Chapter 15 : Aku tidak suka kamu

2068 Kata
Terdengar suara nyaring pertanda kalau lampu penyebrangan jalan sudah berubah menjadi hijau. Wendy mendongak dan menatap lurus ke depan. Wendy mulai melangkahkan kakinya sambil sesekali membenarkan tali tasnya yang mau jatuh itu. Wendy terdiam dan langsung menghentikan langkahnya saat melihat sosok laki-laki yang berdiri di seberang sana, di samping lampu penyebrangan jalan menatap lurus menatap Wendy. Wendy terdiam dan terus memperhatikan laki-laki itu yang tak lain adalah Lucas. Lucas mengembangkan senyumannya saat melihat Wendy menyadari kehadirannya. Lucas langsung melangkah mendekati Wendy yang berdiam diri di sana. Laki-laki itu melangkahka kakinya mendekat dan kemudian membawa Wendy ke dalam pelukannya, memeluk tubuh gadis itu erat. Wendy terkejut saat dirinya dipeluk tiba-tiba oleh Lucas seperti ini. Wendy hanya terdiam, membiarkan Lucas memeluk dirinya seperti ini. Laki-laki itu mengelus rambut Wendy pelan. "Maaf, aku baru datang sekarang." kata Lucas lirih, merasa bersalah karena datang di waktu yang tidak tepat dan merasa bersalah juga kerana tidak ada saat Wendy membutuhkan dirinya. Mendengar itu Wendy merasa ada sesuatu yang menyentuh hatinya, sesuatu yang sangat sulit untuk Wendy jelaskan sekarang. Sedangkan Lucas masih mengeratkan pelukannya dan memejamkan matanya, dia ingin memeluk Wendy lebih lama. Wendy buru-buru melepaskan pelukan mereka dan langsung melihat Lucas yang sedang menatapnya dengan tatapan sendu, setelah melihat mata Lucas. Wendy melihat ada rasa bersalah di dalam mata laki-laki itu. "Lucas?" tanya Wendy bingung. Bingung mengapa Lucas bisa berada di sini sekarang padahal seharusnya Lucas pergi bekerja. Lucas melihat lampu penyebrangan jalan akan kembali berwarna merah dan tidak menjawab panggilan dari Wendy, dengan cepat Lucas menarik tangan Wendy dan membawanya ke tepi jalan. Wendy tertarik dan mengikuti langkah kaki Lucas yang panjang seraya sesekali melirik tangan Lucas yang kini sedang mengenggam tangannya. Lucas melepaskan genggamannya saat mereka sudah sampai di seberang jalan. "Kamu ngapain di sini?" Ujar Wendy. "Aku khawatir sama kamu, kamu nangis kencang hari itu, aku yakin kamu nggak baik-baik aja." kata Lucas cemas. Wendy hanya bisa menatap laki-laki itu dengan dan menghela nafas panjang. Kenapa bisa Lucas begitu perhatian padanya sekarang. "Kamu nggak perlu sampai datang ke sini Lucas." "Aku datang ke sini karena aku ingin, dan aku suka kamu." Wendy membulatkan matanya saat Lucas mengatakan itu dengan lantang, bahkan ada beberapa orang yang langsung memperhatikan mereka karena ucapan Lucas tadi yang kelewat kencang. Wendy tidak bisa membalas perkataan Lucas, karena tidak tau ingin membalas bagaimana dan Wendy sudah terlanjur salah tingkah dengan tindakan Lucas barusan. Wendy mengusap tengkuknya dan menoleh ke kanan dan ke kiri karena salah tingkah. "Aku pergi dulu, nanti aku telat." kata Wendy cepat dan langsung berbalik lalu melangkah meninggalkan Lucas yang tetap berdiri di sana sambil terus memperhatikan Wendy. Lucas menghela nafas panjang, di dalam hatinya Lucas merasa lega karena sudah bisa menemui Wendy dan melihat kalau gadis itu sekarang sudah baik-baik saja. Lucas mendengus lalu tertawa pelan, dia sampai kabur dari kantor hanya karena ingin menemui Wendy dan memastikan keadaan gadis itu. Tapi, melihat Wendy sudah baik-baik saja membuat Lucas merasa lega dan tidak masalah jika dia harus kena omelan dari papahnya sendiri karena sudah kabur dari kantor tanpa izin dahulu. Lucas