Bibir mama mertua terkatup rapat dengan sepasang matanya menatap nanar saat berjalan menuju pintu ruang tamu dan di depannya berdiri seorang dari masa lalu beliau—Tuan Anggara Aditama. "Mau apa ke sini, hah?" Mama mertua melengkingkan suara saat pandangannya beradu dengan papa Mela. Tuan Anggara hanya menggeleng dengan wajah yang terlihat sendu. "Aku ke sini hanya ingin meminta maaf padamu, Airin." Tuan Anggara berucap dengan suara parau. Aku tak tahu sejak kapan beliau menahan sesak dalam d**a. Namun, yang pasti raut penuh penyesalan dan kesedihan tergambar jelas di wajah pria paruh baya yang berdiri di hadapanku dan mama mertua. "Setelah 29 tahun, baru sekarang kau memutuskan untuk meminta maaf? Itu pun setelah anakmu lolos dari jerat hukum atas kebaikan menantuku, bukan?" Mama mence

