau di hadapan Wendy. "Eng-enggak! Ayo kita mau makan di mana?" tanya Wendy gugup dan bahkan sesekali menghindar dari tatapan Lucas. "Tempat makannya lurus aja kok dari sini." "Ohh, oke lurus ya." Wendy degan cepat melengos pergi tanpa sadar kalau ternyata hujan sedang turun deras-derasnya. Lucas langsung menarik tangan Wendy agar gadis itu kembali masuk ke dalam payung. Wendy tertarik mendekat ke tubuh Lucas. Gadis itu terdiam memandang wajah Lucas yang jarak dengan wajahnya sangat dekat. Hal yang pertama kali Wendy katakan di dalam hati begitu dia bertatap wajah dengan Lucas sedekat ini adalah Lucas sangat tampan. Wajahnya benar-benar aset yang perlu dijaga. Beberapa detik Wendy memandangi wajah Lucas, gadis itu langsung cegukan. Lucas menarik senyum kecilnya saat melihat bahw gadis yang ada di hadapannya ini sedang cegukan, maka Lucas menarik Wendy untuk berdiri di sampingnya dan merangkul Wendy tanpa menyentuh bahu gadis itu. "Ayo, siap-siap lari ya." kata Lucas dengan senyumannya. Wendy yang masih sibuk dengan cegukannya itu mengangguk saja, mengikuti apa yang Lucas katakan. Lucas menatap ke depan melihat lampu penyebrangan jalan yang masih berwarna merah, dan butuh waktu tiga detik lagi untuk lampu itu berubah warna menjadi hijau. "Satu.... dua.... tiga!" Lucas dan Wendy langsung melangkahkan kaki mereka secara bersamaan, berlari di tengah hujan dengan senyuman lebar yang terpancar di masing-masing wajah mereka. Wendy berlari dengan senyuman lebarnya yang sudah lama tidak dia pasang di wajahnya ini, dan Lucas berlari dengan senyuman yang lebih bahagia saat dia bersama Wendy. *** "Kata kamu, kamu suka makan-makanan yang sederhana kan? Karena hujan kayak gini enaknya kita makan mie rebus!" kata Lucas antusias dan Wendy mengangguk setuju. Di luar sana hujan turun dengan begitu derasnya, udara juga semakin dingin karena memang awal tahun sudah masuk ke musim hujan, namun Wendy sangat senang karena Wendy sangat suka dengan hujan. Karena hujan Wendy merasa kalau dia semakin semangat menjalani hari-harinya yang sudah terasa sangat berat. "Wen?" Wendy menyadarkan lamunannya, karena terlalu asik memikirkan sesuatu Wendy jadi melamun dan mengabaikan Lucas yang sepertinya sudah banyak berbicara sedari tadi. "Iya ada apa?" "Kamu ada pikiran ya Wen? Masih nggak enak badan?" Wendy langsung menggeleng pelan dan tersenyum kecil melihat Lucas malu-malu dan langsung menunduk. "Nggak, aku nggak apa-apa." kata Wendy pelan. Lucas hanya mangut-mangut dan suasana berubah menjadi canggung. Lucas tau alasannya mengapa suasana berubah menjadi tidak enak seperti ini, pasti karena dirinya yang tiba-toba menyatakan perasaan kepada Wendy. "Hm, Wen." "Ya?" Wendy langsung mengangkat kepalanya dan melihat Lucas dengan mata bulatnya. "Aku mau minta maaf karena udah buat kamu nggak nyaman  karena perkataan aku tadi, aku minta maaf aku cuma pengen ngungkapin perasaan aku aja." kata Lucas dengan senyman canggung. Wendy terdiam sebentar dan kemudian menarik senyum tipisnya. "Iya, nggak apa-apa." katanya tenang, walaupun di dalam hati gugup setengah mati. Sejujurnya, Lucas bukan orang pertama yang mengungkapkan perasanya kepada Wendy. Karena ada banyak laki-laki yang datang dan mengungkapkan perasaan mereka. Tapi, Lucas satu-satunya orang yang dapat membuat hati Wendy berdebar kencang. Melihat tanggapan Wendy yang santai saja membuat Lucas merasa sangat senang, karena ungkapannya tidak membuat Wendy menjadi ilfeel  kepada Lucas. Lucas terus memandangi wajah Wendy yang selalu cantik di matanya. Gadis itu memiliki mata yang bulat dan juga bola mata yang berbinar, hidung Wendy tidak terlalu mancung, dan Wendy juga tidak berkulit putih. Namun di mata Lucas, gadis itu sangat cantik sejak awal pertemuan mereka. "Sudah jadi kak mie nya, selamat dinikmati." Lucas tersenyum melihat seorang pelayan meletakkan dua mangkuk mie rebus di atas meja beserta es teh manis sebagai minuman. Wendy ikut tersenyum ketika mienya sudah datang. Pelayan itu segera berlalu begitu dia menyelesaikan tugasnya. "Kalau kamu suka mie yang rasanya apa Wen?" tanya Lucas tiba-tiba sambil mengaduk mienya. Wendy terdiam sebentar karena merasa terkejut dengan perkataan Lucas yang tiba-tiba itu. "Hmm, apa ya? Semuanya suka sih kayaknya." "Iya sama banget aku juga suka sama semuanya!" sahut Lucas dengan senyuman lebar. Refleks saja Wendy ikut tersenyum lebar dan mengangguk menanggapi Lucas. "Suka diledek mulut sampah sama saudara sendiri, ya karena aku emang pemakan apapun sih." "Asal jangan kotoran aja." ujar Lucas lagi sambil sesekali melirik Wendy yang terkekeh dengan perkataanya barusan. "Bener, ya makan apa aja yang ada, selagi masih bisa dimakan ya makan aja." Wendy menimpali dan Lucas mengangguk menyetujui. Wendy tersenyum, ternyata Lucas ini tipe cowok yang bawel yang suka menceritakan apapun kepada Wendy dan menurut Wendy pula hal itu sangat lucu. "Soal cowok yang waktu itu di supermarket, dia mantan kamu?" tanya Lucas agak sedikit kepo namun nada suaranya diturunkan saat menanyakan itu. Sejujurnya hal tentang kejadian di supermarket dan laki-laki bernama Alex itu masih agak menganggu pikiran Lucas, sampai sekarang. Wendy  yang tadi sedang mengaduk mie langsung menghentikan aktivitasnya dan terdiam beberapa saat sebelum dia menjawab Lucas, "Iya." jawabnya dengan senyuman paksa. Wendy tidak ingin mengingat segala hal tentang Alex. Bagi Wendy segala hal tentang Alex itu menyakitkan. "Dia masih hubungin kamu lagi?" tanya Lucas lagi semakin kepo dengan hubungan mereka berdua. Lucas ingin memastikan apakah hubungan mereka berdua sudah selesai atau belum. "Udah enggak." kata Wendy lagi kali ini tanpa senyuman. "Maaf aku udah ikut campur, tapi," Wendy mengangkat kepalanya melihat Lucas. "Apa?" tanya Wendy merasa tidak suka kalau Lucas menggantungkan ucapannya. "Aku ngerasa nggak nyaman sama itu." kata Lucas jujur sambil mengeratkan pegangannya kepada sendok. "Aku ngerasa nggak nyaman saat aku punya saingan." ujar Lucas lagi melirik Wendy malu-malu. Sedangkan gadis itu hanya terdiam mendengar perkataan Lucas barusan. Lagi dan lagi Wendy merasakan ada kupu-kupu di dalam perutnya yang akan segera melompat keluar. Wendy melihat Lucas yang langsung melahap mie yang ada di hadapan laki-laki itu dan menundukkan kepalanya karena merasa malu sudah mengatakan itu kepada Wendy. Wendy merasa Lucas sangat berbahaya baginya. Karena dengan Lucas, berkali-kali Wendy merasakan ada sesuatu aneh di dalam dadanya, seperti debaran cinta. *** Dirga merasa tak nyaman karena dia sekarang sudah berada di sebuah cafe. Dirga sudah membuat janji dengan seorang gadis yang seharusnya bertemu dengan Lucas. Karena gadis itu seharusnya berada di sini dengan Lucas, bukan Dirga. Tapi, karena kebetulan Lucas sudah menyukai seseorang, maka Dirga yang bertindak menggantikan sepupunya itu. Seorang gadis masuk ke dalam cafe. Gadis dengan sweater berwarna lilac dan bawahan menggenakan celana jeans datang masuk ke dalam cafe sambil memperhatikan sekitar. Dirga melihat gadis itu dan langsung mengetahui siapa gadis itu, ternyata gadis itu adalah orang yang sudah membuat janji pada Lucas. Maka, Dirga berdiri dan melambaikan tangannya kepada gadis itu, awalnya gadis cantik itu agak bingung, karena foto yang diberikan ibunya sangat berbeda dengan yang ada di cafe. Namun, gadis itu tetap melangkah dan tersenyum menyapa Dirga. "Lucas ya?" "Bukan, saya Dirga." jawab Dirga ikut tersenyum, namun gadis itu malah terkejut. "Oh, saya salah orang ya? Maaf mas." kata gadis itu dengan senyuman kecil dan hendak berbalik meninggalkan Dirga, namun dengan cepat Dirga menahan tangan gadis itu, "ini Fania kan?" tanya Dirga dan gadis yang bernama Fania itu melihat Dirga bingung, mengapa laki-laki itu bisa tau namanya. Dirga tersenyum, lalu melepaskan genggaman tangannya kepad Fania. "Aku Dirga, teman Lucas. Maaf kalau ternyata aku yang datang." Fania melihat Dirga masih dengan tatapan bingung, apa maksud dari laki-laki ini, mengapa dia menggantikan Lucas. Fania menggeleng pelan, merasa tidak perduli dan langsung duduk di kursi melihat Dirga yang masih berdiri di hadapannya. "Jadi kamu bukan Lucas?" Dirga terdiam sebentar lalu kembali duduk dan menggeleng, terlihat senyuman dari wajah Fania. "Jadi? Kenapa kamu menggantikan Lucas?" Dirga juga bingung ingin menjawab apa saat Fania mengatakan itu padanya, "karena aku tertarik sama kamu?" ujar Dirga asal bicara dan gadis itu langsung tertawa pelan mendengar apa yang Dirga katakan tadi. Fania mengulurkan tangannya kepada Dirga, "nama aku Fania Ayu." Dirga menarik senyum dan membalas uluran tangan Fania, "Dirgantara." *** "Aku antar kamu pulang ya?" "Nggak usah." Wendy menolak saat Lucas menawarkan diri untuk mengantar Wendy pulang. Lucas yang sedang membayar semua pesanan mereka di kasir langsung menoleh melihat Wendy yang ada di sampingnya. "Kenapa? Ini udah malam." "Aku bisa pulang sendiri." Lucas menggeleng, "Aku antar!" kata Lucas tegas dan menerima uang kembalian dari kasir. Lucas dan Wendy melangkah keluar cafe tempat mereka makan tadi. Saat mereka keluar dari cafe untung saja hujan sudah berhenti, Wendy tersenyum saat tau bahwa huja  sudah berhenti, "Ayo kita pulang." Lucas tersenyum dan kemudian jalan lebih dulu menuju mobilnya. Wendy hanya bisa pasrah dan mengikuti Lucas dari belakang, sampai akhirnya Lucas menghentikkan langkah kakinya sebelum dia membuka pintu mobilnya sendiri. Ponsel Lucas yang berada di dalam saku celananya berdering. Lucas terdiam dan langsung mengambil ponselnya yanga ada di saku dan melihat layar ponsel menunjukkan nama mamahnya. Lucas kembali menghela nafas dan langsung  mengangkat telepon itu mau tidak mau. "Cas? Kamu di mana? Mamah lagi di rumah sakit, tadi jatuh." kata ayahnya dengan nada panik. Mendengar itu Lucas langsung ikutan khawatir. "Mama sekarang kondisinya gimana?" tanya Lucas panik. Wendy yang melihat Lucas sedang cemas sambil menyebutkan kata mama langsung merasa kalau memang ada sesuatu yang tidak beres. Maka Wendy datang menghampiri Lucas begitu laki-laki itu selesai menelepon. "Maaf Wen, aku-" "Iya nggak apa-apa, kan udah aku bilang aku bisa sendiri." kata Wendy dengan senyuman melihat wajah Lucas yang sedang cemas seperti itu. "Mamah aku jatuh dan sekarang ada di rumah sakit." Wendy mengangguk paham karena sangat  mengerti apa yang Lucas rasakan saat ini. Wendy memegang bahu Lucas dan mengelusnya pelan, memberikan sedikit ketenangan dan kekuatan untuk Lucas. Lucas terdiam dan sedikit merasa tenang saat Wendy menyentuh bahunya. Laki-laki itu tersenyum kecil dan mengambil tangan Wendy yang ada di bahunya dan mengenggam tangan Wendy erat. Wendy agak terkejut saat tiba-tiba Lucas mengenggam tangannya dengan sangat erat. Lucas memejamkan matanya sambil terus mengenggam tangan Wendy lalu mengangkat kepala dan menatap Wendy yang tentunya sedang gugup sekarang. "Makasih." kata Lucas lembut. Wendy terdiam dan membiarkan tangannya yang masih ada di dalam genggaman tangan Lucas. Wendy merasa sangat nyaman ketika tangannya berada di dalam genggaman tangan Lucas. Lucas melepas genggaman tangan Wendy dan langsung membuka pintu mobilnya. "Aku bakal balik lagi." kata Lucas sungguh-sungguh dan Wendy mengangguk tersenyum sampai Lucas masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan mesin mobilnya. Wendy melihat kepergian Lucas dengan sedikit rasa sedih. Entah apa yang Wendy rasakan tapi Wendy sangat merasa sedih ketika Lucas pergi meninggalkan dirinya sendiri di sini. Wendy melangkah menuju penyebrangan jalan. Cuaca hari ini sangat dingin mungkin karena sedang musim hujan. Wendy berdiri di jalan penyebrangan jalan menunggu lampu berubah menjadi berwarna hijau sambil menatap kosong ke depan. Tiba-tiba di seberang sana Wendy melihat bayangan dirinya dengan Alex yang sedang bergandengan tangan. Jika diingat-ingat memang jalan ini sangat bersejarah untuk Wendy dan Alex karena jalan ini sangat berarti bagi mereka. Wendy merasa sesak, melihat kilasan bayangan dirinya dan Alex yang berada di seberang sana. Alex yang mengenggam tangan Wendy seakan-akan tidak akan meninggalkan Wendy dan juga sosok Wendy yang ada di sana balas mengenggam tangan Alex seakan dia sangat percaya kalau laki-lakinya yang bernama Alex itu akan selalu berada di sisinya. Lampu sudah berubah menjadi hijau, bayangan dirinya dengan Alex berjalan  ke arah berlawanan dengan Wendy, sedangkan Wendy hanya terdiam melihat kilasan bayangan dirinya dengan Alex melangkah ke arah dirinya dengan penuh senyuman dan kebahagiaan. Belum sampai bayangan itu sampai ke seberang jalan, bayangan itu sudah meghilang dan Wendy langsung ambruk di tanah. Merasa sangat sesak dan sakit hati dengan apa yang dia ingat di jalan ini. Wendy terisak sambil terus memegang dadanya yang terasa sangat sesak, orang yang ada di sekitar Wendy langsung terkejut dan langsung menanyakan kondisi Wendy, namun Wendy tidak menjawab dan terus menangis. Wendy merasa sangat sedih melihat bayangannya yang dulu sangat percaya dengan Alex dan percaya kalau mantan suaminya itu akan selalu berada disisinya. Namun, kenyataan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Wendy terisak sambil terus membayangkan rasa sakit yang selalu datang kepadanya setiap malam. Rasa sakit sebuah pengkhianatan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN