Chapter 8 : Campur Aduk

2014 Kata
Lucas mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, dia baru saja selesai mandi dan sepupunya yang menyebalkan bernama Dirga itu sudah pulang ke apartemennya, untung saja Dirga tidak mabuk karena jika dia mabuk maka Lucas sendiri yang repot harus mengantarkan laki-laki itu pulang. Urusan Dirga dengan Shena tentu saja belum selesai. Entah apa yang akan terjadi dengan mereka Lucas hanya mengharapkan yang terbaik, bagaimana hasilnya nanti hubungan mereka, Lucas hanya berharap yang terbaik untuk keduanya, bagi Dirga ataupun Shena. Jika menyinggung soal cinta Lucas memang tidak terlalu pandai, bisa dibilang dirinya dan Dirga sama-sama bodoh dengan hal itu, namun Dirga masih agak pintar satu tingkat dari Lucas, buktinya dia pernah berpacaran dengan Shena walaupun memang hasilnya mengenaskan seperti ini. Tapi kalau Lucas benar-benar sudah bodoh tentang itu, buktinya dia terus menjomblo sampai sekarang, mungkin pengalaman pacaran terakhir kali yang dialami Lucas saat dia duduk di bangku SMA, cinta yang menyakitkan dan menjadi salah satu alasan mengapa Lucas memillih tidak menjalin hubungan dengan siapapun. Lucas berhenti menggosok rambutnya saat mendengar bunyi notif dari ponselnya, tangannya yang kekar meraih ponsel yang terletak di atas ranjang dan melihat satu pesan dari Dirga yang masuk. Bahkan setelah dilihat bukan hanya satu pesan. Dirga juga mengirimkan satu buah foto yang membuat Lucas hampir terbahak. Laki-laki itu memberikan foto yang unik, yaitu foto Dirga yang sedang memegang satu botol anggur merah dan tersenyum teler ke arah ke kamera. Lucas dapat tau di mana Dirga berada, bukan di bar atau sebuah club melainkan di apartemen Dirga sendiri, karena background dari foto itu adalah gorden berwarna putih dan juga ranjang milik Dirga. Lucas menghela nafas kalau memang Dirga mabuk-mabukkan di dalam apartemennya sendiri Lucas tidak masalah namun jika Dirga mabuk-mabukan di club atau bar mungkin Lucas akan ikut pusing karena pasti laki-laki itu melakukan hal yang aneh-aneh. Lucas hendak melangkah keluar kamar, namun langkahnya langsung terhenti saat melihat rambutnya yang masih basah. Melihat  rambutnya yang masih basah seperti ini tentu saja mengingatka  Lucas kepada kejadian tadi siang yang membuat jantungnya berdebar tak karuan. Dirinya dan seorang gadis yang dia temui belum lama ini bernama Wendy berhasil membuat Lucas jatuh hati kembali. Entah apa yang dipakai Wendy untuk menarik hati Lucas hanya dalam hitungan detik, padahal selama ini Lucas selalu menemui gadis-gadis cantik pilihan mamanya yang sama sekali tidak berhasil membuat Lucas jatuh cinta. Tapi, Wendy berbeda. Lucas menyentuh d**a kirinya dan tersenyum lebar saat merasakan debaran jantungnya yang semakin menjadi-jadi hanya karena seorang wanita. Dan wanita itu bernama Wendy. Sama halnya dengan Lucas. Wendy pun merasakan hal yang sama. Wendy duduk di balkon rumahnya menatap lurus ke depan sambil memikirkan hal yang tadi. "Mbak? Ini saya bawain minuman buat mbak soalnya badan mbak jadi panas banget, mbak istirahat dulu ya, jangan di sini mbak, dingin." Sedari tadi Shena sudah memanggil Wendy berkali-kali namun Wendy hanya melamun duduk di balkon rumahnya sambil menatap lurus ke depan entah apa yang dipikirkan oleh Wendy sekarang. Shena menghela nafas dan akhirnya menyentuh pundak Wendy untuk menyadarkan gadis itu dan barulan Wendy tersadar dan menoleh melihat Shena yang sedari tadi hanya bisa diam memperhatikan Wendy yang sedang melamun. "Kamu di sini?" "Aku dari tadi di sini mbak, mbaknya aja yang melamun, ada apa sih mbak lagi ada masalah ya? Lino ngambek sama mbak?" tanya Shena ikut duduk di samping Wendy dan menikmati kopi panas yang sudah dia beli tadi sekalian dengan belanjaan yang tadi sempat Wendy titip. "Enggak, mbak lagi banyak pikiran aja." "Mbak Wen, badan mbak panas banget loh, yakin nggak mau masuk ke dalam?" tanya Shena khawatir. Hubungannya dengan Wendy memang sudah dekat dan bisa dibilang Shena menganggap Wendy sebagai kakaknya sendiri, karena Shena anak tunggal dan juga dia hidup seorang diri di kota besar ini, sejujurnya Shena merasa sangat kesepian. "Aku nggak apa-apa Shen." jawab Wendy dengan lembut. Shena mengangguk mengiyakan dan ikut menyandarkan tubuhnya dan menikmati suasana malam yang sangat sejuk, membiarkan angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya. "Shen, kamu pernah jatuh cinta nggak?" tanya Wendy tiba-tiba membuat Shena langsung menoleh dan terbahak, "Ya pernah dong, mbak juga pernah kan pasti." kata Shena ketika tawanya sudah mereda. Wendy hanya terdiam sambil terus memandang kosong ke depan, sudah begitu lama Wendy merasa jatuh cinta dan dia sungguh bingung apakah yang sekarang sedang dia hadapi sekarang adalah fase jatuh cinta atau hanya sebatas suka-suka saja, karena jujur saja Wendy merasa sangat takut untuk jatuh ke dalam hal yang namanya cinta lagi. "Mbak Wen suka sama orang lagi? Wahh siapaaa?" tanya Shena antusias dan menghadapkan posisi duduknya menghadap ke Wendy. Shena sudah memasang wajah penasaran namun Wendy malah melirik kopi yang ada di dalam genggaman tangan Shena. Kopi panas yang berhasil mengingatkan Wendy kepada kejadian tadi pagi yang tentu saja membuat Wendy salah tingkah dan bahkan langsung berdiri dengan spontan. "M-mbak mau ke dalam dulu ya, Lino kayaknya nangis." kata Wendy tiba-tiba dan langsung masuk ke dalam meninggalkan Shena yang masih duduk di sana. Shena kebingungan perasaan Shena sama sekali tidak mendengar ada tangisan dari Lino. Shena menyeringai, sikap Wendy yang mendadak jadi salah tingkah memancing dirinya berpikiran yang aneh-aneh, dan menebak kalau memang Wendy sedang jatuh cinta lagi dengan seseorang. *** Seorang laki-laki tertawa-tawa sendiri di dalam kamar apartemennya sambil sesekali menyanyi lagu galau yang dia setel di ponselnya. Lagu milik Lewis Capaldi dengan judul Before You Go  kini mengalun dengan volume keras di dalam kamar Dirga. Botol anggur merah yang dia jadikan sebagai mikrofon dan juga gaya bernyanyi yang sangat mengkhayati karena kebetulan suasana hatinya sangat sama dengan isi lagu. Beberapa kali suara Dirga tercekik namun hal itu tentu saja tidak membuat Dirga berhenti dan malah semakin kencang bernyanyi agar semakin mengkhayati lagu yang dia putar sekarang. Saat sudah merasa lelah, barulah Dirga berhenti dan duduk bersandar karena lelah. Dirga melihat sekitar, lampu kamarnya yang berwarna ungu itu memberikan kesan sedih kepada Dirga yang sedang merasa sangat terpuruk akibat kisah cintanya. Dirga menutup matanya dengan satu tangan lalu menarik nafas dan menangis pilu di sana. Isakan tangis keluar dari bibir kecil Dirga dan itu membuat dadanya sangat sesak. Melihat kepergian Shena dan juga alasan mengapa gadis itu pergi tentu saja membuat Dirga sangat sakit hati. Dadanya semakin sesak dan bahkan Dirga memukul-mukul dadanya sendir karena begitu sesak dengan kisah hidupnya. Layar ponsel Dirga menyala, ada satu pesan spam yang masuk ke ponselnya. Lockscreen dengan foto dirinya dengan Shena muncul. Dirga melirik ponselnya dan membuka kunci layar. Dengan senyuman miris dia menekan kontak Shena memanggilnya. Telepon tersambung. Mendengar nada sambung saja berhasil membuat tangisan Dirga semakin kencang. Telepon diangkat oleh Shena. "Ada apa?" Dirga mengusap air matanya dan terisak pelan, laki-laki itu terdiam sebentar karena merasa sangat rindu dengan suara Shena, bahkan Dirga harus mengigit bibir bawahnya karena hatinya terlalu sakit merindukan gadis ini. "Kalau nggak penting aku tutup." "Tunggu." Dirga menahannya. Shena tidak jadi menutup telepon dan memiluh menunggu Dirga yang sedang menyiapkan diri untuk mengucapkan sesuatu kepada gadis itu. "Aku minta maaf Shena." "Aku minta maaf, aku minta maaf, aku minta maaf." lirih Dirga berulang kali sambil terus menangis membuat suaranya bergetar. "Maaf kalau mama aku udah nyakitin kamu, maaf. Aku nggak bisa ngomong apa-apa lagi selain kata maaf. Aku nggak tau kalau mama aku ngomong hal yang sangat menyakitkan buat kamu dengar, aku minta maaf Shena. Aku emang udah nggak pantas lagi nerima cinta kamu dan berharap setelah apa yang udah aku lakuin kamu," Dirga menarik nafasnya panjang, tentu diiringi dengan isakan tangis. "Aku harap hidup kamu selalu bahagia. Sesuai dengan keinginan kamu kalau aku akan berhenti mengharapkan kamu, apapun alasannya. Aku akan berhenti ngejar kamu, aku berhenti Shena, makasih udah selalu ada buat aku, makasih udah selalu a-" "Kamu di mana sekarang?" Dirga terdiam saat ucapannya tadi diselak oleh Shena. "Nggak penting aku ada di mana." "Kamu mabuk kan? Omongan kamu ngelantur Dirga!" Dirga mengangguk mengiyakan padahal Shena pun tidak bisa melihat anggukan kepalanya. "Aku baik-baik saja Shen," "Aku akan lupain kamu Shen, seperti kamu yang akan lupain aku." ujar Dirga terakhir kali sebelum akhirnya dia menutup telepon dengan cepat dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangis Dirga semakin pecah di sana. Rasa sakitnya bertambah dua kali lipat karena dia sudah berjanji akan melupakan Shena. Walaupun, Dirga sendiri tidak tau apakah dia dapat melupakan Shena atau tidak. *** Pagi pagi ini Lucas sudah bangun dan sekarang sedang berdiri di depan cermin sambil terus memperhatikan wajahnya yang tampan. Memang bisa dibilang wajah Lucas sangat tampan dengan alis yang lumayan tebal, mata yang bulat dan juga dilengkapi dengan bulu mata yang panjang yang kadang membuat kauk hawa iri. Rahang Lucas yang terlihat sangat tegas dan juga bibirnya yang berisi membuat semua orang yang menatap Lucas pasti akan menoleh dua kali karena memang laki-laki itu sangat tampan. Tujuan Lucas bangun pagi-pagi sekali adalah untuk berkunjung ke perpustakaan di mana Wendy bekerja. Tentu saja Lucas tidak mau memutuskan hubungan begitu saja dengan Wendy, Lucas harus bisa membuat gadis itu ikut jatub cinta padanya, seperti apa yang dirasakan Lucas saat ini. Setelah merasa cukup tampan, akhirnya Lucas menuju kulkas dan tersenyum lebar saat membuka pintu kulkas. Kulkasnya kini sudah tidak kosong lagi, ada banyak makanan  yang sudah disusun rapih di sana. Berkat bantuan Dirga tentunya yang sudah membantu Lucas menata semua bahan-bahan makanan. Dari daging sampai buah-buahan. Lucas mengambil satu botol soda dan kembali menutup pintu kulkasnya. Minum soda di pagi hari memang sangat tidak dianjurkan apalagi Lucas belum sarapan dan malas sarapan karena baginya dia akan makan ketika memang perutnya sudah merasa lapar, dan itu masuk ke dalam kebiasaan buruk Lucas, maka dari itu Ria selalu menyuruhnya cepat-cepat menikah. Setelah semuanya selesai akhirnya Lucas keluar dari apartemennya dan sekarang menuju perpustakaan dan bertemu dengan Wendy. Sebenarnya sampai di sana dia akan pura-pura lupa kalau Wendy bekerja di sana dan barulah dia memberi kode kepada Wendy kalau Lucas sangat-sangat tertarik dengan gadis itu. Lucas tersenyum selama perjalanan, jika mamahnya tau akan ini, tau kalau dia sekarang sedang jatuh cinta. Lucas yakin Ria akan membuat pesta besar dan segera mengumumkan pernikahan padahal Lucas belum sama sekali menyatakan perasaan pada gadis tersebut. Kalau sampai mamahnya tau semua akan kacau balau, dia akan semakin didesak untuk menikah, maka dari itu Lucas memilih untuk menahan perasaanya untuk bilang ke mamahnya kalau dia sudah ada calon mantu yang pas untuk Ria. *** "Ino nggak usah sekolah deh ya, bun?" Lino menatap Wendy yang terbaring di atas kasur dengan wajah pucat. Wendy yang mendengar bahwa anaknya ogah masuk sekolah itu langsung duduk di atas ranjang dan melihat Lino yang terus menatapnya dengan tatapan khawatir. "Kenapa nggak mau sekolah?" "Ino takut, takut kalau bunda cakitt, siapa yang jagain bunda?" Wendy tersenyum mendengar jawaban anaknya dan langsung mengusap kepala Lino lembut. "Bunda nggak apa-apa kok, bunda bisa jaga diri sendiri dan Lino harus tetep sekolah ya?" Lino akhirnya mengangguk menurut apa kata Wendy dan langsung turun dari ranjang untuk mengambil ranselnya di atas meja. "Bunda bener nggak apa-apa?" "Iya sayang." Dengan berat hati Lino melangkah mendekati Wendy dan mencium tangan ibunya. "Ino berangkat ya bun." kata Lino dengan wajah yang sedih. Sedih karena harus meninggalkan ibunya sendiri di rumah dalam keadaan sakit. Wendy mengangguk dan tersenyum tipis melambaikan tangannya kepada Lino, menyuruh anaknya cepat pergi agar Lino tidak harus bersedih melihat kondisinya saat ini. Lino segera keluar dari kamar dan Wendy bisa melihat pintu kembali tertutup rapat. Jujur saja, memang rasanya sepi jika ditinggal Lino sendiri, namun Wendy tidak boleh egois dia harus membiarkan anaknya sekolah demi pendidikan Lino. *** "Sakit?" Lucas terkejut begitu dia mendengar kabar dari Wendy. Tadi dia datang ke perpustakaan dan katanya Wendy sedang izin tidak masuk karena sakit. Tentu saja hal itu membuat Lucas terkejut sekaligus merasa bersalah. Pasti karena kemarin hujan-hujanan Wendy bisa sakit seperti ini. "Iya pak, sakit." kata seorang gadis lain yang kini menggantikan Wendy. "Kamu tau di mana rumahnya Wendy?" Gadis itu menggeleng. "Saya nggak tau pak." jawabnya membuat Lucas kehilangan harapan untuk menemui gadis itu. Lucas harus datang dan meminta maaf kepada Wendy karena dirinya lah Wendy menjadi sakit seperti ini. "Makasih ya." kata Lucas lemas lalu melangkah keluar perpustakaan, dirinya sudah berada di luar perpustakaan dan melihat sekitar dengan lemas. Wendy tidak masuk bekerja karena sakit dan entah kenapa Lucas juga ikut merasakan sakit yang Wendy alami.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN