Chapter 17 : Bimbang

1835 Kata
Wendy menghela nafas panjang dan kemudian merasa tangan kanannya ditarik oleh seseorang. Dengan cepat Wendy berbalik dan tiba-tiba saja Lucas sudah membawa Wendy ke dalam dekapannya. Lucas memeluk tubuh Wendy dengan erat, sedangkan Wendy hanya bisa terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa karena dirinya terkejut Lucas memeluk tubuhnya secara tiba-tiba. Beberapa saat kemudian Lucas melepaskan pelukan mereka dan menatap mata Wendy dalam-dalam. "Aku nggak bisa, nggak bisa kalau hanya melewati kamu dan bertindak kalau kita ini seperti orang yang tidak kenal, aku nggak bisa. Aku rindu kamu." kata Lucas dengan mantap sambil memegang tangan Wendy erat-erat. Jujur saja, Wendy terpaku dan merasa dirinya tidak bisa melawan Lucas yang sudah menatapnya dengan tatapan hangat seperti ini. "Lucas, tapi-" Wendy mencoba untuk melawan perasaanya sendiri namun langsung terdiam saat Lucas menarik dagu Wendy dan kemudian mengecup bibir gadis itu dan setelahnya menatap Wendy. "Kamu bilang, kamu nggak suka sama aku kan?" kata Lucas menatap mata Wendy dalam-dalam. Wendy hanya terdiam, tidak bisa membalas perkataan Lucas karena sekarang jantungnya berdetak sangat cepat, bahkan Wendy merasa kalau mungkin saja Lucas bisa mendengar detak jantungnya. "Kalau kamu nggak suka sama aku, akan aku buat kamu suka sama aku. Dengan caraku." kata Lucas mantap dan Wendy langsung terdiam mendengarnya. Belum pernah dia melihat laki-laki seperti Lucas yang sangat bersungguh-sungguh dengannya seperti ini. Wendy merasakan sinyal bahaya yang ada di dalam dirinya, bahaya karena sepertinya Wendy sudah jatuh lebih dalam kepada perasaanya sendiri. Mendadak, Wendy menjadi tidak mau Lucas jauh darinya dan mulai memandang Lucas dengan tatapan yang berbeda. Wendy menggelengkan kepalanya pelan dan langsung kembali menatap Lucas dengan tatapan tajamnya, "Nggak! Kamu nggak boleh." Wendy mengatakan itu dengan lantang dan mundur beberapa langkah dari Lucas. "Aku peringatkan kamu sekali lagi, aku nggak suka sama kamu Lucas. Tolong jangan dekat-dekat aku lagi." Ujar Wendy lalu melirik lampu penyebrangan jalan yang akan kembali  berwarne merah. Dengan cepat, Wendy melangkah meninggalkan Lucas dan bahkan berlari kecil untuk menghindari laki-laki itu. Wendy berlari dengan perasaan yang sangat sedih dan juga terluka. Wendy sadar kalau Wendy sangat mencintai Lucas dan sadar juga kalau sangat menyakitkan baginya untuk melepaskam Lucas dan membiarkan laki-laki itu pergi. Namun, Wendy berpikir kalau mereka tidak ditakdirkan bersama, mereka tidak ditakdirkan untuk menjadi satu, Wendy bukanlah untuk Lucas dan Lucas bukanlah untuk Wendy. Wendy sangat sadar diri akan hal itu. *** Memikirkan cinta memang hal yang paling sulit. Dirga sudah berkali-kali untuk memaksakan dirinya untuk menjauhi Shena karena seharusnya mereka tidak bersama, tapi di dalam hati Dirga, dia sangat menunggu Shena kembali dan berharap hubungan mereka bisa diperbaiki. Bisa dikatakan Dirga sangat b******k, karena sekarang dirinya sedang menunggu Fania, seseorang yang dia kenal lewat Lucas. Dirga memilih untuk melanjutkan kencan buta yang Lucas oper kepada dirinya hanya untuk melupakan Shena. Jahat memang, namun tidak ada cara lain bagi Dirga untuk melupakan Shena. "Dirga?" Dirga langsung tersadar dan mendongak melihat Fania yang sudah duduk di hadapannya sedang melihat Dirga yang terus melamun.  "Ya?" Dirga langsung tersenyum dan merasa malu karena sudah tertangkap basah sedang memalun oleh Fania. "Ada masalah? Atau-" "Nggak kok, aku baik-baik aja. Tadi, agak pusing aja." "Pusing?" raut wajah Fania langsung berubah dan kemudian gadis itu beranjak dari duduknya dan melangkah mendekat ke arah Dirga dan langsung menempelkan punggung tangannya di dahi Dirga. Hal itu tentu saja membuat Dirga langsung menahan nafasnya karena pergerakan Fania secara tiba-tiba. Dirga memandang wajah gadis itu yang memang cantik. Dirga tidak bohong kalau Fania memang benar-benar sangat cantik. "Badan kamu nggak panas." Fania melepaskan tangannya dan menatap Dirga dengan tatapan heran, "Tapi seharusnya kamu nggak ada di sini, seharusnya kamu ada di rumah dan istirahat," Dirga langsung tertawa dan menggeleng pelan, "Haha, nggak usah. Aku kan udah janji sama kamu." kata Dirga dan Fania langsung menggeleng, "Janjinya bisa ditepatin kapan-kapan aja ya? Sekarang kamu harus pulang dan istirahat." kata Fania lagi dan kemudian hendak beranjak dari duduknya dan dengan cepat Dirga langsung menahan tangan gadis itu. "Mau ke mana?" tanya Dirga. "Mau antar kamu pulang. Nggak mungkin kamu bawa mobil sendirian kan?" Dirga menghela nafasnya dan ikut beranjak dari tempat duduknya, melihat Fania sebentar lalu langsung mengembangkan senyumnya. "Besok-besok kita harus jalan, oke?" Fania ikut tersenyum dan kemudian mengangguk. "Oke." jawabnya menyetujui apa kata Dirga. Tiba-tiba saja Dirga mengacungkan jari kelingkingnya dan melihat Fania yang tampak bingung dengan jari kelingking itu. Melihat Fania yang bingung, Dirga langsung menahan tawanya dan kemudian meraih tangan Fania dan mengaitkan jari kelingking Fania dengan jari kelingkingnya. Fania tersenyum saat jari kelingking mereka bersatu dan melihat Dirga yang tersenyum sambil melihat jari kelingking mereka. "Kita harus janji, seperti ini contohnya." Ujar Dirga sambil terus memandangi jari kelingking mereka. Fania mengangguk, "Oke, janji seperti ini supaya kita nggak bisa mengingkar janji itu." Dirga mengangkat kepalanya dan menatap Fania yang sekarang sedang tersenyum ke arahnya. Fania tersenyum semakin lebar saat laki-laki itu menatap matanya. Dirga menghela nafas panjang dan melepaskan kaitan jari kelingking mereka. "Yaudah, kamu serius mau antar aku pulang?" Tanya Dirga ingin memastikan kembali apakah Fania serius akan mengantarnya pulang. Gadis itu mengangguk dengan semangat dan itu membuat Dirga tersenyum. "Okee." "Ayo." Fania melangkah lebih dulu dan Dirga mengikutinya dari belakang. Dirga merasakan memang sepertinya dia perlu istirahat karena tiba-tiba saja kepalanya jadi pusing saat kembali memikirkan Shena. Tringg!! Pintu kafe terbuka dan Dirga langsung menghentikan langkahnya ketika melihat seorang gadis dengan pakaian serba hitam masuk ke dalam dan langkahnya juga terhenti saat tanpa sengaja dia melihat Dirga. Gadis itu adalah Shena. Fania yang merasa bahwa Dirga tidak mengikutinya lagi langsung ikut berhenti dan menoleh ke belakang, melihat Dirga yang sepertinya terkejut akan sesuatu. "Dirga?" Fania memanggilnya namun Dirga tak mendengar, tatapannya kini hanya fokus kepada Shena. Shena sendiri langsung melirik Fania yang ada di depannya begitu gadis itu memanggil Dirga. Ada banyak pertanyaan yang masuk di dalam kepala Shena begitu Fania memanggil nama Dirga. "Dirga, heii!" Dirga langsung tersadar dan melihat ke arah Fania yang menatapnya dengan tatapan heran. "Kamu makin nggak enak badan ya? Kita harus buru-buru pulang kalau kayak gitu." Dirga menggelengkan kepalanya dan kemudian langsung menarik tangan Fania untuk lebih mendekat kepadanya. Dan tiba-tiba saja Dirga merangkul pinggang Fania dan menarik gadis itu lebih dekat. Fania menahan nafas nya saat tiba-tiba saja dirinya ditarik mendekat ke arah Dirga. "Lebih baik kalau kita berjalan seperti ini." Katanya lalu menoleh ke arah Fania. Fania semakin menahan nafasnya karena saat Dirga menolehkan wajahnya ke arah Fania, jarak wajah mereka semakin dekat. Dirga segera melangkah sambil terus merangkul pinggang Fania dan melewatkan Shena begitu saja. Shena yang merasa dirinya diabaikan oleh Dirga hanya terdiam dan merasakan sakit di dalam hatinya ketika Dirga sudah menggandeng wanita lain tepat di hadapannya. Tentu saja Shena sangat merasakan rasa sakit di dalam hatinya. Ternyata, bisa secepat itu Dirga melupakan dirinya dan sudah menggandeng wanita lain. Tidak jauh berbeda dengan Shena. Dirga langsung merasakan tubuhnya lemas saat keluar dari kafe bahkan harus sampai dituntun oleh Fania ke dalam mobil. "Kamu tidur aja, aku antar kamu pulang. Sekarang, di mana rumah kamu?" "Di apartemen Green Light." ujar Dirga menatap lurus ke depan dan rasanya tubuhnya juga sudah semakin lemas. "Green Light?" tanya Fania lagi untuk memastikan dan Dirga mengangguk. Fania mengembangkan senyumannya dan kemudian langsung duduk tegap di kursi kemudi, "Aku akan antar kamu ke sana, kalau kamu mau tidur dulu, silahkan." ujar Fania dan dijawab dengan anggukan kepala Dirga. Dirga menyandarkan kepalanya dan langsung meghela nafas panjang. Entah kenapa dirinya turut ikut merasakan sakit hati saat Shena melihatnya dengan Fania. Dirga berpikir apa mungkin Shena merasakan sakit hati atau malah sangat bersyukur melihat Dirga yang sedang bersama gadis lain. Dirga berharap bahwa Shena merasakan sakit hati melihatnya dengan Fania, karena itu tandanya Shena masih menyimpan rasa dengan Dirga. Tapi, jika dipikir-pikir kembali, sepertinya Shena tidak mungkin merasa sakit hati dan lebih bersyukur atas kejadian ini. Shena pasti merasa sangat bahagia melihat Dirga dengan Fania. Dan jujur saja itu membuat Dirga merasa tak nyaman. *** Lucas bisa merasakan kalau ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya. Lucas merasa ada dua orang berbeda di dalam dirinya. Satu orang yang ingin tetap meneruskan hubungannya dengan Wendy dan tidak akan pernah menyerah, dan satu orang lagi ingin menyerah dan mundur di dalam hidup serta melupakan Wendy. Lucas merasakan hal itu sekarang dan jujur saja utu membuatnya seperti orang gila. Lucas bingung ingin mengikuti kata hatinya yang mana. Lcucas langsung menoleh ke arah pintu apartemen Dirga saat mendengar suara pintu dibuka dan benar saja Dirga datang sambil dipapah oleh seorang gadis yang tampak tak asing bagi Lucas. "Ada apa ini?" tanya Lucas dan iku memapah tubuh Dirga. "Tadi dia nggak enak badan di kafe, dan aku nawarin dia pulang." Lucas menoleh melihat Dirga yang sudah sangat lemas, padahal sepertinya laki-laki itu baik-baik saja tadi, tapi kenapa sekarang menjadi lemah tak berdaya seperti ini. "Oke, makasih banyak udah bawa dia ke sini." Kini tubuh Dirga sudah dipapah Lucas sepenuhnya dan Lucas menuju kamar Dirga untuk membaringkan tubuh laki-laki itu agar Dirga dapat beristirahat.  Gadis yang Lucas tak tau namanya itu ikut membantu dan menyelimuti Dirga ketika laki-laki itu sudah terbaring di ranjang. "Makasih." kata Lucas dan gadis itu mengangguk. "Apa kamu Lucas?" tanyanya dan Lucas mengangguk sekaligus bingung mengapa gadis itu dapat mengetahui namanya. "Kok kamu bisa tau nama-" "Aku Fania, yang seharusnya jadi teman kencan buta kamu tapi malah Dirga yang datang." katanya dan Lucas langsung mengangguk. Pantas saja dia merasa tidak asing dengan wajah gadis ini ternyata oh ternyata dia adalah orang yang seharusnya menjadi pasangan Lucas di kencan buta. "Aku minta maaf karena tidak datang dan malah Dirga yang datang." "Nggak apa-apa, nggak masalah. Dirga juga laki-laki yang baik dan menyenangkan." Lucas mengangguk dan melirik Dirga yang mungkin sekarang sudah terlelap. "Aku akan kasih tau kamu yang mengantar dia kalau dia sudah bangun." "Nggak usah, Dirga sepertinya butuh istirahat yang cukup, dia melamun terus tadi." Lucas melihat Dirga dan kemudian mengangguk. Hobi kedua Dirga selain memikirkan Shena adalah melamun dan tentu saja hobi keduanya ini tidak bisa lepas dari hobi pertama karena pasti Dirga pun melamun sambil memikirkan Shena. "Oke, makasih banyak kamu udah bawa dia ke sini, mungkin bisa aja dia pingsan di jalan atau bakal kecelakaan kalau Dirga pulang sendirian." Fania mengangguk dan kemudian tersenyum. "Aku pulang dulu kalau begitu, tolong jaga dia baik-baik ya." Lucas mengangguk seolah-olah mengatakan kalau dia akan mengurus Dirga dengan baik. Fania melangkah keluar kamar Dirga tentunya dengan Lucas yang mengikuti dari belakang, "Kamu mau aku antar?" Lucas menawarkan diri namun langsung dijawab dengan gelengan kepala dari Fania. "Nggak usah, aku bisa pulang sendiri kok." katanya ramah dan Lucas hanya mengangguk. Lucas berdiri tepat di depan pintu apartemen Dirga dan tersenyum melihat Fania. "Makasih sekali lagi." kata Lucas dan Fania mengangguk. "Sama-sama." jawabnya dengan senyuman ramah dan langsung melangkah pergi meninggalkan Lucas. Lucas meghela nafas dan langsung menutup pintu, mungkin untuk saat ini lebih baik Lucas tidak menceritakan apapun kepada Dirga karena Lucas yakin laki-laki itu sedang tidak baik-baik saja sekarang. Lucas merasa bahwa dia harus menyimpan semua ceritanya ini sendirian dan masih belum tau ingin mengikuti kata hatinya yang mana. Haruskah dia mengejar Wendy, atau haruskah dia meninggalkan Wendy.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN