Chapter 14 : Maaf, aku baru datang sekarang.

2005 Kata
Bagaimana bis Wendy bisa melupakan kejadian tadi. Akibat perkataan Lia kemarin, rasanya Wendy jadi malas untuk berbuat apapun dan terus memikirkan perkataan Lia yang tentu saja sangat tidak baik jika dipikirkan secara terus menerus. "Udah mbak, jangan dipikirin ah. Nanti malah jadi beban pikiran buat mbak, lupain aja ya." kata Shena sambil terus membujuk Wendy yang sedari tadi hanya terduduk di ruang tamu sambil menatap kosong ke depan, pikirannya tentu saja masih terus mengingat dengan jelas bagaimana Lia mengatakan hal yang sangat menyakitkan untuknya. Shena sudah tau dengan segala masalah yang Wendy hadapi, maka dari itu Shena di sini begitu Lino dengan pintarnya menghubungi Shena dan mengatakan kalau ibunya ini sedang tidak baik-baik saja. Begitu sudah ditelepon oleh Lino, Shena langsung datang ke tempat Wendy untuk memastikan apakah Wendy baik-baik saja. Karena, sangat jarang bahkan hampir tidak pernah Wendy menangis seperti ini, apalagi di depan Lino. Saat sampai di rumah Wendy ternyata yang menjadi penyebab Wendy menangis seperti ini adalah Lia, gadis yang merebut suami Wendy dulu. "Lagian mbak Lia juga nggak sopan banget ngomonng gitu, kalau ada aku di sana paling udah aku kasih hajar mbak Lia!" Shena jadi gemas sendiri, bukan karena apa. Karena dia juga sudah muak dengan Lia yang sangat kejam terhadap Wendy. Mungkin jika suatu saat Shena bertemu dengan Lia maka dia akan membalas pebuatan Lia karena sudah menyakiti hati Wendy. Wendy hanya terdiam mendengar ocehan Shena, tidak mau berbuat apa-apa karena sekarang mood nya sedang dalam keadaan tidak baik.  Wendy ingin sendirian sekarang. Shena yang merasakan bahwa ocehannya tidak disahut oleh Wendy langsung mengerti kalau Wendy sedang tidak ingin diganggu sekarang. Shena menghela nafas panjang dan melihat anak laki-laki berumur lima tahun yang sedang fokus kepada buku bacaan bahasa Inggrisnya, tapi anak itu juga sesekali menoleh ke arah Wendy dan dapat terlihat jelas kalau anak itu sedang khawatir dengan ibunya. Shena langsung bangkit dan melangkah mendekat ke arah anak itu, "Lino, mau main sama aku nggak? Kita ke luar yuk? Katanya ada bazar bacaan buku sama mainan loh, mau ikut tante nggak?" tanya Shena dengan senyuman manis melihat Lino yang tampak tertarik tapi ragu meninggakan ibunya sendirian di rumah. "Nggak apa-apa emang kalau Ino pergi sama tante dan mama sendirian di sini?" Tanyanya dengan polosnya dan melihat ibunya. "Nggak apa-apa sayang, kamu sama tante Shena dulu ya." jawab Wendy, tau kalau anaknya ini cemas dengan dirinya dan mengizinkan Lino untuk pergi bermain sebentar dengan Shena. Lebih baik Lino dibawa keluar daripada harus di dalam rumah dan terus melihat Wendy menangis. Lino mengangguk lalu pandangannya teralih pada Shena yang sudah mengulurkan tangan ke arah Lino, meminta Lino untuk menggandeng tangannya. Tangan mungil Lino pun menyentuh telapak tangan Shena dan dengan cepat Shena langsung mengenggamnya. "Yeayy, yuk langsung aja kita pergii, yeayyy!!" sorak Shena ceria dan segera melangkah meninggalkan Wendy yang masih terduduk di ruang tamu itu. Wendy melihat senyuman lebar yang ada di wajah Lino saat dibawa oleh Shena, bibir Wendy kembali bergetar dan matanya kembali memanas melihat Lino yang tersenyum seperti itu. Mengapa Lia sangat jahat dan menyalahkan anak kecil berumur lima tahun yang tak salah apa-apa itu, menjadikan Lino sebagai alat untuk menjatuhkan Wendy. Wendy memeluk lututnya, dan tangisnya itu langsung pecah begitu Lino dan Shena sudah keluar dari rumah. Rasa sakit dan kesal Wendy keluarkan dengan tangisan. Setelah tangisannya tadi tertahan kini Wendy bisa mengeluarkan semuanya. Bahkan isakan tangisnya sangat kencang dan Wendy sudah tidak memikirkan itu lagi, yang dia pikirkan saat ini adalah sakit hati yang ada di dalam dirinya terhadap Lia. Saat sedang menangis dengan kencang, tiba-tiba ponsel yang ada di atas meja bergetar Wendy melihat ponselnya dan ternyata itu sebuah panggilan dari Lucas. Wendy langsung menggapai ponselnya dan sebisa mungkin mengontrol  isakan tangisnya. "Halo?" Wendy menempelkan ponsel itu di telinga. "Wendy, kamu nggak apa-apa? Kamu baik-baik saja?" Lucas langsung memberikan pertanyaan kepada Wendy dengan nada cemas. Wendy terdiam mendengar pertanyaan Lucas. Kamu baik-baik saja? Wendy mengigit bibir bawahnya menahan tangis yang sepertinya akan pecah sedikit lagi. Selama ini Wendy selalu menanggung beban yang ada di dalam hidupnya seorang diri, menyimpan semua lukanya seorang diri sehingga tidak ada orang yang bertanya kepada Wendy apakah dirinya baik-baik saja. Mendapat pertanyaan seperti itu tentu saja membuat Wendy merasa sangat sedih, karena dia tau bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja. Isakan tangis lolos keluar dari bibir Wendy dan itu membuat Lucas yang ada di seberang sana merasa sangat khawatir begitu mendengar bahwa Wendy sedang menangis saat ini. "Wendy?" "Aku nggak baik-baik aja, aku sakit, hati aku sakiitt Cassss." kata Wendy lalu terisak dan kembali menangis dengan kencang. Dia sudah tidak peduli jika harus memalukan dirinya sendiri karena sudah menangis saat dia bersama Lucas di dalam telepon, yang Wendy butuhkan saat ini adalah sandaran. Lucas yang mendengar itu langsung merasa khawatir dan bingung. Bingung harus bagaimana, bagaimana membuat Wendy lupa dengan kesedihannya, namun jika mendengar suara isakan tangis Wendy. Lucas yakin luka itu bukanlah luka biasa, dan Wendy tidak bisa berhenti menangis jika hanya diberi kata-kata semangat. "Kamu mau ngomong apa sama aku? Apa yang mau kamu ceritain? Aku bisa jadi pendengar kamu, kalau kamu malu. Kamu bisa anggap aku nggak ada, aku nggak akan bersuara." itu yang Lucas katakan kepada Wendy. Dibanding memberikan nasihat dan juga bujukan untuk Wendy agar segera meredakan tangisnya, Lucas memilih untuk menjadikan dirinya tempat di mana Wendy bisa menceritakan tentang rasa sakit yang dia alami. Wendy menarik nafasnya dan menghapus air matanya pelan. Percuma air mata itu di hapus karena akan turun dengan sendirinya lagi. "Aku sakit hati Cas, kenapa semuanya jahat sama aku. Aku juga nggak ngerti kenapa semuanya bisa jahat sama aku. Kenapaa?!!"  Lucas terdiam mendengar omelan Wendy diiringi dengan suara tangisan dari gadis itu. Ingin rasanya Lucas segera pergi ke tempat Wendy dan menenangkan gadis itu secara langsung bukan lewat telepon seperti ini. Namun sayang, Lucas berada sangat jauh di mana Wendy berada sekarang, dan jujur saja itu rasanya sangat menyakitkan. Wendy tidak berkata apa-apa lagi setelah itu, dia hanya menangis dan menangis. Lucas yang mendengar semua itu merasa sangat sakit. Sakit mendengar wanita yang kita sayangi ini menangis pilu seperti itu. Tidak ada hal yang bisa Lucas lakukan sekarang. Baru kali ini, Lucas merasa ingin cepat-cepat pulang dari perjalanna bisnisnya, sebelum-sebelumnya dia akan merasa sangat senang apabila jauh dari Jakarta karena terhindar dari ocehan ibunya. Tapi, sekarang Lucas meraa ingin cepat-cepat pulang. *** Dirga senyum-senyum sendiri melihat bazar yang sangat ramai itu. Tadinya Dirga sedang berjalan-jalan namun akhirnya tertarik melihat bazar yang digelar di sebuah jalan. Ada banyak mainan, bacaan, dan bahkan baju-baju yang dijual dengan harga murah di sana. Dirga tersenyum, melihat adanya bazar seperti ini dia menjadi mengingat masa kecilnya bersama Lucas yang selalu saja pergi ke bazar jika ada kesempatan. Dirga berhenti di sebuh stan yang berisikan permainan untuk anak-anak. Yaitu pemancingan ikan-ikanan. Dirga sangat ingat dulu bagaimana dia dan Lucas bertengkar hanya karena mengincar satu ikan yang sama karena warna ikan itu adalah warna kesukaan mereka. Bahkan Dirga sampai mendorong Lucas jatuh ke dalam kolam-kolaman itu dan alhasil mereka berdua kena omelan oleh orangtua masing-masing. Namun, tentu saja kejadian itu tidak membuat Lucas dan Dirga menjadi bertengkar dan menjauh, malah mereka semakin dekat dan sering bermain bersama. Dirga megulas senyum tipis, mengingat bahwa sangat manis kenangan masa lalu yang terasa sangat indah. Sekarang, kedua anak yang berebutan ikan dengan warna yang sama itu sudah tumbuh menjadi seorang pria dewasa yang tampan, mereka sudah tidak peduli dengan ikan-ikanan dengan warna yang mereka pedulikan, bukan kekalahan dalam permainan yang membuat mereka sedih, tapi karena cinta lah sekarang mereka sedih. Dirga merasa kalau mereka bertumbuh sangat cepat dan bahkan Lucas sudah berani membuka hatinya kepada perempuan lain dan Dirga juga sudah mendapatkan rasa sakit hati yang luar biasa hanya karena seorang perempuan. Dirga jadi percaya kalau mereka sudah besar sekarang. "Linoo, pelan-pelan jangan lari-larii." Dirga terdiam saat dia mendengar suara seorang gadis yang sangat membekas di dalam hatinya, gadis yang sangat berpengaruh ke dalam kehidupannya, dulu. Dirga langsung menoleh dan melihat Shena yang sedang mengejar anak kecil yang berlari ke arahnya. "Ino mau main pancing-pancingan tanteee!" Seru anak kecil yang diperkirakan Dirga sekitar umur lima atau enam tahun itu berhenti tepat di samping Dirga. Shena ikut menghentikan langkah kakinya saat Lino berhenti berlari. Gadis itu menghela nafas panjang karena lelah dan kemudian tanpa sengaja melihat Dirga yang berdiri di depannya, tidak jauh dari tempat dia berdiri sekarang. Shena membulatkan matanya, tak menyangka kalau dia akan bertemu dengan Dirga di tempat seperti ini. "Dirga?" Dirga melihat anak kecil dan Shena secara bergantian, siapa anak kecil ini? Mengapa dia bersama Shena. Setau Dirga Shena tidak punya adik. "Shena? Dia siapa?" Shena langsung menarik  tangan Lino dan mengenggamnya pelan, "Keponakan aku." ujar Shena dan Dirga tampak mengangguk. Dirga terdiam sebentar memperhatikan Shena yang tetap menunduk, tidak mau menatap mata Dirga. Mungkin karena kejadian tempo lalu ditambah Dirga yang dengan sengaja menelepon Shena saat mabuk membuat keduanya menjadi merasa canggung sekarang. Dirga menghela nafas, seharusnya tidak menjadi seperti ini. "Nggak apa-apa, ucapan aku malam itu bukan main-main. Kamu nggak usah khawatir, aku nggak akan ganggu kamu di sini." kata Dirga terdengar tenang dan baru saat itulah Shena mengangkat kepalanya dan melihat Dirga yang sudah tersenyum. Pandangan Dirga beralih kepada anak laki-laki itu dan memperlihatkan satu gantungan kunci kepada Lino. "Siapa nama kamu?" "Lino oom." kata Lino dengan cengiran dan sesekali melihat Shena yang tampak tak tenang dengan kehadiran Dirga di sini. "Namanya bagus, ini buat kamu." Dirga memberikan gantungan kunci bergambar spiderman yang ada di tangannya kepada Lino. Lino melihat sebuah gantungan kunci yang bergambar Spiderman dan langsung menerimanya, "Makasih oom." kata Lino dengan penuh senyuman dan Shena langsung menghela nafas panjang. Sejujurnya Shena tidak mau sampai berurusan dengan Dirga lagi. "Lino, kita pulang aja ya." kata Shena terburu-buru karena sudah tidak nyaman dengan kehadiran Dirga. "Tapi tante, Lino kan-" "Udah nggak apa-apa, kamu di sini aja. Biar aku aja yang pergi, kebetulan aku ada urusan." kata Dirga seakan mengerti kalau dia harus segera pergi dari sana. Shena hanya terdiam sambil terus menggandeng tangan Lino. Gadis itu melihat Dirga yang melemparkan senyumannya kepada Lino sebelum akhirnya laki-laki itu berbalik dan melangkah pergi. Ada sedikit rasa sakit saat Dirga melangkahkan kakinya meninggalkan Shena di sana. Seperti ada sesuatu yang kosong, namun Shena terus berpikir kalau seperti ini memang yang terbaik untuk mereka. *** Seminggu setelah itu, Wendy merasa lebih baik daripada hari-hari sebelumnya dan perlahan-lahan dia dapat melupakan kejadian lampau yang dapat membuat hatinya sakit. Wendy memilih untuk menyibukkan dirinya sendiri dibanding harus memikirkan kejadian yang selalu membuatnya sakit hati itu. Wendy berdiri di penyebrangan jalan menunggu lampu hijau menyala, karena sekarang dia sudah masuk kerja seperti biasa, dengan bekerja Wendy dapat melupakan semua rasa sakit yang dia rasakan waktu itu. Wendy menghela nafas menunduk melihat sepatunya. Sepertinya mulai sekarang Wendy harus belajar bagaimana caranya memaafkan sesuatu, karena perbuatan  Lia kemarin sangat membuat dirinya sakit  hati dan sekarang Wendy sudah memaafkan Lia. Namun tetap saja Wendy tidak akan tinggal diam saat Lia membawa nama Lino kembali. Terdengar suara nyaring pertanda kalau lampu penyebrangan jalan sudah berubah menjadi hijau. Wendy mendongak dan menatap lurus ke depan. Wendy mulai melangkahkan kakinya sambil sesekali membenarkan tali tasnya yang mau jatuh itu. Wendy terdiam dan langsung menghentikan langkahnya saat melihat sosok laki-laki yang berdiri di seberang sana, di samping lampu penyebrangan jalan menatap lurus menatap Wendy. Wendy terdiam dan terus memperhatikan laki-laki itu yang tak lain adalah Lucas. Lucas mengembangkan senyumannya saat melihat Wendy menyadari kehadirannya. Lucas langsung melangkah mendekati Wendy yang berdiam diri di sana. Laki-laki itu melangkahka  kakinya mendekat dan kemudian membawa Wendy ke dalam pelukannya, memeluk tubuh gadis itu erat. Wendy terkejut saat dirinya dipeluk tiba-tiba oleh Lucas seperti ini. Wendy hanya terdiam, membiarkan Lucas memeluk dirinya seperti ini. Laki-laki itu mengelus rambut  Wendy pelan. "Maaf, aku baru datang sekarang." kata Lucas lirih, merasa bersalah karena datang di waktu yang tidak tepat dan merasa bersalah juga kerana tidak ada saat Wendy membutuhkan dirinya. Mendengar itu Wendy merasa ada sesuatu yang menyentuh hatinya, sesuatu yang sangat sulit untuk Wendy jelaskan sekarang. Sedangkan Lucas masih mengeratkan pelukannya dan memejamkan matanya, dia ingin memeluk Wendy lebih lama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN