Lucas duduk di balkon apartemennya sambil menatap lurus ke depan, sudah empat jam lebih Lucas berada di luar dengan cuaca yang bisa dibilang sangat buruk. Lucas bisa masuk angin jika terus berada di sana, namun sepertinya Lucas sama sekali tidak mau masuk ke dalam dan masih betah di balkon itu.
Lucas baru saja membuat teh hangat untuk menenangkan pikiran serta hatinya. Setelah mendapat penolakan yang sangat nyata dari Wendy, rasanya Lucas merasa malu dan sedih, usaha yang dia lakukan ini berakhir sia-sia dan Lucas menganggap dirinya seperti orang bodoh. Bodoh karena masih merindukan Wendy disaat gadis itu sudah menolaknya.
Jika tau akan seperti ini dan menyakitkan seperti ini, sepertinya Lucas tidak usah jatuh cinta lagi. Sudah dua kali Lucas merasakan perihnya saat dia menyukai seseorang. Baru saja Lucas membuka hatinya dan memutuskan untuk menyukai orang lagi, namun sekarang hanyalah rasa sakit yang Lucas terima.
Lucas menghela nafas panjang, nasibnya tidak berbeda jauh dengan Dirga yang sama-sama ditolak oleh seorang perempuan, dan Lucas baru sadar kalau ternyata rasanya sesakit ini. Padahal Lucas sudah sangat yakin kalau dia bisa membuat Wendy jatuh cinta padanya, namun kenyataannya gadis itu sama sekali tidak menyukai Lucas.
Bahkan Wendy berpesan sebelum akhirnya gadis itu benar-benar pergi meninggalkannya.
"Kalau kita ketemu lagi, atau berpapasan secara nggak sengaja. Tolong, bersikaplah seperti kita tidak saling kenal."
Pisau seakan menancap tepat di jantung Lucas begitu Wendy mengatakannya, apalagi gadis itu mengatakan hal itu dengan wajah dingin seolah-olah tidak ingin Lucas bersikap baik kepadanya. Kini, Lucas tidak berani lagi meledek Dirga tentang kisah percintaannya, karena Lucas baru sadar kalau ternyata rasa sakitnya sesakit ini.
Tak jauh berbeda dengan Wendy yang juga merasakan hal yang sama, rasa sakit yang Wendy alami juga sama besarnya dengan rasa sakit yang Lucas alami. Wendy tau kalau dirinya ini menyukai Lucas dan tidak bisa membohongi perasanya sendiri, namun Wendy tidak bisa apa-apa selain menjauhi Lucas.
Jika Lucas berada di dekatnya hanya akan mendatangkan rasa sakit untuk Lucas sendiri. Wendy bukanlah gadis muda yang sedang mencari cinta sejati, tapi Wendy adalah ibu muda yang kehilangan seluruh harapan dan itu membuatnya sakit hati. Wendy sudah menikah dan memiliki anak. Jika Wendy bersikap egois dan terus mencintai Lucas, akankah Lucas mau menerima statusnya sekarang yang hanyalah seorang janda.
Wendy melihat putranya yang sudah tertidur dengan lelap dan tenang sambil memeluk guling berwarna biru kesukaan Lino. Wendy tersenyum tipis, memang sudah saatnya Wendy tidak usah memikirkan cinta yang nantinya hanya akan membuat dirinya sakit kepala. Lebih baik, Wendy memikirkan bagaimana masa depan Lino nantinya dan juga masa depan dirinya nanti.
Kedua manusia yang saling memendam perasaan itu pada dasarnya hanya saling menyakiti hati mereka masing-masing.
***
Sudah sekitar beberapa hari semenjak Wendy meminta Lucas untuk jauh-jauh dari dirinya dan Lucas benar-benar menuruti apa kata Wendy. Lucas tidak menjemput Wendy, mengajak makan malam, atau hanya sekedar melihat gadis itu di tempat kerjanya, Lucas tidak melakukan itu dan memilih untuk menuruti apa kata Wendy.
"Patah hati, bro?" Lucas melihat Dirga yang masuk tanpa izin dan main duduk di sofa ruang kerja Lucas sambil mengangkat kaki ke atas.
Lucas tidak membalas, karena merasa sangat tidak mood untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Dirga yang mungkin hanya akan membuatnya sakit kepala.
"Cinta itu emang bikin pusing, apalagi kalau semakin dipikirin. Udah deh nggak ada habisnya." Lucas hanya bisa terdiam sambil memainkan ponselnya, mendengarkan segala ceramahan Dirga.
"Lo juga gitu kan? Mikirin Shena nggak ada habisnya." Lucas mengejek Dirga. Bisa-bisanya Dirga tidak ngaca saat hendak menasehati Lucas, karena menurut Lucas, Dirga lah yang sangan bucin setengah mati dengan Shena.
"Sekarang udah enggak."
Lucas mengangkat kepalanya dan melihat Dirga. "Kenapa? Bukannya kata lo cinta itu harus diperjuangin?"
Dirga hanya tersenyum hambar dan melihat Lucas. Sepupunya itu belum tau apa-apa tentang hubungannya dengan Shena sekarang, bagaimana mereka berdua berakhir dan tembok besar apa yang membuat Dirga memutuskan untuk berhenti, Lucas belum tau. Dirga harus menjelaskannya kepada Lucas walaupun sama saja itu seperti membuka luka lama.
"Gue sama Shena udah berakhir, bener-bener berakhir." kata Dirga lirih dan Lucas yang mendengarnya merasa sangat miris dan sedih. Bukan apa, Lucas tau bagaimana Dirga mengorbankan dirinya dan mengejar Shena mati-matian semenjak gadis itu pergi dengan kata putus yang Dirga sendiri belum menyetujuinya.
"Kenapa?" Lucas penasaran. Lalu sedikit mencondongkan tubuhnya karena ingin mendengar Dirga dengan jelas.
Apa yang membuat Dirga akhirnya memutuskan untuk berhenti mengejar Shena dan melupakan gadis itu, padahal Lucas tau kalau Dirga tidak akan pernah melupakan Shena atau mungkin tidak bisa melupakan gadis itu, karena Shena terlalu berarti bagi Dirga.
"Keluarga." jawab Dirga singkat, namun Lucas sudah mengerti mengapa Dirga menjawab keluaraga.
Tentu saja, keluarga mereka berasal dari kalangan atas. Mamah Lucas berbeda dengan Lucy, mama Dirga. Tentu saja cara mereka mencari seorang mantu juga berbeda, Ria tidak terlalu mementingkan darimana mantunya berasal, namun Lucy sangat mementingkan itu. Shena bukanlah anak orang kaya. Hanya gadis lulusan SMA yang memiliki bakat menggambar dan menjadi komikus yang hebat. Walaupun sudah menjadi komikus yang hebat, tapi tetap saja Lucy tetap memandang Shena rendah karena berasal dari kalangan bawah.
Lucas menjadi merasa prihatin dan kemudian beranjak dari tempatnya dan melangkah mendekat ke arah Dirga. "Gue tau maksud lo, udah jangan dipikirin." ujar Lucas lalu duduk di sebelah Dirga dan melihat laki-laki itu tersenyum, padahal Lucas sangat tau kalau senyum itu palsu, karena Dirga menyimpan ada banyak luka di dalam matanya itu.
"Gue udah santai, gue juga ikhlasin aja. Mungkin emang gue sama Shena belum berjodoh. Bener apa kata lo dulu. Jangan mikirin pacaran kalau nggak mau pusing kepala." ujar Dirga agak terkekeh saat mengatakannya dan Lucas jadi ikut tertawa pelan.
Ya, dia ingat pernah mengatakan itu kepada Dirga, tentunya saat Lucas belum bertemu denga Wendy dan menganggap bahwa cinta itu hanya bisa bikin sakit kepala. Namun, nyatanya memnag seperti itu. Sekarang, Lucas harus merasakan sakit kepala plus ditambah sakit hati karena cintanya ditolak oleh Wendy.
"Lo kenapa sama Wendy?"
"Dia nggak suka sama gue, dan minta gue buat ngejauh dari dia."
Dirga terdiam beberapa saat lalu kemudian menyeletuk, "Cuma itu?"
"Cuma itu?" Lucas mengulang perkataan Dirga. Bisa-bisanya Dirga bilang cuma itu masalah mereka Ingin sekali rasanya Lucas melayangkan sepatunya ke kepala Dirga sampai kepala laki-laki itu bocor.
"Cas, kalau gitu Wendy masih bisa lo dapatin. Kalau dia nggak suka sama lo, ya buat dia suka, jangan nyerah kayak gini," kata Dirga dan Lucas hanya menatap ke depan, sudahlah Dirga ini memang pandai sekali dalam urusan cinta orang lain, tapi jika dalam urusan cintanya sendiri, Dirga adalah orang terbodoh di dunia.
"Kalau masalah gue beda, gue udah nggak bisa sama Shena karena emang kita nggak bisa bersatu. Tapi lo? Lo masih bisa buat dapatin Wendy, lo masih bisa buat Wendy suka sama lo. Kalau gue jadi lo, gue nggak akan di sini sekarang."
Lucas menoleh ke arah Dirga dan merasa tertampar dengan kata-kata Dirga yang jujur saja sangat memberi Lucas pencerahan. Lucas melihat Dirga yang hanya melemparkan senyuman kepada Lucas. Setelah dipikir-pikir benar apa kata Dirga, seharusnya Lucas tidak perlu bersedih dan seharusnya Lucas tidak berada di sini sekarang.
"Lo tau kan harus ke mana?" tanya Dirga melirik ke arah pintu. Lucas ikut melirik ke arah pintu dan kemudian langsung tersenyum lebar, ada secercah harapan yang muncul di dalam benak Lucas. Sudah seharusnya Lucas pergi dari sini.
Lucas berdiri dan tersenyum melihat Dirga, "Makasih Dir, gue titip kantor." kata Lucas lalu menepuk pelan pundak Dirga dan kemudian berlari meninggalkan ruangannya. Dirga mengangguk dan ikut berdiri melihat sepupunya yang langsung berlari secepat kilat, melihat bagaimana dia berlari secepat itu, pasti Lucas sangat menyukai Wendy. Dirga tersenyum dan selalu berharap kalau percintaan Lucas akan membuahkan hasil, Dirga tidak mau jika Lucas bernasib sama dengannya.
***
Wendy melihat Shena yang masih berada di perpustakaan, duduk melamun melihat keluar jendela dan membiarkan gambarnya itu masih belum selesai. Wendy langsung menghampiri Shena dan duduk di hadapan gadis itu.
"Ada apa sih?" tanya Wendy dan gadis itu langsung menatap Wendy dan kemudian menggelengkan kepalanya. "Nggak apa-apa kok mbak, lagi nyari inspirasi aja." jawab Shena dan kemudian menunduk melihat gambarnya yang belum selesai.
"Mbak Wen nggak tutup perpustakaan?"
"Gimana mau tutup kalau ada satu pengunjung yang nggak mau pulang." Shena terdiam dan langsung tertawa, "Maaf ya mbak, aku pulang nih." ujar Shena lalu segera membereskan barang-barangnya yang ada dan memasukannya ke dalam tas kecil yang sudah dia bawa sedari tadi.
Wendy mengangguk dan langsung membereskan meja bekas Shena dan kemudian langsung mengambil tasnya dan segera pergi keluar dari perpustakaan. Hari ini Wendy berniat ingin langsung pulang ke rumah dan bertemu dengan Lino.
"Mbak, aku pulang duluan ya, ada urusan soalnya. Maaf nggak bisa bareng sama mbak Wendy." kata Shena seperti sedang terburu-buru dan Wendy mengacungkan ibu jarinya dan tersenyum ke arah Shena. Gadis manis itu langsung berlari menjauh dari Wendy, sedangkan Wendy hanya tersenyum melihat kepergian Shena.
Wendy terdiam beberapa saat. Kini dia merasa kesepian lagi, tidak ada orang di sampingnya lagi. Lucas, laki-laki itu bahkan sudah menghilang setelah Wendy mengatakan kalau Wendy tiak menyukainya dan jujur saja Wendy merasa sangat kehilangan, karena biasanya Lucas akan selalu berada di perpustakaan, mengunjungi Wendy walaupun hanya lima menit karena laki-laki itu sangat sibuk, entah apa yang Lucas kerjakan.
Wendy melangkah pelan, matanya lurus ke depan namun pikirannya melayang entah ke mana. Sejujurnya, Wendy benci sendirian, dia benci saat hanya dirinya yang tidak punya teman, hanya dirinya yang selalu berjalan sendirian sedangkan orang lain berjalan bersama kekasih atau sahabat mereka, namun Wendy hanya sendirian dan rasanya sangat menyedihkan.
Jauh di dalam hatinya, Wendy sangat merindukan Lucas. Namun, tidak mungkin mereka bisa bertemu lagi. Wendy sendiri yang menciptakan jarak di antara mereka. Sesaat Wendy merasa menyesal namun sesaat kemudian dia bangga dan merasa kalau keputusannya ini tepat.
Wendy menghentikan langkahnya, lampu penyebrangan jalan masih berwarna merah. Sudah saatnya Wendy melupakan segala tentang Lucas dan yang bersangkutan dengan laki-laki itu. Wendy kembali menyadarkan dirinya dan mengangkat kepalanya menatap lurus ke depan.
Namun, tiba-tiba saja nafasnya tertahan karena melihat sosok yang seharusnya tidak ada di sana. Lucas, laki-laki tampan yang ada di pikiran Wendy itu berdiri di seberang jalan dan sedang menunggu lampu penyebrangan jalan berwana hijau juga. Wendy terdiam, apakah dirinya sekarang sedang berhalusinasi?
Wendy belum gila. Itu adalah Lucas. Lucas berdiri di seberang jalan, matanya lurus melihat Wendy yang sedang berdiri di seberang jalan juga.
Lampu berubah warna menjadi hijau dan orang-orang sudah melangkah menyebrangi jalan, sedangkan Wendy masih ragu untuk melangkahkan kakinya karena ada Lucas di sana.
"Kalau kita ketemu lagi, atau berpapasan secara nggak sengaja. Tolong, bersikaplah seperti kita tidak saling kenal."
Wendy mengingat kata-katanya sendiri dengan baik dna kemudian memberanikan diri melangkah maju dan menyebrangi jalan. Terlihat, Lucas juga menyebrangi jalan dan mereka berdua saling berpapasan. Baik Lucas dan Wendy hanya saling melewati, tidak saling menyapa bahkan Lucas tidak meliriknya sama sekali.
Wendy sudah melewati Lucas dan entah kenapa merasa sangat sedih karena laki-laki itu hanya melewati dirinya saja. Wendy menghela nafas panjang dan kemudian merasa tangan kanannya ditarik oleh seseorang. Dengan cepat Wendy berbalik dan tiba-tiba saja Lucas sudah membawa Wendy ke dalam dekapannya.
Lucas memeluk tubuh Wendy dengan erat, sedangkan Wendy hanya bisa terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa karena dirinya terkejut Lucas memeluk tubuhnya secara tiba-tiba. Beberapa saat kemudian Lucas melepaskan pelukan mereka dan menatap mata Wendy dalam-dalam.
"Aku nggak bisa, nggak bisa kalau hanya melewati kamu dan bertindak kalau kita ini seperti orang yang tidak kenal, aku nggak bisa. Aku rindu kamu." kata Lucas dengan mantap sambil memegang tangan Wendy erat-erat.
Jujur saja, Wendy terpaku dan merasa dirinya tidak bisa melawan Lucas yang sudah menatapnya dengan tatapan hangat seperti ini.
"Lucas, tapi-" Wendy mencoba untuk melawan perasaanya sendiri namun langsung terdiam saat Lucas menarik dagu Wendy dan kemudian mengecup bibir gadis itu dan setelahnya menatap Wendy.
"Kamu bilang, kamu nggak suka sama aku kan?" kata Lucas menatap mata Wendy dalam-dalam.
Wendy hanya terdiam, tidak bisa membalas perkataan Lucas karena sekarang jantungnya berdetak sangat cepat, bahkan Wendy merasa kalau mungkin saja Lucas bisa mendengar detak jantungnya.
"Kalau kamu nggak suka sama aku, akan aku buat kamu suka sama aku. Dengan caraku." kata Lucas mantap dan Wendy langsung terdiam mendengarnya. Belum pernah dia melihat laki-laki seperti Lucas yang sangat bersungguh-sungguh dengannya seperti ini.
Wendy merasa, dirinya kini sudah sangat mencintai Lucas.