rasa, Lucas bisa menerima hukumannya. *** Benar apa yang sudah diperkirakan Lucas selama perjalanan ke kantor. Papahnya kini memanggil Lucas untuk datang ke ruangannya dan Lucas pun menyanggupi, saat sudah sampai di sana Lucas agak sedikit terkejut melihat Dirga yang tau-tau juga ada di sana sambil asik menyesap secangkir kopi. "Idihh, udah kayak di warkop kali." ledek Lucas melihat Dirga yang asik bersandar di sofa empuk yang ada di ruangan papahnya sambil menyesap kopi dengan begitu nikmat. Bisa-bisanya Dirga santai seperti ini disaat Lucas akan segera diomeli. "Idih, iri bilang." Dirga menanggapi Lucas dan malah meledek balik laki-laki itu. Lucas hanya mendengus sebal dan kembali melihat papahnya yang sedang sibuk dengan sesuatu. "Kamu mau ngopi juga Cas?" tawar papahnya tapi tatapan beliau masih tertuju pada berkas-berkas yang sedang papahnya baca. "Iya mau lah pah, masa iya Dirga doang yang minum kopi gitu." Ujar Lucas merasa iri dengan sepupunya. Lucas sesekali melirik Dirga yang sekarang malah menatapnya dengan ekspresi sombong. Dirga dan papah Lucas memang sudah sangat dekat, bahkan dulu saat mereka masih kecil Dirga lebih menempel pada papah Lucas dibanding dengan ayahnya sendiri. Maka tidak kaget kalau sekarang Dirga ada di ruangan CEO sambil minum kopi dan uncang-uncang kaki seperti ini. "Duduk, papah sekalian mau tanya sama kamu." Lucas menurut  dan memilih duduk di samping Dirga sedangkan papahnya duduk di hadapan mereka berdua. "Kamu tadi ke mana? Kok menghilang dari kantor tanpa izin pula, kerjaan kamu banyak Lucas. Kamu bukan anak kecil lagi yang suka keluyuran." "Paling abis ketemu sama cewek oom." sahut Dirga dan Lucas langsung memberikan tatapan tajam kepaa laki-laki bermulut lemes itu. Sudah seharusnya Lucas tidak menceritakan kisah cintanya kepada siapapun, terlebih kepada Dirga yang punya mulut ember. Papah Lucas yang mendengar kata 'cewek' langsung menggeleng. Tidak mungkin kalau anaknya itu hanya bolos karena ketemu sama 'cewek' yang Dirga maksud tadi. Karena Lucas tidak dekat dengan perempuan manapun. Kalau memang benar Lucas habis ketemuan sama perempuan maka Ria, istrinya harus bersorak gembira sekarang. "Jujur aja sama papah." "Tadi Lucas beli makan." Lucas mengeles, tidak mau sampai papahnya ini tau kalau dia memang benar habis bertemu dengan seorang perempuan, karena jika papahnya tau maka otomatis mamahnya juga akan tau dan kalau mamahnya tau Lucas semakin didesak untuk menikah padahal mendapatkan jawaban dari Wendy saja belum. Sudah berkali-kali Lucas bilang kalau dia menyukai Wendy dan balasan gadis itu hanya terdiam atau kadang-kadang kabur karena merasa malu. "Lo kok nggak bilang sih sekalian beli makan?" ujar Dirga agak kesal karena tadi Dirga belum sempat sarapan dan katanya akan sarapan bersama dengan Lucas, tapi ternyata laki-laki itu malah makan duluan dan tidak menunggu Dirga. "Lo kebanyakan ngopi." balas Lucas puas melihat Dirga yang langsung cemberut dengan kata-katanya barusan. Dirga haya menggeleng, "Kuat ya oom, punya anak kayak dia." "Ya kuat lah, gue ganteng, lucu, pinter." "Tapi nggak laku-laku." ceplos Dirga. "Heh ngaca! Lo pikir lo laku hah? Lo aja ditinggal mantan." balas Lucas dengan sewot. "Kok lo jadi bawa-bawa Shena?" "Kenyataan kan?" Papah Lucas hanya bisa menggeleng melihat tingkah mereka berdua dan perlahan menyeret kopi Dirga dan menyeruput kopi itu dengan tenang sambil melihat mereka berdua yang saling bertengkar hanya karena masalah 'status' mereka. *** "Makasih ya mba." "Iya sama-sama." Wendy tersenyum ramah kepada seorang pengunjung yang baru saja mengembalikan buku dari perpustakaan. Wendy melihat buku yang dikembalikan itu. Sebuah novel romansa. Dulu, saat Wendy masih usia remaja seringkali Wendy membaca dan bahkan mengoleksi novel-novel romansa yang sempat tenar pada masanya. Tapi sekarang, entah kemana buku itu pergi dan Wendy sudah tidak memiliki waktu untuk membaca buku-buku seperti itu lagi. Dulu, Wendy selalu membayangkan kehidupan yang sempurna seperti berada di sebuah novel. Hidup dalam keluarga yang sederhana, menikah dengan pujaan hati, memiliki anak-anak yang lucu, dan hidup bahagia selamanya. Tapi fiksi tetaplah fiksi. Tidak ada yang lebih indah dari itu, kenyataan di dunia nyata sangat jauh berbeda dengan yang ada di dalam novel. Wendy langsung menyimpan buku itu dan kembali berjaga, tidak ada waktu baginya untuk bersantai sambil membaca novel. "Aku datang ke sini karena aku ingin, dan aku suka kamu." Wendy langsung menggelengkan kepalanya cepat saat kata-kata Lucas barusna kembali terlintas di otaknya, tidak boleh begini. Wendy tidak boleh jatuh ke dalam hati Lucas karena itu akan membuat dirinya sakit hati. Wendy langsung menyibukkan dirinya sendiri dengan cara menyusun ulang buku-buku yang ada, dia harus melupakan kata-kata itu dan juga Lucas. Wendy tidak boleh mempunyai perasaan untuk Lucas karena jatuh cinta adalah hal yang paling sakit bagi Wendy. Wendy harus menolak Lucas, dia harus memperlakukan Lucas sama dengan laki-laki yang pernah menyatakan perasaan juga kepada Wendy. Kali ini Wendy juga harus menolak Lucas karena dia tidak mau jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya. Karena Alex, Wendy takut untuk jatuh cinta kembali. *** Lucas merasa sangat amat senang karena hari ini dia diperbolehkan pulang lebih awal, tentunya Dirga juga sama. Dirga ada janji untuk bertemu dengan gadis yang sempat dikenalkan Lucas tempo lalu dan Lucas melihat kalau perkembangan hubungan mereka berdua sangat baik. "Kalian jadi deket dong?" kata Lucas kepo dengan kencan buta yang Dirga jalankan menggantikan dirinya. Dirga tentu saja mengangguk dan dapat terlihat jelas kalau di wajahnya ini ada rasa-rasa bahagia dan semangat untuk bertemu dengan gadis itu. "Siapa namanya?" "Fania." Lucas mengangguk dan berjalan ke arah mobilnya yang sudha terparkir, sedangkan Dirga katanya akan menebeng sebentar ke lokasi, lagi-lagi Dirga sangat malas untuk membawa mobilnya sendiri. "Tumben lo mau? Biasanya lo nggak bisa pindah ke lain hati, selalu Shena yang ada di dalam hati lo, kan?" ledek Lucas begitu mereka berdua sudah berada di dalam mobil. Dirga tidak menjawab dan memilih menatap lurus ke depan. Sejujurnya, Dirga juga belum bisa melupakan Shena sepenuhnya, hati Dirga tetap tertuju pada gadis itu dan rasanya lelah jika harus memikirkan Shena terus, ditambah lagi gadis itu sudah tidak mau terlibat dengan Dirga lagi. "Ga, jangan jadiin tuh cewek pelampiasan ya." ujar Lucas dan mulai menjalankan mobil, Dirga menghela nafas panjang. Mungkin benar apa kata Lucas kalau Dirga hanya menjadikan Fania tempat untuk berlindung, berlindung dari perasaan yang seharusnya sudah pupus. Dirga tau kalau tindakannya ini sangat-sangat tidak benar, melupakan Shena dengan cara mendekati Fania. *** Lucas memarkirkan mobilnya di dekat perpustakaan di mana Wendy bekerja. Lucas belum mengirimkan pesan apa-apa ke Wendy, bilang kalau dia akan mengantarkan Wendy pulang. Lucas ingin kehadirannya ini menjadi sebuah kejutan untuk Wendy. Seharusnya sih, jam segini Wendy sudah pulang dan perpustakaan akan tutup, tapi mengapa belum ada tanda-tanda dari Wendy. Lucas terus menunggu di dalam mobil dan seketika tersenyum lebar saat melihat seorang gadis keluar dari perpustakaan. Lucas hendak turun dari mobilnya namun langsung tertahan saat melihat Wendy tidak keluar dari sana sendirian, ada Shena yang ikut di belakang Wendy. Mungkin, jika Dirga ikut bersamanya maka bisa saja laki-laki itu berlari keluar dari mobilnya dan menghampiri Shena, tapi sayang sekali Dirga sedang tidak di sini bersama Lucas. Lucas terus memperhatikan Wendy dari mobilnya, kedua gadis itu hanya diam di depan gedung perpustakaan sambil berbincang-bincang. Namun, tiba-tiba Wendy tersenyum lebar kepada Shena dan Lucas melihat senyuman Wendy itu. Saat bersama Lucas, Wendy tidak pernah tersenyum dan hanya memasang wajah datarnya. Tapi sekarang melihat Wendy tersenyum lebar seperti ini membuat Lucas sangat-sangat jatuh hati dan merasa semakin menyukai gadis itu. Wendy semakin terlihat cantik saat dia tersenyum, bahkan Lucas sampai terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa karena terpesona. Lucas pikir gadis itu adala gadis yang dingin, namun ternyata Wendy sangat ramah dan hangat. Kedua gadis itu saling berpelukan dan Shena melambaikan tangannya kepada Wendy lalu segera melangkah pergi meninggalkan Wendy sendirian di sana. Ini adalah waktu yang tepat bagi Lucas untuk keluar menemui Wendy. Tanpa basa-basi Lucas langsung turun dari mobilnya dan berlari kecil menghampiri gadis itu. "Wendy!" Gadis itu mengangkat kepalanya saat namanya dipanggil dan terkejut melihat Lucas yang lagi-lagi ada di lingkungan tempat kerjanya. Lucas tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang putih dan rapih itu. "Aku mau antar kamu pulang, yuk pulang bareng sama aku." kata Lucas menawarkan diri dan Wendy hanya terdiam melihat Lucas dengan wajah dinginnya itu. "Makasih tawarannya tapi nggak usah, aku bisa sendiri." kata Wendy sopan, namun  Lucas menjadi kecewa dengan ucapan gadis itu. "Kenapa? Aku mau antar kamu pulang." "Aku nggak mau ngerepotin kamu." "Aku nggak merasa direpotin sama kamu." Wendy menghela nafas dan kemudian mengangkat kepalanya menatap mata Lucas dengan tatapan tajam. Lucas yang merasa ditatap seperti itu langsung terdiam dan berhenti berbicara. "Aku mau ngomong sama kamu." kata Wendy. "Iya? Silahkan, aku akan dengarkan." Wendy terus melihat Lucas dan menatapnya dengan ekspresi tak suka. Kali ini dia harus melupakan Lucas, harus bisa menolak laki-laki itu dan membuat Lucas berhenti untuk suka padanya, seperti laki-laki yang lain yang pernah menyatakan perasaanya kepada Wendy. "Aku minta kamu jangan dekat-dekat aku lagi, aku nggak suka sama kamu. Dan berhenti untuk terus muncul di depan aku." kata Wendy penuh dengan penekanan. Senyum yang tadinya mengembang di wajah Lucas kini memudar secara perlahan . Lucas melihat Wendy tidak percaya kalau gadis itu akan mengatakan hal yang dapat membuat hati Lucas sakit saat mendengarnya. "T-ttapi." Lucas ingin mengatakan sesuatu tapi entah kenapa kata-kata itu tidak keluar dari mulutnya. Wendy hanya menghela nafas dan kemudian melangkahkan kakinya pergi berlalu meninggalkan Lucas yang masih berdiam diri di sana. Lucas ditinggalkan sendirian dengan rasa sakit yang terus berada di dalam hatinya. Ini pertama kalinya Lucas ditolak oleh seseorang dan entah kenapa rasanya sangat pedih, bahkan Lucas tidak sanggup untuk berbalik ke belakang hanya untuk melihat kepergian Wendy.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN