Chapter 7 : Bertemu dengan Dia lagi

2044 Kata
"Pacar?" Alex menatap Lucas tak percaya dan kembali menatap Wendy yang hanya terdiam, sepertinya Wendy bingung harus bersikap bagaimana karena memang Wendy tidak tau kalau Lucas akan mengatakan hal yang tak terduga di depan Alex. Lucas memasang wajah percaya diri dan penuh dengan bangga karena tindakannya tadi mungkin saja bisa menyelamatkan nyawa Wendy yang masih dihantui oleh mantan kekasihnya yang bernama Alex-Alex atau apalah itu. Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi. Wendy mendekatkan dirinya pada Lucas dan memeluk pinggang laki-laki itu dengan gerakan pelan namun pasti, melingkarkan tangannya di pinggang Lucas. Bahkan sang pemilik pinggang itu terkejut dan melihat Wendy yang kini sudah menyandarkan kepalanya di d**a bidang Lucas. "Iya, ini pacar aku." jawab Wendy membuat laki-laki yang bernama Alex itu mendengus kesal. Entah mengapa laki-laki itu terlihat sangat kesal hari ini, padahal dia sudah mempunyai pasangan yang tak lain adalah Lia, selingkuhannya dulu. Lucas memeluk tubuh Wendy dan tersenyum meledek, Lucas menyempurnakan sandiwara mereka agar terlihat lebih nyata. "Ada urusan apa sama pacar saya mas?" tanya Lucas dengan wajah songongnya. Alex mendengus kesal melihat Wendy serta Lucas secara bergantian, dia tidak habis pikir kalau ternyata Wendy bisa mengenal laki-laki lain selain dirinya. "Wendy kita harus bicara." "Bisa langsung dibicarakan di sini aja mas?" Lucas yang menjawab bukan Wendy, bahkan gadis itu hendak menjawab namun sudah keduluan oleh Lucas. "Saya butuh bicara, empat mata sama Wendy." Ujar Alex melihat Lucas tak suka. Lucas menoleh ke Wendy melihat apakah gadis itu mau berbicara secara empat mata dengan laki-laki ini atau menolaknya. Wendy ikut menatap Lucas dan menggelengkan kepalanya, pertanda kalau dia tidak mau berbicara dengan Alex. Lucas tersenyum kecil dan mengangguk paham. "Maaf mas, kayaknya pacar saya nggak mau. Kalau ada yang mau dibicarakan bisa langsung di sini aja, biar saya juga tau." Lucas mengatakannya dengan begitu manly nya. Bahkan laki-laki itu mengulas senyum tipis dan menatap Alex yakin seolah dia memang pacar dari Wendy. Alex mendengus lagi, namun kali ini langsung melongos pergi dari hadapan kedua pasangan yang sukses membuat mood Alex hancur berantakan. Alex mendorong trolinya menjauh meninggalkan mereka berdua. Lucas tersenyum puas melihat kepergian Alex dan melepas pelukan mereka secara bersamaan. Wendy dan Lucas pun jadi salah tingkah karena tadi, "Ma- makasih." kata Wendy beterimakasih kepada Lucas yang sudah mau membantu gadis itu untuk menghindari mantan suaminya. Lucas membuang muka dan mengangguk malu-malu, pipinya sudah bersemu merah karena tadi, entah apa yang Lucas pikirkan kini membuat laki-laki itu hendak menjerit. Karena pasalnya hatinya terasa sangat bahagia dan juga jantungnya terus berdegup kencang. *** Mereka berdua keluar dari supermarket namun langsung terkejut saat melihat bahwa di luar turun hujan yang sangat lebat. Lucas menenteng semua belanjaanya begitu juga dengan Wendy, mereka menatap langit yang sangat gelap, sepertinya hujan akan turun dalam waktu yang lama jika dilihat dari seberapa gelapnya langit hari ini. "Mau duduk dulu di sana?" tawar Lucas menunjuk sebuah kursi payung yang ada di dekat supermarket. Wendy ikut melihat dan kemudian mengangguk setuju. Dari pada menunggu di depan supermarket sambil berdiri lebih baik duduk di sana sambil menunggu hujan reda. Lucas refleks menggandeng tangan Wendy dan langsung berlari kecil bersama menuju tempat yang mereka maksud, mereka berlari karena menghindari hujan yang turun dengan lebatnya. "Wahh, basah." Mereka sudah tiba dan langsung meletakkan belanjaan mereka di sebuah meja yang ada di sana. Lucas langsung duduk di kursi tak peduli dengan rambutnya yang basah karena lari-larian tadi, sedangkan Wendy sedang membenarkan rambutnya yang lumayan basah terkena air hujan lalu segera ikut duduk di hadapan Lucas. Lucas melirik gadis yang ada di hadapannya ini, dan langsung menunduk malu saat tersadar kalau Lucas sudah memperhatikan Wendy terlalu lama. Entah apa sihir yang dipakai Wendy karena jika Lucas menatap atau sekedar melirik gadis itu maka jantung Lucas akan berdegup dengan kencang. "Kamu, basah." Wendy melihat Lucas yang sudah seperti tikus yang tercebur di got, laki-laki itu tersenyum, "Nanti juga kering kena angin." katanya dengan agak gugup karena masih mengingat adegan di dalam supermarket saat dia memeluk tubuh Wendy untuk memaksimalkan akting mereka. Keadaan menjadi canggung kembali, baik Wendy atau Lucas tidak ada yang mau membuka percakapan, Lucas melirik Wendy sesekali dan mendapati gadis itu sedang mengigil kedinginan, memang di Jakarta sudah masuk musim hujan dan cuacanya memang terus dingin, tapi Lucas tidak menyangka kalau Wendy akan mengigil seperti ini. Lucas melihat sekitar dan langsung tersenyum lebar melihat sebuah stan kopi yang ada di sekitar mereka, dan ternyata kursi payung yang mereka tempati ini milik dari stan kopi tersebut. Tanpa basa-basi Lucas langsung berlari menerobos hujan menuju stan kopi itu. Wendy melihat Lucas yang nekat pergi hujan-hujan berlari ke salah satu stan kopi dengan tatapan bingung, kenapa Lucas ke sana. Terlihat Lucas sedang memesan kopi, bajunya semakin basah karena dia nekat pergi hujan-hujanan seperti itu, namun Wendy sedikit terpana dengan Lucas saat ini. Kaos hitamnya basah, rambutnya jatuh ke bawah dan saat Lucas mengibaskan rambutnya agar  tak terlalu basah dan juga mengangkat poninya ke atas , menampilkan dahi Lucas yang entah kenapa sangat tampan di mata Wendy, bahkan Wendy sedari tadi hanya memperhatikan Lucas yang sedang memesan kopi. Lalu tanpa sadar, laki-laki itu menoleh ke Wendy dan menyunggingkan senyum manisnya, membuat Wendy langsung menunduk karena mendapat serangan di dalam hatinya. Jantungnya entah kenapa berdegup sangat kencang. Senyuman Lucas yang membuat Wendy seperti ini. Wendy masih menunduk sambil terus mengkontrol debaran di dalam dadanya, ketika sudah kembali normal baru dia mengangkat kepalanya dan melihat Lucas tau-tau sudah kembali dari stan kopi dengan dua cup kopi yang ada di tangannya. "Kamu suka kopi?" tanya Lucas dan Wendy menggeleng. Jujur saja Wendy tidak terlalu suka kopi dia lebih suka s**u. Lucas tersenyum lebar walaupun di dalam hatinya dia merasa agak tidak enak karena sudah membeli dua kopi, takut kalau Wendy merasa tak enak hati dan memaksakan meminumnya walau dia tidak suka. "Eh, kamu udah beli? Yaudah aku minum aja nggak apa-apa." kata Wendy saat melihat dua cup kopi yang ada di tangan Lucas. Persis dengan apa yang Lucas pikirkan, kini Wendy malah ingin meminum kopi itu padahal dia tidak menyukainya hanya karena tak enak dengan Lucas. Lucas kembali duduk, kedua tangannya masih mengenggam kopi tersebut tanpa mau memberikannya pada Wendy. "Aku beli kopi ini bukan buat mau diminum." ujar Lucas. "Terus buat apa?" Lucas tersenyum kecil dan melihat kedua tangan Wendy yang ada di atas meja, dengan gerakan cepat Lucas melepaskan kedua genggaman tangannya dari kopi dan meraih tangan Wendy. Membagikan rasa hangat yang ada di tangannya kepada Wendy. Wendy yang kaget karena tindakan Lucas itu langsung menatap Lucas dan kembali merasakan degupan jantungnya semakin keras dan bahkan rasanya Wendy bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Gawat! Bisa-bisa Lucas juga mendengarnya kalau seperti ini. Lucas terus mengeratkan genggaman tangannya kepada Wendy, "Tadi aku liat kamu kedinginan, maka dari itu aku beli kopi panas ini." kata Lucas masih mengenggam tangan Wendy yang memang terasa sangat dingin. Pipi Wendy langsung bersemu merah, tatapannya terus tertuju pada Lucas sedangkan laki-laki itu menatap ke genggaman tangan mereka dan terus menampilkan senyum tipisnya yang entah kenapa sangat tampan di mata Wendy. Ingin Wendy beteriak sekarang juga kalau Lucas tidak seharusnya terus tersenyum seperti itu karena itu akan membuat hatinya melompat tak karuan namun, yang bisa dilakukan Wendy sekarang hanyalah diam dan terus menatap laki-laki itu dengan pipinya yang memerah karena malu. Baru kali ini, Wendy merasa sangat tersentuh dengan tindakan seorang pria, dan baru kali ini jantungnya kembali berdegup kencang setelah sekian lama mati karena seseorang. *** Lucas masuk ke dalam apartemennya dengan senyuman yang sudah pasti terus tersungging di wajahnya. Lucas dengan cepat menutup pintu apartemennya dan langsung berteriak senang karena tadi dia bertemu dengan Wendy tanpa sengaja. "YUHUUUU." Lucas berteriak tanpa tau malu karena memang di apartemennya hanya ada dirinya maka dari itu dia tidak merasa malu karena memang hanya ada dirinya seorang diri di sini. "Berisik sial!" Lucas langsung terkejut dan bahkan terpeleset karena sahutan seseorang, namun tidak ada orang itu yang muncul di hadapan Lucas. Lucas meringis karena bokongnya yang menyentuh lantai dengan cara yang tidak anggun, namun dia lebih takut dengan sahutan seseorang tadi. "Gausah berisik bisa nggak sih?" terdengar suara seseorang lagi dan itu membuat Lucas semakin takut dan terus memperlihatkan sekitar. "Siapa? SIAPA DI SANA! SETAN YA?" Seru Lucas tak tenang sambil berusaha berdiri. Seseorang dengan baju serba putih muncul dari balik dapur dengan wajah pucat pasi, orang itu mengangkat kepalanya dan terlihat jelas lingkaran hitam di bawah matanya, membuat Lucas sontak langsung  berteriak bahkan laki-laki itu kembali jatuh dan terus beteriak menunjuk Dirga yang berdiri di sana. Dirga meringis lalu berlari kecil menghampiri Lucas dan langsung membekap mulut laki-laki itu agar tidak berisik karena bisa saja karena teriakan Lucas yang luar biasa hebatnya bisa memanggil beberapa tetangga di apartemennya. "Dieem, ssstt berisik banget sih." Lucas masih histeris dan tambah histeris saat makhluk yang lebih seram daripada setan itu menghampiri dirinya dan membekap mulutnya. Dirga hanya menghela nafas melihat tingkah saudara sepupunya yang memang sudah tidak normal. Kini, mereka sedang berada di dalam kamar Lucas. Lucas lupa mengganti password apartemen sampai akhirnya dia kecolongan karena seseorang yang lebih seram dari setan macam Dirga ini masuk ke dalam apartemennya tanpa izin. "Padahal tadi gue pengen ke apart lo." "Nggak usah, gue yang ke sini aja, lumayan kan dapet makanan." kata Dirga sambil memeluk beberapa snack dan minuman bersoda yang sudah Lucas beli di supermarket tadi namun dengan tidak tau dirinya sudah dikuasi oleh Dirga. "Bayar tuh, lima puluh ribu." kata Lucas meledek Dirga dan laki-laki yang sedang memeluk minuman sodanya itu pura-pura tidak dengar. "Kenapa lo kayak setan gitu hah? Liat tuh mata lo, gila sih parah abis bergadang ya?" "Gue mikirin Shena." jawab Dirga dengan tatapan sendu dan bibirnya cemberut, mengekspresikan dirinya yang sedang sedih dengan cara menjijikan itu. Lucas bahkan ingin melemparinya dengan asbak kalau tidak memikirkan Dirga ini adalah saudara sepupunya. Tapi, kalau melihat Dirga yang sedang sedih seperti ini kadang juga membuat Lucas sedih karena Dirga yang biasanya tidak bisa diam dan kadang malah tidak tau malu ini berubah menjadi pemurung walaupun sifat tidak tau malunya memang tidak akan pernah hilang. "Emangnya Shena udah bilang kalau dia nggak akan ketemu lo lagi?" tanya Lucas yang perlahan juga iba, anggukan Dirga membuat Lucas semakin merasa iba dan bahkan ingin memberikan pelukan kepada Dirga, namun dengan cepat langsung menyingkirkan pikiran itu karena terlihat sangat menjijikan. "YAUDAH MOVE ON LAH!" Seru Lucas dengan tujuan untuk menghibur Dirga, namun laki-laki yang ada di hadapannya ini bukannya senang malah menangis dan merengek seperti anak kecil. "Huaa, lo nggak tau apa artinya Shena buat gue Cas, hikss." Isak Dirga sambil sesekali menarik ingusnya yang hendak jatuh. Lucas terdiam, tak menyangka kalau Dirga akan menjadi cegeng seperti ini. "Shena itu adalah cewek yang beda diantara yang lain, dia yang nemenin gue dari enol Cas, sekarang dia pergi  gitu aja ninggalin gue, gue sedih banget Cas, di mana lagi gue bisa nemuin cewek kayak dia Cas. Lo tau Shena kan? Dia langka banget, dia mandiri, sayang sama gue tulus, pokoknya gue cuma sayang sama Shena." Dirga mengatakannya sambil terisak dan berkali-kali menarik ingusnya. Lucas tau memang sedari dulu Dirga dan Shena ini sudah seperti semacam anak kembar yang tak bisa dipisahkan, di mana ada Dirga pasti juga ada Shena dan begitupun sebaliknya. Mereka sudah berpacaran saat masih jaman kuliah dan harus putu sekitar satu tahun yang lalu, Lucas tidak tau apa alasannya tapi melihat Dirga yang sampai menangis seperti ini pasti ada masalah berat yang menimpa keduanya dan menempatkan mereka berdua di posisi menyakitkan seperti sekarang. Dirga menghapus air matanya dengan punggung tangan dan masih sesegukan. Jujur saja Lucas tidal tega namun gaya Dirga yang menangis seperti anak kecil itu membuat Lucas jijik dan hampir saja menampol Dirga saat itu juga. Namun, karena Lucas ini saudara yang tampan dan baik hati maka niat ingin menampol Dirga tidak jadi dilakukan. Lucas menepuk pundak Dirga pelan, memberikan sedikit semangat kepada sepupunya itu. "Yaudah, nanti kita coba cari solusinya gimana, udah jangan sedih lo menjijikan kalau lagi nangis btw." ujar Lucas kelewat jujur namun Dirga malah semakin terisak. Lucas sudah tau sifat Dirga sedari kecil, karena memang sejak kecil Lucas hanya main dengan Dirga dan sangat memahami bagaimana kepribadian laki-laki itu. Dirga memang tampan namun seperti anak kecil ketika sudah dihadapan orang yang membuatnya nyaman, walaupun suka tebar pesona tapi ketika Dirga jatuh cinta maka hatinya hanya tertuju pada satu orang. Dan kini, orang itu adalah Shena.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN