Ya ampun! Ada-ada saja suamiku ini. Aku mencebik kesal mendengar bagaimana dia membuat perumpamaan belum lama ini. "Emang, nggak ada gitu istilah yang lebih layak daripada sawah sama cangkul?" Aku menggerutu kesal saat menatap suamiku yang terlihat sangat puas setelah menyamakan aku dengan sawah. Mas Aryan menyemburkan tawa melihat ekspresi tak suka yang kutunjukkan saat menatap wajahnya. "Mau disamain sama apa emang? Bunga dan kumbang? Atau … bunga dan tangkai? Itu udah biasa banget soalnya," balasnya seraya mengibaskan tangan, rona merah pasca melepas tawa masih tersisa di wajah tampan suamiku. "Tau, ah." Aku menatap wajah kakak Dimas dan Denis sambil bermasam muka ketika tanganku menyambar selimut. Mas Aryan tercenung saat aku meraih selimut dan menutup tubuh yang hampir sepenuhnya

