Chapter 9 : Kamu kemana saja? Aku rindu.

2004 Kata
Lucas menatap sekitar dengan tatapan sedih. Wendy tidak masuk hari ini karena sakit, namun Lucas sama sekali tidak bisa menjenguk di mana perempuan itu berada. Padahal Lucas sangat khawatir sekarang, khawatir dengan kondisi Wendy saat ini. Karena hujan-hujanan kemarin Wendy sampai sakit seperti ini. Dan sialnya lagi Lucas dan Wendy sama sekali belum bertukar nomor telepon. hal ini membuat Lucas benar-benar tidak bisa menghubungi Wendy padahal di dalam hatinya ini sangat-sangat khawatir tentag kondisi perempuan itu. Apakah sakit yang dialami Wendy sakit biasa atau sudah parah. Saat sedang berpikir dan juga bingung, Lucas mendapat satu telepon yang sudah dia ketahui darimana telepon itu berasal, yaitu dari papahnya, menyuruh Lucas untuk segera pergi ke kantor. Lucas dengan segala rasa khawatirnya menurut dengan sang ayah, karena kalau tidak bisa-bisa dia dipecat jadi anak dan Lucas tidak mau itu terjadi. "Halo pah?" Lucas mengangkat telepon. "Cepat kamu kemari, jalanan macet?" tanya ayahnya. "Iya, macet. Tunggu sebentar ya ini dikit lagi jalan." "Oke, papah tunggu." Telepon terputus. Lucas menyimpan kembali ponselnya di saku celana dan menghela nafas lalu melangkah menuju mobil hitamnya yang sudah terparkir rapih di depan perpustakaan. Lucas masuk ke dalam mobil. Kini, dia harus pergi ke apartemen Dirga dulu, karena Lucas yakin kalau anak itu pasti masih tidur saat ini. *** Sesampainya di apartemen Dirga, tanpa banyak tingkah Lucas langsung masuk dan melihat apartemen Dirga yang sudah rapih dan bahkan anak itu ada di dapur sudah memakai kemeja serta jas rapih dan siap berangkat menuju kantor. Lucas terdiam sesaat melihat pakaian Dirga sangat berbanding terbalik dengannya. Lucas memakai kaus putih dengan kardigan panjang selutut serta dengan bawahan jeans hitam biasa. Sedangkan Dirga sudah rapih dengan setelan kemaja dan jas. "Lo serius tadi malem lo mabuk?" tanya Lucas agak tak percaya karena laki-laki ini terlihat baisa-biasa saja seakan-akan Dirga tidak mabuk tadi malam. Dirga tersenyum simpul, lalu memberikan Lucas jus apel dan duduk di sofa. "Mabuk kok, cuman ya nggak separah biasanya." kata Dirga tedengar sangat tenang membuat Lucas merasa kalau ada yang aneh dengan sepupunya ini. Tidak biasanya Dirga seperti ini, biasanya dia akan merengek atau yang lebih menyebalkan bertingkah seperti anak umur lima tahun di depan Lucas. Namun hari ini Dirga terlihat sangat berbeda, bakan dari tatapan matanya juga sangat berbeda. Namun, Lucas tidak mau meributkan hal yang tak penting. Baguslah kalau memang Dirga sudah pergi menuju kedewasaan. Lucas tidak perlu mendengar rengekan anak kecil lagi dari bibir Dirga. "Udah ayo ah berangkat ke kantor, ini udah mau jam berapa coba." ajak Lucas meneguk habis jus apel yang tadi diberikan oleh Dirga. Laki-laki dengan setelan jas itu mengangguk, meminum jus apel hanya sedikit lalu bangkit dari sofa dan melangkah keluar apartemen. Lucas melihat punggung Dirga dengan tatapan aneh. Jujur, dia belum terbiasa dengan sifat Dirga yang sekarang. Apakah anak ini dapat berubah hanya dalam waktu semalam? *** Wendy keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat, sebenarnya untuk berjalan saja rasanya sangat lemas tapi Wendy sendiri merasa bosan hanya di dalam kamar alhasil Wendy menghabiskan waktunya untuk berjalan-jalan di sekitar rumah. Kadang ke ruang tamu untuk menonton televisi, kalau sudah  bosan akan kembali ke kamar dan tidur sebentar. Biasanya jam segini Wendy harus pergi bekerja dan sibuk, namun sekarang dia malah terbaring lemah di ranjang sambil terus memainkan ponselnya yang sama sekali tidak ada hal yang menarik. Wendy terus melihat-lihat isi galerinya yang sudah dihak milik oleh Lino, karena hampir semua foto dan video yang ada di dalam galeri Wendy adalah wajah Lino. Foto Lino semenjak anak itu dari lahir sampai sekarang yang sudah berumur lima tahun dan sangat menggemaskan. Wendy terus menggeser foto yang ada di galerinya. Sampai, akhirnya dia terdiam menatap satu foto yang begitu menyakitkan baginya. Foto pernikahannya dengan Alex yang terjadi beberapa tahun lalu. Terlihat di sana mereka berdua tersenyum lebar ke kamera seakan-akan pernikahan mereka akan bahagia selamanya, namun kenyataan yang Wendy rasakan sangat berbanding terbalik dengan apa yang dia bayangkan dulu saat pertama kali baru menikah dengan Alex. Kebahagiaan itu hanya sementara, Wendy masih ingat bagaimana dia sangat sakit hati dengan tindakan Alex yang menyelingkuhinya dan juga bagaimana cara Alex membuang dirinya. Wendy sangat ingat rasa sakitnya. Wendy langsung mengunci layar ponselnya karena merasa dadanya sesak jika mengingat masa lalu. Wendy menarik nafas panjang, tidak seharusnya dia mengingat masa lalu yang sangat menyakitkan itu, seharusnya Wendy hanya mengingat hal-hal yang membuatnya bahagia tanpa harus mengingat luka lama yang seharusnya sembuh. *** Lucas terus memperhatikan Dirga yang tampak tenang menikmati makan siangnya. Entah Dirga sedang kemasukan jin baik atau bagaimana Lucas merasa sangat tidak nyaman dengan sikap baru Dirga yang mendadak jadi pendiam seperti ini. Bukannya apa, jika Dirga bersifat dingin seperti ini maka laki-laki itu terlihat semakin tampan dan Lucas tidak suka itu. Bagi Lucas tetap dirinya yang paling tampan, nomor satu. Dirga memasukkan makanan ke dalam mulutnya dengan tenang, tanpa berisik seperti biasanya. "Dir." "Hm?" Bahkan jawaban yang keluar dari bibir Dirga hanya dehaman dan itu membuat Lucas merinding. Ini bukan Dirga. Ada sesuatu yang merasuki Dirga. Lucas yakin itu. Bahkab Lucas sampai agak menjauh dari Dirga karena sikap Dirga yang tidak seperti biasanya. "Lo bukan Dirga ya?" tanya Lucas memicingkan mata curiga kepada saudara sepupunya sendiri. Dirga melirik tajam Lucas dan menggeleng, "Bukan." jawabnya sengaja ingin meledek Lucas, dan Lucas langsung menutup mulutnya tak percaya. Sejak kapan genre ini berubah menjadi thriller. Melihat wajah Lucas yang agak takut itu membuat Dirga tertawa lepas dan bersikap normal biasa. Lucas yang melihat Dirga tertawa terbahak seperti itu langsung paham kalau dirinya sedang dikerjai oleh sepupunya yang tidak ada otak itu. "Gue pikir lo beneran kesurupan," "Syukurlah ternyata lo normal-normal aja." Lucas meghela nafas lega melihat Dirga yang sekarang hanya terkekeh dan memandang Lucas tak berdosa. "Gue lagi nggak ada semangat aja, kayaknya gue butuh liburan." Dirga ikut menghela nafas seraya menyandarkan tubuhnya ke belakang kursi. "Liburan?" "Gue ditolak Shena, bro." ungkap Dirga. "Lah, bukannya memang lo selalu ditolak Shena?" Dirga melayangkan lirikan tajamnya kembali dan Lucas langsung mengulum bibirnya merasa bersalah karena sudah mengatakan itu. Memang Dirga ini selalu ditolak oleh Shena, tapi sepertinya kali ini adalah tolakan terbesar yang Dirga dapatkan, terbukti Dirga langsung berubah walaupun tidak bertahan lama, tapi sikap Dirga tadi yang sempat membuat Lucas heran ternyata karena tolakan Shena. "Ditolak seberapa sakit kali ini Dir?" "Gue mundur." jawaban tak terduga yang malah keluar dari bibir Dirga. Bahkan Lucas sampai mencondongkan tubuhnya ke depan melihat Dirga untuk memastikan apakah hal yang dia katakan barusan itu sungguh-sungguh atau hanya tipuan. Melihat wajah Dirga yang lesuh, dan dapat terlihat juga kalau ada ribuan rasa sakit yang melekat di wajah Dirga membuat Lucas yakin kalau Dirga memang sungguh-sungguh dengan apa yang diucapkannya barusan. "Kenapa? Kok bisa? Bukannya lo terus berjuang buat dapetin Shena lagi?" tanya Lucas masih ingin memastikan sekali lagi. Karena Lucas tidak habis pikir, kenapa Dirga ingin mundur, padahal Dirga selalu berkata kepada Lucas kalau dia akan mendapatkan Shena kembali, Lucas yang mendengar itu ribuan kali hanya mengangguk dan menyetujui apa yang Dirga akan lakukan, namun kenyataanya sekarang, laki-laki itu malah memilih mundur. "Gue, udah relain Shena. Biarlah Shena hidup bahagia sama apa yang dia pilih nanti, bairlah Shena punya pilihannya sendiri, gue mau menghargai Shena dan segala jalan yang dia pilih." ujar Dirga penuh dengan pengkhayatan di setiap kata-katanya. Lucas bahkan sampai terdiam karena sangat terpukau dengan sifat Dirga yang sekarang memang sudah dewasa. Lucas hanya mengangguk pelan, menghormati segala pilihan yang Dirga ambil. Entah itu dia dan Shena harus pisah seperti ini, Lucas merasa tidak masalah dengan itu kalau Dirga memang sudah rela dan merasa baik-baik saja. Lucas langsung merangkul Dirga dan tersenyum. "Lo hebat Dir." puji Lucas dengan senyuman lebar. Jarang-jarang Lucas memuji seseorang, biasanya dia akan terus memuji dirinya sendiri, tapi kali ini Lucas akan memuji Dirga dengan sikap Dirga yang ternyata sudah dewasa. Lucas hanya berharap kebaikan yang akan datang untuk Dirga, Wendy, dan semua orang yang disayanginya, termasuk dirinya sendiri. *** Sudah berhari-hari Lucas tidak bertemu dengan Wendy dan masih setia datang ke perpustakaan walaupun Wendy tidak ada di sana. Entah kenapa, Lucas sendiri juga bingung mengapa dia sangat merindukan Wendy padahal dirinya dan gadis itu tidak punya hubungan apapun, namun rasanya Lucas ingin terus bertemu dengan Wendy. Ini sudah hampir pukul tujuh pagi, namun Lucas masih belum menemukan tanda-tanda kalau Wendy akan datang. Lucas menunggu di dalam mobilnya, menunggu kedatangan Wendy. Mungkin hari ini Wendy akan datang untuk bekerja, setelah kemarin-kemarin usaha Lucas gagal karena Wendy belum masuk bekerja. Lucas menatap cemas. Apakah Wendy tidak akan datang lagi hari ini? Harus sampai kapan Lucas terus menunggu seperti ini, rasanya Lucas tidak bisa membendung rasa rindu ini lagi. Saat sedang asik memikirkan Wendy, tiba-tiba saja ponsel Lucas berbunyi dan ternyata yang memanggilnya adalah ibunya sendiri. Lucas berdecak malas lalu mau tak mau mengangkat telepon ibunya dan menempelkan ponselnya di telinga. "Ada apa mah?" tanya Lucas, matanya masih memperhatikan sekitar. "Mama, punya calon baru buat kamu, mau ya?" "Calon lagi?" Lucas spontan berteriak setelah mendengar kata calon dari mamahnya. Seharusnya Lucas tidak mengangkat telepon Ria tadi dan membiarkan saja ponsel itu berdering daripada harus membahas calon yang tidak ada habisnya. Namun, nasi telah menjadi bubur. Tak ada gunanya Lucas menyesal sekarang karena dia harus berhadapan dengan calon yang sudah ibunya kirimkan. "Lucas, kamu ini udah berapa tahun? Coba ngaca, kamu ini udah tua. T-U-A. Tuh mamah eja biar kamu tuh sadar kalau kamu udah tua. Mau sampai kapan kamu hidup sendirian kayak gini? Nggak kasihan sama mama yang udah kepinginn banget gendong cucu. Tapi sayangnya ternyata anak mamah ini belum mau ngasih mama cucu, jangankan cucu, mantu aja kayaknya enggak ya Cas." Oke, rasanya Lucas ingin menghilang saat itu juga karena mendengar ocehan mamahnya yang memang tidak ada habisnya, entah berapa lama Lucas harus tahan dengan ocehan mamahnya yang lagi-lagi membahas mantu, cucu, uyut, dan lain sebainya. "Iya mah, nanti Lucas nikah mah. N-A-N-T-I. Tuh Lucas eja biar mamah tau kalau Lucas nikahnya nanti!" Ledek Lucas meniru cara Ria yang tadi terus mendesaknya untuk menikah. Terdengar helaan nafas berat dari Ria dan Lucas yakin itu bukan pertanda yang baik. "Tapi, nak. Kamu ini-" Omongan mamahnya terjeda. "Aduhh papahh, ini anaknya gimana papah. Nggak mau nikah ini anaknya papahh. Mamah pusing banget ngurusinnyaa." Lucas meringis mendengar mamahnya yang sudah merengek kepada papahnya. "Lucas?" Kini papahnya yang berbicara. "Iya pah?" "Cepat laksanakan apa yang mamah kamu mau, papah juga sebenarnya kasihan sama kamu yang ngejomlo terus." "Dirga juga ngejomlo." "Yaudah kalau gitu kalian berdua aja yah papah nikahin." "Ogah!" "Makanya cepat, cari calon dan bawa ke rumah. Papah dan mamah tunggu calon kamu." "Pah tapi kan Lu-" Lucas mengerutkan keningnya dan mendengar sambungan terputus. Bisa-bisanya papahnya ini memutus sambungan secara sepihak, padahal Lucas ingin membantah. Namun sudahlah, bertengkar dengan orangtua bukanlah hal yang baik. Maka dari itu, Lucas menyimpan kembali ponselnya dan kembali menatap lurus ke depan. Tatapannya langsung tertuju pada seorang gadis yang sedang melangkah menuju ke arahnya. Gadis itu adalah Wendy dan Lucas entah kenapa sangat bahagia dapat melihat gadis itu lagi. Debaran jantung yang tak bisa Lucas bohongi, kalau dia memang sangat menyukai Wendy. Maka Lucas langsung keluar dari mobil dan menatap Wendy yang langsung sadar dengan kehadirannya. Langkah Wendy terhenti, melihat Lucas dari kejauhan yang sudah ada di depan tempat kerjanya. Kenapa Lucas ada di sana? Wendy terus bertanya-tanya sampai akhirnya Lucas melangkah mendekat ke arah Wendy. Lucas melangkahkan kakinya mendekat dan kemudian langsung menarik tubuh Wendy saat itu juga dan membawanya ke dalam pelukan. Lucas memeluk tubuh Wendy erat, sedangkan gadis itu merasa terkejut dengan apa yang  barusan Lucas lakukan. Memeluknya secara tiba-tiba tentu saja membuat Wendy terkejut. "Kamu kemana saja? Aku rindu." kata Lucas jujur sambil terus memeluk Wendy penuh dengan kerinduan. Wendy terkejut dengan apa yang dikatan Lucas barusan dan juga Lucas memeluknya dengan erat. Anehnya Wendy tidak merasa risih sama sekali. Bahkan Wendy merasa nyaman berada di dalam pelukan Lucas. Tentu saja jantungnya berdegup tak karuan di dalam pelukan laki-laki itu. Wendy tidak membalas ucapan Lucas dan membiarkan laki-laki itu memeluknya seperti ini. Rasanya sangat nyaman. Wendy lupa kapan terakhir kali dia dipeluk seperti ini oleh seorang pria dan sekarang Lucas lah orang yang berani memeluknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN